Selasa, 01 Juli 2014

TENTANG HARI INI

TENTANG HARI INI
Cerpen Karya Wahyu Susanto

Badanku kakuh, rasanya sangat pegal ketika kedua bola mataku masih sangat sulit kubuka, dan beranjak aku menutup kembali mataku untuk melanjudkan tidurku. Matahari sudah sangat terik, ayam tak lagi berkokok yang artinya hari sudah sangat siang, padahal hari ini aku harus bangun pukul 7 (tujug) pagi untuk segera kekampus. Setelah lama kuberbaring tidak jelas ditempatku mengadu nasip dikala malam yang sepi, aku sangat kaget yang ternyata jam telah menunjukkan pukul 9 (Sembilan), ternyata sudah sangat siang. Akupun segera bergegas untuk mandi lalu kekampus.

Taksempat kusarapan dirumah, hanya meneguk segelas air putih dan bergegas memacu kuda besiku menuju kampus. Suasana dijalan sudah sangat ramai, apa lagi jalan A P Pettarani yang selalu dan selalu macet dipenuhi kendaraan bermotor, belum lagi debu yang menampar wajahku, tadinya aku sudah merasa seperti vino g bastian disaat setelah mandi, setelah sampai kampus aku merasa seperti tukang batu akibat debu yang menghantam wajahku.
Sesampainya dikampus, aku bergegas menuju ruangan tempatku kuliah, namun semua ruangan sudah kutengok, yang terisi hanya mahasiswa lain dan ruangan yang gelap tanpa mahasiswa. Namu, aku dikejutkan oleh salah satu temanku yang mengikuti kuliah diruangan yang kutengok, ia lalu menghampiriku keluar ruangan dan bertanya ‘’mengapa kamu tidak masuk mata kuliah ini’’ jawabku, untuk mata kuliah ini aku masuk hari kamis pukul 8 (delapan) pagi. Lalu temanku bertanya kembali, ‘’memangnya ini mata kuliah apa’’ aku tertawa terbahak-bahak ketika ia menanyakan mengenai nama mata kuliah ini, padahal ini sudah pertemuan yang ke 6, artinya ini sudah minggu ke 6 perkuliahan telah dilaksanakan namun temanku belum mengetahui apa mata kuliah ini, jam berapa ia masuk kuliah, hari apa ia masuk untuk mata kuliah ini. Akhirnya ia bergegas masuk keruangan untuk mengambil ransel miliknya dan melapor kepada dosen agar ia masuk besok saja.

Lama aku mencari dosen yang mengajarku untuk hari ini, namun tak kutemui dengan alasan yang tidak pasti, aku mencari dibagian belakang kampus tempat sidosen bersantai, namun sama saja dosenku tak terlihat, setelah dosen tak kutemui aku bergegas kedepan guna mencari temanku yang lain. Hari ini sungguh berat terasa, aku sudh terlambat kekampus, namun dosen tak ada diruangan perkuliahan, ditambah ujianku pada pukul 1 (satu) siang yang menentukan nilai MID pada mata kuliah ini. Masalah terberat pada ujianku ini, jatuh pada gayaku memakai bahasa inggris, aku sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata menggunakan bahasa inggris. Walaupun telah kupelajari tetap saja terasa kaku, apa lagi kosa kata yang sulit diucapkan membuat lidahku terlipat-lipat.

Tibalah pukul 1 (satu), dosen belum menampakkan batang higungnya di kampus, namun catata bahasa inggris yang berada dalam sakuku untuk presentasi hilang entah kemana. Terasa sangat bingung, apa yang harus kulakukan, dan kuputuskan untuk pulang kerumah untuk mengambil bahan presentasiku dileptop. Sesampainya dirumah aku segera mengampil file tersebut dan memindahkanya di fleshdisk, walaupun aku sudah pulang kerumah, dan memacu kendaraan sekencang mungkin, ditambah teriknya mata hari, tetap saja terasa sial. Dosen sudah berada dalam ruangan, terlihat beberapa mahasiswa yang terlambat hanya pasrah didepan ruangan tempatku presentasi. Aku menyapa mahasiswa yang terlambat, knp kamu tidak masuk, tanyakau?, “saya terlambat dan tidak akan bisa diperbolehkan masuk, artinya nilai kita eror untuk semester ini”.

Sangat sulit kuterima, namun semua sudah terjadi. Sang dosen sangat konsisten dengan keputusanya yang tidak memasukan kami kedalam ruangan karna terlambat, kejam namu semua sudah menjadi kesepakatan, minggu lalu saat mengikuti kuliah, dosen sempat mengeluarkan peraturan agar minggu depan disaat presentasi harus tepat waktu, pakaian harus rapi, baju kemeja putih, celana kain hitam, sepatu kantor, jas, serta dasi yang harus dikenakan saat presentasi minggu depan dan itu disepakati oleh semua mahasiswa. sedangkan bagi mahasiswa putri, harus mengenakan rok panjang, baju kemeja putih, jas dan hi heels.

Terheranlah aku diluar ruangan melihat temanku sibuk dengan bahan presentasi mereka yang dihafalkan, semua mahasiswa yang akan presentasi keluar ruangan guna menunggu antrian melakukan presentasi didepan dosen. Sempat aku ngobrol dengan temanku yang akan presentasi, dia bilang kalau aku akan presentasi, namun aku terlambat, “cepat ganti pakaianmu yang rapi, karna sebentar kamu akan presentasi, tadi pada saat kamu belum hadir didalam ruangan, aku sempat mengatakan kalau kamu sedang mengganti pakaian pada saat namamu disebutkan diabsen” kata temanku, selamatlah aku namun bahan presentasi belum kuhapal dan kukuasai.

Satu persatu temanku dipanggil untuk presentasi menurut absen, tetapi setelah presentasi dan keluar ruangan, ada yang menunjukkan wajah gembira dan lesuh, ada yang diterima namun ada yang tidak diterima. Itulah suatu kebijakan yang ada setiap ujian, jika lulus sangat bahagia, dan jika gagal hanya rasa kecewa dan binggung.

Tibalah giliranku untuk presentasi, memasuki ruangan jantung berdebar-debar, dosen yang duduk manis sudah menyiapkan pertanyaan bagi saya, dan aku duduk disebelahnya sembari jantung terasa mau copot. Temanku lebih dulu presentasi didepan, setiap mahasiswa yang presentasi harus berdua didalam ruangan guna mengontrol power poin. Hal yang sangat kutakuti jika kata pembukaku tidak jelas dalam bahasa inggris, dan terbukti ketika giliranku presentasi. Badanku gugup, suaraku terbata-bata, kertas bahan presentasiku kupegang dengan gemetaran, dan kata pembuka yang kukeluarkan sungguh tidak jelas. Memasuki poin ketiga sang dosen mengeluarkan satu kata, yaitu CUT !!!, akupun berhenti sejenak, lalu dosen bertanya kepadaku “why are you not speaking clearly ?, What's with you, if you do not learn the material that I have been given? " namun aku hanya terdiam tak tau apa yang ia bicarakan. Kemudian dosen menggunakan bahasa indonesia agar aku mengerti, setelah dinasehati keputusan dosen saya tidak lulus untuk ujian ini.

Sedikit kecewa namun itulah hasil yang patut kudapatkan, kata pembuka saja tidak jelas, ditambah power poin belum kelar penjelasanya, namun aku sudah di cut. Sungguh berat cobaan untuk hari ini, mungkin aku yang teledor atau aku yang malas pelajari bahan yang telah kubuat sendiri, disaat temanku sibuk menghapal aku hanya bercanda dan santai. Mungkin ini ganjaran yang harus kuterima, namun begitu syukur terasa ketika sang dosen mengumumkan bahwa akan ada susulan diakhir final nanti. Aku dan mahasiswa yang tidak lulus masih diberi kesempatan untuk presentasi, dan ini kesempatan buatku untuk bisa melolosi mata kuliah ini. Seniorku saja masih banyak yang belum lulus dimata kuliah ini, sudah lama menjadi mahasiswa namun hanya matakuliah ini yang sangat susah dilolosi.

Namun aku tidak boleh menyerah, aku akan terus berlatih untuk bisa lolos dimata kuliah ini. Mumpung masih ada kesempatan aku akan manfaatkan semaksimal mungkin, dan diakhir fainal nanti harapan saya hanya bisa lolos pada sesi ini untuk bisa melanjutkan matakuliah yang lain.

PROFIL PENULIS
Nama saya Wahyu Susanto yang akrab dipanggil wahyu, saya anak ke 5 dari 7 bersaudara dan tinggal dijalan Drs h hasan NO 45E MAKASSAR. Saya lahir di MAKASSAR 21 maret 1991 dan menhadi seorang mahasiswa pada tahun 2011 di Universitas fajar jurusan komunikasi dan konsentrasi jurnalistik. Hoby saya penikmat musik undeground, dan bercita-cita menjadi seorang jurnalistik investigasi.

SERAGAM LUSUH

SERAGAM LUSUH
Karya Uum Umayah

Semua orang, tua-muda, tahu dengan panggilan si Didin, dekil dan item. Tapi aku tak mempermasalahkan hal itu, karena pada kenyataannya aku adalah anak kampung yang dekil dan item. Siti Kakaku satu-satunya, yang sekarang duduk dibangku sekolah dasar kelas 6 SD. Kami tinggal di daerah terpencil dalam pedesaan. dan kami terlahir tidak jauh berbeda sehingga kami dilahirkan dengan jarak yang sangat dekat, sekarang aku kelas 5 SD. 
 
Hanya saja, setiap kali berangkat sekolah di tahun ini tidak sama. Terkadang aku berangkat sekolah pada pagi hari, terkadang pula siang hari. Begitu pun Kakaku Siti. Sekolahku yang membuat kami jadi bergonta-ganti jadwal masuk, karena sekolahku sedang mengalami renovasi akibat badai topan dimalam hari. Namun akan ku ukir semua perjalanan ini menjadi perjuanganku dimasa mudaku.
“Ayo..bangun sit, ini sudah siang. Mau berangkat jam berapa kamu?” Ujar Ibu sambil membereskan baju yang akan dikenakan Kak Siti.
Sementara aku, sedang mengupas Kelapa, untuk membuat serabi yang akan Ibu jual. “Din, jangan lupa juga parutkan Kelapanya ya!.” “Iya.. Bu.” Jawab Didin.
 
Waktu menandakan pukul dua belas. “Kak siti belum juga pulang.” Masalah besar untukku. Setiap ingin berangkat sekolah, kami selalu tukar baju “di warung mang Sayuti.” Seragam lusuh satu-satunya yang kami punya. Dan kami tak mau ketinggalan untuk sekolah.
“Aku, berlari tergesa-gesa sambil menenteng sepatu.” “Aduhh,, Kak Siti di mana nih?. Ujar Didin dalam hati sambil menatap arah jalan yang biasa dilewati Kak Siti.

Tiba-tiba Siti datang dengan baju yang basah dan kotor dari arah yang biasa ia lewati.
“Kakak...??”
“Didin.. maaf, Kakak telat.” Ujar Siti sambil melepaskan bajunya.
“Kok Kakak lama sekali pulangnya?”
“Ya.. Kakak minta maaf, Kakak tadi ada jam tambahan.” “Din, hari ini, kamu tidak usah sekolah ya?”
“Kenapa Kak?” Tanya Didin, sambil menunjukan muka yang amat kebingungan.
“Soalnya.. bajunya kena air kotor tadi.” jawab Siti. “Tadi teman Kakak ada yang jail, akhirnya kena baju ini.” Siti menjelaskan kembali.

Baju yang biasa dipakai Didin dan Siti hanya satu-satunya yang kami punya. Kami tak mau menyusahkan ibu dengan penuh beban. Makanya kami selalu bergantian mengenakan seragam lusuh ini.
“Tidak!, aku mau tetap sekolah Kak.” Jawab Didin tegas sambil menunjukan mukanya yang sedikit sedih.
“Tapi, baju ini kotor Din.” Nanti kamu dimarahin sama Bu Musri.! “sudah, lebih baik kita pulang kerumah, biar Kakak cuci baju ini!.” Cecar Siti.
“Gak mau Kak, didin mau sekolah!.” “Nanti Didin dimarahin Bu Mus Kak, Didin sudah sering tidak masuk.” Didin tetap ngeyel untuk masuk sekolah.
“Mmm..ya sudah, kamu pakai baju ini. Sekarang kamu pergi sekolah, cepat nanti kamu terlambat lagi.” Hati-hati yaa..?
“Iya, Kak.” Didin senang karena ia bisa sekolah, meski bajunya sangat kotor. Setiba disekolah, Didin hatinya ternganga karena berlari-lari yang mengejar waktu. Dengan bajunya yang kotor, lusuh, dan sedikit basah karena air kotor tadi. Didin tetap masuk menuju ruang kelasnya. Didin tak mau telat masuk sekolah, karena setiap ia telat maka Bu Mus tidak akan mengizinkan masuk. Sudah sering ia terlambat karena menunggu Kak Siti yang belum juga pulang. Karena baju seragam yang dipakai Kak Siti juga dipakai Didin untuk sekolah. Malang memang nasib kami, jangankan untuk membeli baju seragam yang baru. Untuk makan sehari-hari pun kami harus kekurangan. Ibu yang menjadi seorang penjual serabi, tak setiap hari ia berjualan karena harus kehabisan modal untuk membeli kebutuhan yang lain. Belum lagi para tetangga yang mengutang serabi Ibu. Ibu tak kuasa menolak, karena Ibu sangat kasihan melihat tetangganya yang harus kelaparan karena tidak punya uang untuk membeli makanan.
“Didin.. kenapa kamu telat lagi? Dan kenapa baju kamu kotor seperti itu?” tanya Bu Mus.
“Mm.. maa.. maaf Bu, tadi Didin jatuh dan kepleset di jalan sana.” Jawab Didin, dengan wajah yang amat ketakutan.
Aku sengaja berbohong, karena aku tak mau orang lain tahu dengan baju yang selama ini aku pakai. Biarkan ini menjadi rahasia aku dan Kak Siti. Aku juga sengaja berbohong pada Bu Mus. Agar Bu Mus mau percaya padaku dan tidak lagi mengeluarkan aku dari ruang kelas, karena ulahku yang hampir setiap hari membuat Bu Mus kesal melihatnya. Perjuangan kami untuk terus sekolah begitu semangat. Hingga aku ingin melanjutkan di perguruan tinggi setelah aku tamat sekolah.

Sekolah SMP dan SMA sudah kulewati, hanya Kak Siti yang tamat hingga SMP saja. Kami sebenarnya mendapatkan beasiswa akan tetapi Kak Siti memilih untuk mengurus Ibu dirumah karena umur Ibu sudah tidak muda lagi.
“Bu aku ingin masuk ke perguruan tinggi!.” Ujar Didin.
“Memangnya kamu dapat uang dari mana Din?.” “Biaya kuliah itu mahal lho Din.. kamu mampu membayarnya?” Tiba-tiba Siti mencela.

Iya nak.. “Ibu sudah tidak mungkin untuk membiayai kalian sekolah.” “Ibu tak punya apa-apa lagi nak.” Jawab Ibu.
“Tapi Bu, Didin ingin tetap kuliah, karena Didin mau meneruskan cita-cita Didin bu!.” Tegas Didin kembali.

Ya sudah.. “kamu boleh saja kuliah.” “Dan kejar cita-citamu itu. tapi ingat.!! jangan kamu menyusahkan Ibu!.” Siti ketus menjelaskan.
“Kakak dan Ibu tenang saja, Didin tidak akan menyusahkan kalian.” “Bu, Didin mohon maaf kalau selama ini, Didin terlalu banyak menyusahkan Ibu.” “Dan sekarang Didin akan pergi dari rumah ini.” “Aku akan pergi ke Serang untuk kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Bu.” “Aku mendapatkan Beasiswa di sana”
“Memangnya kamu siap pergi kesana?” tanya Siti kembali
“Insya Allah Kak.. aku siap untuk kuliah di sana!.” Ujar Didin dengan tegas dan penuh keyakinan.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba untuk Didin pergi ke Serang, barang-barang dan baju yang ia butuhkan sudah dikemas rapi di dalam kopor. Setelah shalat subuh Didin berangkat ke stasiun menunggu kereta api. Namun sebelum itu, Didin menemui kak Siti dan Ibunya untuk pamitan.
“Ibu, Kak Siti, Didin sekarang mau pergi ke Serang.” “Aku mohon Bu.” “Izinkan Didin untuk melangkahkan kaki ini, untuk mengejar apa yang Didin cita-citakan.” Didin meminta izin kepada Ibu dan kakaknya sambil meneteskan air matanya yang membanjiri kedua pipinya.
“Baiklah anakku.. Ibu izinkan kamu pergi ke sana.” “Kejarlah cita-citamu nak.” “Semoga engkau menjadi penerus bangsa yang jujur dan bijaksana.”
“Terimakasih Ibu.. Didin akan selalu ingat dengan kata-kata Ibu.” “Didin hanya minta satu hal sama Ibu, Do’akan Didin Bu.” “Agar aku bisa mewujudkan cita-citaku, untuk menjadi orang yang bisa menolong rakyat kita dari kemiskinan ini.”
Didin senang karena tak disangka ia telah mendapat restu dari Ibunya. Didin selalu menghormati keputusan yang diucapkan sang Ibu. Didin selalu menganggap Ibu adalah berlian permata yang dimiliki sepanjang hidupnya.
 
PROFIL PENULIS
Uum Umayah, lahir pada tanggal 01 juli 1993 di Serang Banten. lulus SMA tahun 2011 dan sekarang menempuh jenjang S1 di perguruan tinggi favoritku di Banten. cita-citanya ingin menjadi pendidik profesional dan seorang penulis.
alamat facebook Uum Umayah atau Umy Arridho atau uumayah85@yahoo.co.id

Diam

DIAM
Karya Wika G Wulandari

“Selamat pagi anak-anak.” Laki-laki tua yang dibalut kemeja kotak-kotak itu menyapa kami yang tampak bodoh dengan seragam putih abu-abu. Senyum sumringah terlihat begitu menawan didepan papan tulis putih bisu.
“Kalian tahu kan? Hari ini kita kedatangan Mentri Pendidikan?” dia bertanya, masih dengan sumringahnya.

Kami tidak menjawab, hanya mengangguk. Hari itu, hanya kelas kami yang begitu dibedakan. Bagaimana tidak? Hari itu hari rabu dan kami seharusnya mengenakan pakaian batik bukannya seragam putih abu-abu yang baru kucuci kemarin. Kami juga dibedakan karena kami yang paling pintar. Pemikiran yang menyesatkan.
“Bapak harap kalian dapat memberikan kesan yang menyenangkan untuk menerima tamu kita nanti. Bila ada pertanyaan, kalian bisa mengajukan pada beliau.” Laki-laki itu menutup pembicaraan dengan senyumnya yang menawan.
Ruang depan kelas itu kosong. Keheningan mulai merayap. Keadaan ini juga bagian dari skenario. Kami dituntut untuk tidak mengeluarkan suara bila tidak ada keperluan. Dan sekali lagi kami tampak sangat bodoh dengan wajah tegang yang dicampur kepolosan palsu.

Semua mata terarah padanya. Sepatunya yang mengkilap menginjak lantai keramik kelas kami dengan bunyi yang berirama. Baju yang dia kenakan terbuat dari katun berkualitas disemprot lima jenis parfum. Kami semakin tegang. Tatapannya ramah ketika dia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kelas. Sudut bibirnya sedikit terangkat ketika tatapan matanya menangkap sosok Winda. Dan bisa kulihat Winda semakin tegang ketika tatapan itu bertahan lama.
“Selamat pagi, wahai generasi muda Indonesia.” Dia menyapa kami dengan senyuman hangat seorang ayah. Aku terbuai, jujur.
“Apa kabar anak-anakku?” pandangannya sengaja dia tajamkan.

Kami diam. Tak ada yang menjawab dan keheningan itu menggantung selama lima detik. Hingga akhirnya Winda bersuara pelan.
“Kami baik-baik saja.” Katanya kaku. Sebenarnya itu bukan jawaban yang tepat karena tidak sesuai dengan isi skenario. Harusnya kami menjawab dengan senyuman yang lebar dan mengatakan bahwa kami sangat baik hari itu. Sepertinya kami menyadari bahwa bagian itu akan membuat kami lebih konyol lagi.
“Wah, itu jawaban yang sangat menyenangkan. Siapa namamu?”
“Winda.” Jawaban singkat juga tidak pernah ada dalam skenario hari itu.
Aku hanya diam memandangi percakapan mereka yang tampak kaku. Laki-laki paruh baya yang tengah duduk santai didepan kami begitu gembiranya melihat kami menjalani skenario menyedihkan ini.

Sekolah itu menyedihkan. Kami dipaksa untuk terus belajar dan belajar. Kadang kelas kami menjadi bahan olok-olokan bagi mereka yang merasa dikucilkan oleh guru-guru. Kami pintar bukan berarti kami harus dibandingkan dengan mereka yang ‘bodoh’. Bahkan kami punya kantin tersendiri dan makanan yang tersedia dikantin khusus itu sangatlah tidak menyenangkan. Kami ingin bebas dan mereka memberikan kebebasan itu. Namun bebas dalam presepsi guru-guru sangatlah berbeda dengan bebas dalam kutipan kami.

Kami diharuskan pulang dua jam lebih lama dari biasanya. Dan dua jam ekstra itu kami isi dengan les tambahan walaupun nilai kami bagus. Kebebasan itu mulai mengetat ketika kami naik tingkat, kelas XII. Bahkan setiap akhir minggu kami diwajibkan untuk tetap bersekolah. Hanya satu tujuan para guru, agar kami bisa saat ujian nasional nanti.

Haruskah ujian nasional diadakan dinegara Indonesia? Itu pertanyaan yang selalu kujadikan alasan untuk tetap diam saat guru-guru itu memperbudak kami.
“Anak-anakku sayang, jikalau kalian punya pertanyaan silahkan. Bapak akan menjawabnya sebisa Bapak. Jangan sungkan-sungkan.” Dia mulai membuka sesi pertanyaan. Dan sesi inilah yang kami tunggu-tunggu, namun aku lebih memilih diam.
“Pak, apakah ada kemajuan dalam mutu Pendidikan di Indonesia?” Iren bertanya. Itu bukan bagian dari skenario. Para guru yang tengah berdiri rapih dengan seketika menahan napas mereka. Ini akan jadi masalah besar, aku diam.

Kikuk, itu reaksi pertama yang Mentri Pendidikan lakukan.
“Tentu saja, anakku. Kami para pemerintah tengah berusaha semaksimal mungkin untuk menyamakan mutu pendidikan Indonesia dengan mutu pendidikan Australia dan Jerman. Jadi kalian harus belajar lebih giat lagi dan membantu pemerintah menaikkan mutu pendidikan Indonesia.” Para guru mendesah lega, setidaknya posisi kami masih dalam zona aman.
“Kalau begitu, kenapa Ujian Nasional masih tetap ada?” kali ini pertanyaan besar itu dilontarkan oleh Winda. Aku diam dan fokus. Ini bagian terpenting dari serangkaian skenario konyol yang guru-guru sediakan.
“Ujian Nasional itu fungsinya untuk menyaring anak-anak yang berbakat dan berprestasi. Ujian Nasional juga berguna untuk penyemangat bagi tiap-tiap daerah.” Laki-laki paruh bayah itu tersenyum.
“Bukannya kita ingin menyamakan kedudukan pendidikan dengan Australia?” winda masih kukuh.
“Ya, benar.”
“Australia tidak mengenal yang namanya Ujian Nasional, tapi mereka bisa melahirkan orang-orang penting. Kenapa kita tidak?” Winda berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang.

Para guru mulai meremas ujung kemeja masing-masing. Bahkan ada yang mengelap keringat. Ya, udara mulai memanas. Mentri Pendidikan tersungkur kaget diatas kursinya yang empuk, SKAK MAT!
“Winda sayang, menyamakan bukan berarti harus menjiplak kan?” itu jawaban terbodoh yang pernah kudengar dari seorang tokoh masyarakat, namun aku tetap diam.
“Kalau menjiplak untuk mutu masa depan para generasi, kenapa tidak? Sedangkan sekarang banyak yang menjiplak hanya untuk kesenangan belaka.” Ucap Winda dengan tatapan tajam.

Para guru mulai gelisah. Posisi kami tersungkur kedalam zona sangat berbahaya.
“Apa alasanmu ingin menghapuskan Ujian Nasional? Bukannya itu juga nanti akan membantumu mencapai cita-citamu nanti?” laki-laki itu balik bertanya.

Winda tersentak. Aku tahu, itu diluar skenario kami.
“Apa Bapak tidak lihat? Banyak anak yang frustasi akibat Ujian Nasional, bagaimana tidak setiap tahun nilai kelulusan bertambah 0.5 dan paket soal makin membumbung tinggi. Apa Bapak tidak pernah berpikir? Bagaimana jadinya masa depan anak-anak yang masih kecil diluar sana? Kami yang mendapatkan lima paket soal saja sudah frustasi, bagaimana dengan mereka yang akan mendapatkan 20 paket? Apa ini yang namanya melahirkan generasi mutu? Coba Bapak lihat, di Australia banyak sekali orang-orang penting yang terus bertambah dan mereka lahir bukan karena paksaan belajar tapi karena dukungan semua orang disekitar mereka, termasuk Negara mereka sendiri. Mereka mendapat perhatian dan pengertian dari pihak Negara. Negara mereka menghapuskan Ujian Nasional dan memberikan mereka fasilitas yang terbaik. Guru professional dan properti sekolah yang canggih. Walaupun mahal tapi mereka bahagia Pak. Mereka bahkan tidak mengenal yang namanya peringkat dan juara, karena mereka percaya setiap individu itu unik dan tidak layak untuk dibedakan.
“Bagaimana dengan kita? Apa guru kita sudah professional Pak? Apa properti kita sudah canggih? Banyak guru yang makan gaji buta dan itu luput dari pengamatan pemerintah. Banyak properti yang sangat ketinggalan zaman dan itu tak pernah mendapat kepedulian dari pemerintah. Hanya satu kriteria yang menyamakan pendidikan kita dengan pendidikan Austalia : mahal. Setiap tahun biaya pendidikan makin melonjak tinggi, waktu ditanya alasan pemerintah hanya satu: untuk menaikkan mutu pendidikan. Sudah setinggi mana mutu pendidikannya Pak? Setinggi pohon stroberi atau setinggi pohon tomat?”
Semua terlonjak kaget dengan kalimat terakhir dari Winda.

Dengan tenang Bapak Mentri itu menjawab, “Winda sayang. Negara kita ini Negara berkembang jadi butuh banyak biaya. Hutang Negara kita menumpuk dimana-mana. Kalau kita menurunkan harga pendidikan Negara kita akan jatuh miskin.”
“Butuh banyak biaya tapi kenapa pembangunan gedung DPR selalu mewah? Kenapa bukan gaji DPR saja yang diturunkan? 60 juta perbulan bukankah itu sangat berlebihan Pak? Coba bapak hitung jikalau satu anggota DPR saja diberi gaji 10 juta, pemerintah bisa untung 50 juta. Dan kenyataannya anggota DPR bukan hanya satu orang saja Pak. Dua orang saja pemerintah bisa untung 100 juta. 100 juta sudah cukup Pak untuk merenovasi satu sekolah. Jatuh miskin tapi melahirkan generasi bermutu internasional itu lebih baik daripada mencoba melangkah kearah Negara maju tapi yang dilahirkan adalah generasi ‘miskin’. Bapak pilih mana? Kalau pemerintah enggan mengambil resiko, bagaiman kita bisa menyamakan kedudukan kita Pak?”
“Winda, Jepang adalah Negara maju dengan teknologi yang super canggih, tapi mereka punya Ujian Nasional.” Jawaban yang sangat melesat dari pertanyaan.

Para guru mulai resah tak menentu. Sesekali mereka melirik arloji mewah yang membisu dipergelangan tangan yang hampir tiap hari mendapat perawatan mewah juga.
“Australia saja belum bisa kita samakan, kita mau ganti objek? Yang benar saja Pak.” Winda tertawa mengejek.
“Kesuksesan tidak dibangun dari sistem pendidikan, namun dibangun dari kepercayaan diri dan kerja keras.”
“Dan kenyataannya kepercayaan diri untuk lulus Ujian Nasional juga berpengaruh pada kesuksesan. Kerja keras? Kerja keras seperti apa yang Bapak maksud? Belajar setiap hari menjelang ujian dan terus berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik. Apa seperti itu? Pak semua kerja keras bisa dipatahkan dengan uang, itu salah satu sistem pendidikan Indonesia : sangat murahan. Bagaimanan dengan orang miskin yang kerja keras namun tetap tidak lulus karena tidak bisa membayar ‘jasa’ para guru?”
“Semua ada jalan keluarnya, Winda.” Hawa ruangan makin memanas. Kami semua mulai mundur kebelakang. Kami berdiri menghadap Bapak Mentri Pendidikan dengan tatapan tajam. Kami siap membela kebebasan kami.
“Dan jalan keluar itu selalu berujung buntu. Kami butuh pengertian dari pemerintah. Hapuskan Ujian Nasional dan berikan kami guru professional.” Teriak Winda secara lantang. Bulu kuduk ku merinding mendengar teriakannya. Aku diam melihatnya menangis. Aku diam melihat badannya terguncang karena emosi.
“Papa dan seluruh pemerintah gak pernah ngerti Winda. Papa gak ada bedanya dengan guru-guru. Papa gak pernah sekali pun bertanya apa maunya Winda, Winda ingin jadi apa dimasa depan? Gak pernah kan Pa? Satu yang selalu Papa pikir dalam kepala Papa, saat Winda tersenyum Papa kira Winda udah bahagia? Gak Pa. Winda gak butuh sekolah kalau hanya untuk frustasi.”

Papa? Panggilan itu yang Winda lontarkan untuk Bapak Mentri Pendidikan yang tengah terduduk lemas didepan kami. Haruskah aku tetap diam mendengarnya?
Ruangan itu seketika menegang. Tetesan keringat para guru mulai menderas. Tabir telah tersingkap. Mentri Pendidikan tampak tenang memandang anaknya yang masih tersedu-sedu.
Lima menit kemudian kutemukan tubuh Winda tersungkur dilantai dan kepalanya membentur keras ujung meja. Aku diam dan hanya mematung.
PROFIL PENULIS
Lahir tanggal 02 Desember 1996. Tengah menempuh pendidikan tingkat SMA di SMA Sains Averos, kota Sorong. Suka berimajinasi dan berharap bisa memiliki dunia imajinasi sendiri. Terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara yang seluruhnya perempuan. 

BEBE GUE MANA?

BEBE GUE MANA?
Karya Yayu Fathilal

“Bebe gue mana??!!” Teriakan Nisa kencang sekali, membuat pekak telinga mamanya. “Apa sih, Sa?” tanya sang mama bingung yang langsung menghentikan kegiatannya mengiris bawang merah di dapur. Si Nisa pagi-pagi sudah ribut.
“Ma, lihat bebe Nisa, gak?” Nisa tampak panik. Wajahnya memerah dan cemberut. “Nggak tuh, emang kamu taruh dimana?” tanya mamanya lagi.

Nisa gelisah. Kepalanya yang tak gatal pun digaruk-garuknya. Seluruh perkakas di kamarnya di obrak-abriknya demi mencari benda kesayangannya itu, BlackBerry Gemini Curve 8250 warna putih.
“Coba kamu ingat-ingat lagi. Mungkin kamu lupa menaruhnya dimana,” saran mamanya.
Nisa lantas melongok-longokkan kepalanya ke kolong meja. Tak ada juga. Siapa tahu saja malah ada di situ. Tiap ada tumpukan barang diperiksanya. Kantung celana dan jaketnya yang sudah kotor dan hendak dicuci pagi itu pun diceknya juga. Masih nggak ketemu juga. Hampir satu jam dia begitu terus.
“Sa, sudah nanti biar mama atau si bibi yang mencarikan. Kamu sarapan dulu, terus berangkat sekolah. Lihat sudah jam berapa tuh, hampir pukul 7,” seru mamanya.

Nisa tambah cemberut. Dia makin uring-uringan dan gelisah. “Tapi, masa iya ke sekolah nggak bawa Bebe, nggak seru ah! Ntar nggak bisa BBMan sama teman-teman Nisa,” keluh Nisa. Sekarang, mukanya makin terlipat karena kesal.
“Memangnya kamu mau BBMan sama teman kamu yang dimana sih? Yang masih satu sekolah dan sekelas kan? Ya sudah, nggak pake Bebe sehari juga nggak papa kan masih bisa ketemu di sekolah. Gimana sih ni anak! Nggak pegang Bebe sedetik aja kayak dunia udah mau kiamat!” mamanya jadi kesal. Dan Nisa makin bête dibuatnya.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolahnya, Nisa hanya diam di jok belakang mobil papanya. Siswi SD kelas V ini masih kepikiran Bebe tercintanya. Dia mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali dia memegang Bebenya itu.

Kemarin sore, pulang les matematika, di genggamannya masih ada Bebenya. Lalu dia masuk ke rumah, menuju kamarnya di lantai dua, menaruh tasnya dan Bebenya diletakkannya di meja belajarnya. “Eh, nggak. Salah, salah! Perasaan gue lempar ke kasur deh? Tapi pas gue bobo tadi malam, perasaan nggak ada Bebe gue di situ,” terawangnya.

Pak Hari yang sejak tadi menyupirkan mobil itu, sudah beberapa kali melirik ke belakang. Dia bingung melihat anak bosnya yang dari tadi bengong dan seperti lagi banyak pikiran itu. “Ada apa sih, Neng? Kok dari tadi kayak orang stres saja?” ujar Pak Hari bingung. “Bebe gue mana ya?” gumam Nisa sembari menerawang tanpa menghiraukan pertanyaan Pak Hari. Dan Pak Hari makin bingung. “Apa, Neng?” tanya Pak Hari yang merasa tidak mendengar jelas ucapan Nisa tadi.

“Pak Hari lihat Bebe Nisa nggak?” tanya Nisa. Pak Hari sejenak mengernyitkan keningnya. “Bebe? BlackBerry eneng maksudnya? Nggak tuh, Neng. Memangnya kenapa? Hilang?” tanya Pak Hari. Nisa mengangguk pelan sambil wajahnya masih cemberut.
“Kalau nanti lihat, kasih tahu ya,” pinta Nisa. Pak Hari mengangguk. “Siap, Neng,” kata Pak Hari.
Siangnya, waktu istirahat, semua teman sekelas Nisa keluar ruangan. Mereka bertebaran di mana saja di sekolah itu. Ada yang di kantin, di taman hingga di musala. Rata-rata, semuanya memegang BlackBerry. Walaupun tidak dipencet-pencet, paling tidak ada di genggaman atau di saku seragam.
“Sa, lo ngapain aja sih dari tadi? BBM gue kok gak dibalas-balas. Gue PING lo berkali-kali, tetap aja lo cuekin,” si Dana, teman seangkatan Nisa namun beda kelas bertanya ke Nisa ketika mereka bertemu di kantin sekolah siang itu. “Bebe gue nggak tahu sekarang lagi dimana. Dari tadi pagi gue nyari-nyari nggak ketemu juga. Kayaknya gue lupa naruh deh,” kata Nisa.
“Ya elah, Sa. Gue kan BBM lo penting, mau nanya bahan ulangan matematika hari ini,” sambut Dana. “Kenapa nggak lo telpon aja ke rumah gue? Lo punya kan nomor telepon rumah gue?” tanya Nisa. Dana jadi mewek mendengarnya. “Hmmm…sekarang tu zamannya BlackBerry, BBM,” seloroh Dana sembari berlalu kesal.

Nisa masih cemberut saja dari tadi. Tangannya gatal, bukan karena habis digigit nyamuk atau ada biang keringat, namun karena dari tadi nggak pegang Bebe. “Bête yah kalau sehari saja tidak BBMan atau browsing, kan di sekolah ada Wifi gretongan (gratis),” seloroh Nisa sambil menyeruput teh botolnya.

Teman sekelasnya yang saat itu semeja dengannya di kantin, Ina, menatap Nisa. Mulutnya terkatup rapat. Dari tadi mi ayam yang dipesan Ina tak juga disentuhnya. “Sa, memangnya harga Bebe sekarang berapa sih?” tanyanya.

Menurut Nisa, jutaan. “Punya gue itu belinya setahun yang lalu, sekitar Rp 2,3 juta. Sekarang kayaknya sudah Rp 1 jutaan sekian deh, di bawah Rp 2 juta kayaknya. Kenapa? Lo mau beli ?” seloroh Nisa.

Ina mengangguk lemas. “Pengen, tapi babe gue nggak bisa beliin, mahal katanya,” Ina berkata pelan. Kedua matanya kemudian jelalatan ke sekelilingnya, banyak temannya maupun kakak kelasnya asyik memegang Bebe. Bahkan, Mang Urip, satpam di sekolahnya juga punya Bebe. Kemarin sore, ketika dia dan beberapa teman di sekitar rumahnya jalan-jalan ke mall, rata-rata mereka memegang Bebe.

Malamnya, usai salat magrib, Ina sekeluarga berkumpul di dapur sekaligus ruang makan mereka. Rumah keluarga Ina hanya kecil, sangat jauh dengan rumah Nisa yang gedongan. Maklum saja, ayah Nisa itu pengusaha sukses di negeri ini. Sementara ayah Ina hanya seorang tukang ojek yang penghasilannya tak menentu. Ibunya hanya buruh cuci dan setrika baju yang penghasilannya juga tak banyak.
“Be, kapan?” tanya Ina ke babenya yang sedang menyantap makan malamnya. Babenya mengangkat kepalanya, menatap anak sulungnya itu. “Apa sih, Na? BlackBerry?” Ina mengangguk cepat.

Babenya menghela nafas. “Babe nggak punya duit banyak, Na. Gimana mau beliin elu Bebe? Sekarang barang-barang serbamahal, jangankan buat beli Bebe, kita sekeluarga bisa makan sekali sehari aja udah syukur,” terang babenya.

Tak jauh dari situ, Nyak yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan bapak dan anaknya ini menimpali. “Elu itu, Na, gaya pengen punya Bebe juga. Kayak nyak ma babe lo ini orang gedongan aje. Kalau teman-teman elu kayak si Nisa, Dana, itu sih anak konglomerat kan wajar kalau hapenya canggih dan mahal. Nah elo anak kolongmelarat, pake mimpi segala pengen beli Bebe. Emang duitnye ade,” cerocos Nyak. Ina hanya diam, manyun sambil mengaduk-aduk nasinya hingga berantakan.
“Pikir dulu, Na. gimana duitnye babe. Di rumah ini, nggak cuma elu yang perlu babe pikirin biaya hidup, tapi nyak lo, adek-adek lo. Emangnye Bebe murah? Gini-gini, babe juge tau tu hape harganye berape,” tambah babenya lagi.
“Tapi, punya Bebe itu kan keren. Beliin ya, Be?” Ina masih merengek-rengek. Dia memasang muka memelas, mulut manyun. Babenya hanya menghela nafas dan tak ingin berbicara lagi. Ina terus merengek-rengek sampai Babenya bosan.

Sementara Nyak dari tadi hanya mengomel-ngomel. Dia juga menasehati Ina agar jangan gampang terpengaruh dengan teman-temannya. Kalau teman-temannya di sekolah memang banyak yang anak orang kaya, mereka mampu membeli Bebe semahal apa pun. “Nah, Babe lo, Na, emangnye orang kaye? Loe pikir dong, Ina! Belum lagi nanti perlu berapa duit buat ngaktifin BBMnya? Kan mahal tuh,” seru Nyak. Dan Ina hanya terdiam sambil mengaduk-aduk nasi dan lauknya tanpa berminat memakannya.
Namun Ina seperti pantang menyerah. Dia terus memohon bahkan merengek ke Babenya supaya permintaannya itu dikabulkan. Akhirnya, dengan terpaksa Babenya membelikannya juga sebuah BlackBerry.

Ina girang bukan kepalang. BlackBerry itu barang bekas alias tangan kedua. Dulu milik seorang teman bermainnya di sekitar rumahnya, si Gugun. Karena orangtua Gugun perlu duit, akhirnya itu HP dijualnya Rp 800.000 ke Babe Ina. Babenya membayarnya secara cicilan. Konon, Bebe milik Gugun itu barang gelap, black market dari Batam. Namun tetap saja Ina senang, yang penting kan BlackBerry.

Dia pun membuat perjanjian dengan orangtuanya, kalau untuk biaya paket BlackBerry, diusahakannya sendiri. Beli pulsanya pakai uang jajannya sendiri. Karena merasa kurang mampu, Ina terpaksa harus menabung dan menghemat uang jajannya demi bisa membeli paket Bebe harian seharga Rp 5.000. Orangtuanya enggan bertanggungjawab soal itu karena merasa keberatan dan Ina pun menyanggupi perjanjian itu. Lagi pula, agar Ina lebih mandiri dan merasa bahwa mencari uang itu tak mudah.
Sekarang, banyak temannya di sekolah melirik-lirik ke Ina ketika dia mengeluarkan Bebenya dari tas lusuhnya. “Cieeeee, Ina ya. Pake Bebe juga loe, Na?” sapa Dana di kantin sekolah mereka, pada suatu hari. Ina pastinya senyam-senyum bangga. “Bagi PINnya dong,” pinta Dana. Mereka lantas saling bertukar PIN Bebe.

Namun Ina tak bisa berlama-lama di kantin. Perutnya lapar sekali tetapi dia tak bisa membeli makanan di sana. Uang jajannya tinggal Rp 7.000 dan dia harus menyisakan Rp 5.000 untuk membeli paket Bebe buat besok. Dia hanya bisa menelan ludahnya melihat teman-temannya yang sedang asyik menyantap makan siang mereka.

Pulang sekolah, Nisa, duduk termangu di jok belakang mobil papanya. Bebenya yang hilang beberapa pekan lalu sudah ditemukan dua hari silam. Ternyata ada di saku celananya dan parahnya lagi, dia lupa mengeluarkannya. Hasilnya, malah masuk ke mesin cuci bersama baju-baju kotornya. Jadilah Bebe itu rusak, digiling mesin cuci dan itu sukses membuatnya bête setengah mati.

Namun dia sudah meminta dibelikan lagi Bebe ke papanya. Tetapi, papanya tak bisa segera membelikannya karena sedang berada di luar negeri. Kalau mamanya tak berani membelikan karena harus menunggu kedatangan papanya dulu.
“Bete ya nggak ada BBMan sehari saja. Si Ina yang bokapnya cuma tukang ojek aja sekarang bisa punya Bebe,” rutuknya manyun. Nisa cuma diam. Dia merasa jika keberadaan Bebe telah berhasil menguasai hidupnya.

Kebetean yang sama ternyata juga dirasakan oleh Ina. Di rumahnya, siang itu, Ina tampak uring-uringan. Charger Bebenya rusak sementara Bebenya lowbat. Tambah kesal lagi, uang jajannya habis banyak hanya untuk menghidupi paket Bebe. Mau minta duit sama Babe atau Nyak pasti nggak dikasih soalnya tarikan Babe lagi sepi.

Dia manyun saja dan merutuki Bebenya yang barang black market. Kualitas baterenya juga diakuinya tidak bagus-bagus amat. “Masa baru seminggu beli chargernya sudah rusak,” keluhnya. Ina membanting kesal Bebe dan chargernya ke kasur kapuknya yang tampak sudah usang.
Seharian ini dia tampak uring-uringan saja. Dia penasaran setengah mati ingin tahu ada gambar apa saja lagi yang dibagikan teman-temannya di grup BBM. Biasanya, banyak teman di sekolahnya membagikan berbagai gambar ke grup, semuanya jadi bahan bercanda mereka dan Ina selalu senang berinteraksi dengan mereka di sana. Semacam autis Bebe gitu deh kalau dia sudah asyik BBMan, sampai lupa segalanya.

Tidak bisa BBMan, dia tetap setia memencet-mencet Bebenya. Kemana pun dibawanya, sekadar untuk main permainan. Itu bebe bahkan selalu berada di genggamannya kemana pun dia pergi. Ke kamar mandi aja juga dibawa.
“Gimana nggak rusak tu charger ma baterenya, kemana-mana dibawa trus dipencet-pencet melulu. Dipakai terus jelas aje baterenye cepat abis,” omel si Babe melihat kelakuan Ina yang asyik terus dengan Bebenya.

Ina tampak cuek, masih asyik dengan smartphone-nya itu. Babenya manyun aja dicuekin anaknya. “Dasar anak sekarang, HP mahal dibawa kemana-kemana. Dipegang aja, ditaruh sembarangan. Emang duit segepok buat beli HP sekarang murah ya?” rutuknya dalam hati melihat kebiasaan Ina yang suka menaruh Bebenya sembarangan, seperti di atas kasur, di bawah selimut atau bantal, di atas meja, kursi, dan lain-lain.

Waktu terus berlalu dan autisnya makin menjadi. Dia bahkan sampai suka cuek ke siapa saja yang di sekitarnya. Sepupu dan saudara-saudara jauhnya yang sudah lama tak bertemu, ketika datang ke rumahnya pun dicuekin. Dia tenggelam dalam dunia bebenya. “Ampun dah ni anak. Itu pada sibuk di dapur lagi banyak saudara, dia masih aja sibuk BBMan. Nyak banting aja deh ya tu bebe,” ucap Nyak geram. Dengan gerakan cepat, Nyak langsung menyambar bebe Ina dan membantingnya ke lantai. Ina kaget dan langsung histeris. “Bebe gueeeee,” tangisnya.

Di rumah Nisa, ternyata kejadian yang sama juga terjadi. Beberapa hari lalu, papanya pulang dan membelikannya bebe baru.

Saking senangnya punya bebe baru lagi, autis bebenya kambuh lagi, membuat mamanya gerah dan marah-marah saja. Nisa hanya manyun di depan mamanya yang sejak tadi ngomel-ngomel gara-gara Nisa dipanggil berkali-kali tak juga menyahut. Ternyata dia asyik BBMan sama browsing internet.

Nisa hanya terduduk lesu di depan bebenya yang sekarang sudah hancur. Tadi, dibanting mamanya. “Tidak ada lagi bebe!” seruan mamanya itu masih tergiang di telinganya.

Hari-hari selanjutnya, kedua anak ini terpaksa harus menelan ludah pahit ketika melihat teman-teman mereka di sekolah asyik BBMan. Mereka berdua pun saling curhat.
“Bebe benar-benar mencuri hidup gue, Na. Menyita semua pikiran gue, otak gue, tangan gue, mata gue, dan semua anggota badan gue. Bahkan jantung dan hati gue. Rasanya, kalau nggak ada bebe, seperti pengen mati aja, hampa, bête, kesannya nggak gaul en kampungan gitu,” keluh Nisa kepada Ina, suatu hari di taman sekolah usai sekolah bubar.
“Ho oh, gue jadi kaya hidup sendiri pas lagi asyik sama bebe. Nggak peduli lagi sama yang di sekitar, sampai nyak babe gue marah-marah terus. Kasihan juga sih mereka, capek-capek kerja buat ngebeliin gue bebe, eh guenya malah kayak gitu. Autis!” sahut Ina. Nisa hanya diam mendengar ucapan Ina itu, menerawang, merenungi kesalahannya selama ini.

Mereka lantas terdiam untuk beberapa lama. Tak lama, Ina membuka mulut. “Sa, nanti sore, ke rumah gue yuk! Gue sudah janjian sama teman-teman gue, mau main gobak sodor. Daripada bengong terus bête nggak punya bebe lagi, mendingan kita rame-rame main gobak sodor,” seru Ina.
Mata Nisa membelalak penasaran. “Gobak sodor? Apaan tuh?” “Udah, pokoknya ntar datang aja. Gue tunggu jam 3 di lapangan bola dekat rumah gue,” ajak Ina. Nisa mengangguk setuju, sebelum akhirnya kedua anak itu pulang ketika diteriaki Mang Diman, penjaga sekolah mereka karena gerbang sekolah hendak segera digembok. (*)

PROFIL PENULIS
Nama: Yayu Fathilal
Alamat: Jalan Pramuka Komplek Kemuning Raya No 1, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Pekerjaan: Swasta

Apakah Itu Cinta ?


Apakah Itu Cinta ?
Pengarang: Anonim

Oh, cinta
kau kurindu
kau kukejar
kau kudamba

Suatu saat
kau hilang
kau pergi
lenyap ke dalam sepi

Oh, cinta
apakah yang kurasa
ketika engkah tlah tiada...?

Bait Rinduku

Bait Rinduku
Pengarang: Asrul Rahmawati


Rinduku….
Menghimpit dadaku
Menyesakkan pembuluh darahku
menggetarkan sluruh nadiku

cinta yang sangat tak ku mengerti
cinta pada banyangan semu
pada hal yang tak pasti
pada sosok yang tak ku pahami

aku lelah, bosan,dan ingin pergi
tapi aku tak mampu
karena aku masih menyimpan rindu
rindu yang tak ku mengerti.

Bidadari Tanpa Sayap

Bidadari Tanpa Sayap
Pengarang: Siti Halimah

Kelembutan Hatinya Membuatku Terpana. . .
Melihat Kehindahan Rembulan,
Sama Seperti Melihat Keindahan Wajahnya.
Sungguh Kuat Dia Menghadapi Ini Semua. . .
Menghadapi Keaadaannya Yg Begitu Nyata.
Merasakan Penderitaannya Sendirian.
Dan Mengukur Penderitaan Diatas Mimpi . . .
Walau Dia Hanya Bidadari Tanpa Sayap,
Tapi Kelembutan Hatinyalah Yang Membuatku Merasa Seperti.....
Berada Di Atas Awan

 photo tyuuu_zpsc6ef6817.jpeg"/>" /> KPA photo 10169318_1490733947824313_8365615283135808455_n_zps90846386.jpg" /> Ame Mayday photo 20140502_110353_zpscef26929.jpg" /> gpmd photo 1012032_1446233695607672_1066147129_n_zps3f4d6c09.jpg" />  photo nbv_zpsc8429ade.jpg"/>" /> gpmd4 photo 1491_678730012152865_1221172235_n_zps4dfde858.jpg"/>" /> gpmd3 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin_zpsf038dc5f.jpg"/>" /> gpmd2 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin-Salin_zps3b3d0b92.jpg"/>" />  photo --9-98-89-98-967_zpsb0261f2e.jpeg"/>"/>" />