Tampilkan postingan dengan label Romantika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2014

Keindahan Di Balik Jendela

Keindahan Di Balik Jendela  
Abd.Rachman/Ame’LeftRed
 
Coretanpun kembali menghiasi buku saku berwarna putih ini
sepintas terbayang paras dengan senyum lugu yang menghiasi
kata demi kata pun terurai dengan lembut dalam sunyi
hingga segerombolan kata itu
berubah menjadi kalimat indah bagiku
yaaa…. Benar begitu indah bagiku
Pena kecilku bergoyang mesrah menjelajahi lembar demi lembar buku ini
tak kusadari, wajah manis dengan lesung pipi
berhasil di gambarkannya walau tak seindah aslinya
karena ku tahu…. Tak ada yang mampu
menyerupai wajah lugu penuh malu dan ragu
yaitu kau dengan senyuman di balik jendela
yang selalu ku nikmati di pagi hari
kala ku berjalan di persimpangan jalan sudut desa

Selasa, 23 September 2014

Cerita Hari Ini

Cerita Hari Ini

Masa dimana mendung tak lagi
melindungi dari teriknya mentari
masa ketika malam tak lagi menjadi hiburan
bagi lelah dan jenuh yang kini
telah merajai diri


hingga tiba waktu dimana kesesatan
menghempas jiwa yang kebingungan
akan arah yang kemarin telah di lalui


jika benar kasihmu yang kan menyelamatkanku
maka selamatkanlah diriku yang sesat hari ini
jika benar cintamu
yang kan menuntun langkahku yang terbata
maka raihlah tanganku
dan bawa aku ke dunia cinta kasihmu....

Kamis, 11 September 2014

MENARA 2 HATI

MENARA 2 HATI
Cerpen Karya Monica Sebentina

“ Bukannya aku telah dicintai
Apalagi yang kucari
Bukannya lelaki itu yang selama ini mengarungi hati ku
Tapi kenapa aku masih ragu “

Ada apa dengan hati ku , Via mulai membatin dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi , perubahan hatinya menurun drastis bagaikan thermometer.
“ Kring , kring , kring “ suara ringtone handphonenya sudah membuyarkan lamunannya
“ Reza memanggil “ terlihat jelas dimatanya siapa yang menelponnya , Kenapa begitu sangat malas mengangkatnya Pikir Via . Dia hanya membiarkan ringtone it uterus berbunyi seakan-akan menjadi pembawa alunan nada dalam tidurnya .
“ Via , lu dimana sih , kenapa telpon gw gak diangkat , lo kenapa vi “
“ Brakkkkkkkkkkkkkkkkk “ reza menghempaskan tubuhnya , sudah hampir satu minggu Reza merasa Via Menghindarinya . Wanita yang menurut dia sangat Perpect itu .
“ Oke , Vi kalau lo gak mau angkat telpon gw ,tapi seenggaknya lo kan bisa kasi tau gw lo knp “ Reza masih terus berfikir dengan logikanya.
“ tok , tok , tok “
“ Eh Maz reza “
“ via ada bik “
“ ada tunggu sebentar ya bibik panggilin dulu “

Sambil berlari si bibik memanggil majikannya yang sedang tidur dikamarnya
“ Non , Non ada mas reza didepan , mau ketemu non via “
What , reza “ apa bik , reza aduh bik tadi kan via bilang , via gak mau diganggu siapapun “
“ kasihan non , maz reza kelihatan capek banget , makanya bibik suruh masuk “

No ….. no ….. no …… gw gak boleh ketemu dia , tapi kenapa , gw kenapa sih “ Via gak tau apa yang terjadi dengan hatinya , reza tidak pernah bersalah , dia baik mencintai via dengan tulus , mungkin saat ini hati via yang salah .
“ bik , bilang aja via lagi kurang enak badan , gak mau diganggu “
“ tapi non “
“ udah sana gak usah pake tapi-tapi “
“ Via mana bik “
“ehm , ehm itu maz non via lagi kurang enak badan jadi gak mau diganggu “
Reza semakin heran , dengan sikap via padanya dan memutuskan pergi tanpa banyak bertanya .
Dari sudut jendela via melihat rona kecewa dari wajah reza , “ Sory za , secepatnya gw akan cari tau perasaan gw kenapa , gw gak akan ngebiarin lo nunggu lama dengan sikap gw yang kaya gini .

At Kampus ( Keesokan harinya )
Vi …………

Vi………….
“siapa sih pagi-pagi udah ganggu “
“ ada apaan sih “ dengan kesal via menoleh kebelakang
“ Elo “
“ ntr Malam ada acara gak “
“gak , ada apa “ ( Dengan wajah yang jutek )
“ jalan yuk “
( masih berfikir ) boleh juga piker via
“ oke deh , jam berapa “
“ jam 8 , gw jemput di rumah loe “
“ oke , ditunggu “
Tumben lu mau diajak kencan sama angga , bukannya lo dah nola dia berkali-kali , trus reza gimana , lu sama reza dah putus , pertanyaan para sahabatnya membuatnya pusing dan membiarkan mereka berkicau bagai rajawali .

At Dinner 20.00
“ Tin ,tin ,tin “

Via keluar dengan tampilan menawan walau dalam hatinnya , hanya terpaksa berkencan dengan angga yang telah berpuluh-puluh kali ditolaknya .
“ Lo , keliatan cantik vi “
“ Jadi kencan gak “
“ jadi , tapi jangan galak gt donk , ntar cantiknya ilang lo “
“ udah , mending lo nyetir yang bener yar kita cepet sampenya “
“ Sipp , Prinsess via “
Dalam hatinya via ingin tertawa mendengar sebutan itu .
“ MAKAN MALAM ROMANTIS “
“ Ini , lo yang siapin semuan “
“ ia , udah lama sebenarnya gw , mikir untuk ngajak lo kesini , tapi ………. “

Angga memilih tidak tidak meneruskan perkataannya
“ Sebenarnya gw gak bermaksud gt , tapi kan lo tau , kalau gw dah punya pacar “
“ ia , tapi mala mini lo bukan milik siapa-siapa , lo ada sama gw bukan sama reza “
Rasanya memang seperti Prinsess untuk malam ini , setidaknya itulah yang dirasakan via
“ its Oke vi , Cuma mala mini “

Sejak kencan pertama via mulai terlihat sering jalan bareng angga , via bahkan lupa apakah reza masih pacarnya atau bukan , bahkan dia tidak tahu lagi kabar tentang reza , dia dimana , ada apa dengannya , dan apa yang terjadi padanya , tapi yang saat ini dia tahu dia sedang bersama denga angga .

Via , burghhhhhhhh
“ aduh , kalian ini jalan kayak maling aja deh “
“hush , dasar kalau ngomong tu dipikir dong “
“ habis main tabrak aja , ada apa sih “
“ ada apa , kita yang mesti nanya ada apa “
Maksudnya
“ maksudnya , sebenarnya status lo sekarang pacar reza atau angga sih “ Trus reza kemana “

Ia ya reza keman , udah hampir 2 bulan gw berusaha mencoba mencari tentang perasaan gw dan ngebiarin reza dengan status Plus atau minus
“ Kejam banget sih gw “
“ eh, lu ditanya malah diam aja “
“ ntar deh , gw cari tau reza dimana , via begitu saja pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.

“ Dibawah laci “
Surat zaman sekarang masih ada pake surat , kaya Pra sejarah aja “
“gw tunggu di taman “
Angga
Angga ngajak ketemuan di taman , ngapain ?
“ Angga “
“ hy vi “
“ Ada apa kok lo ngajak ketemu disini “
“gw sayang sama lo vi “ Lo mau kan jadi cewek gw “

Via merasa hatinya kembali berbunga-bunga, tanpa sadar bahwa dia masih status plus pacar reza.
“ Reza memanggil “

Tiba-tiba handphonenya berbunyi
“ hallo , vi gw ada dirumah lo , gw pengen bicara tentang kita “
“ ia , gw pulang “
“ siapa vi “ tiba-tiba angga mengejutkannya
“gw balik dulu ya “
“gw antarin ya “
“gak usah “ Via berlari begitu saja
Via berlari nafasnya seakan memburu dengan perasaannya , entah kenapa jantungnya bedegup sangat kencang , Bajunya basah kuyup akibat hujan yang menderanya , sesampainya dirumah via mendapat reza duduk ditepi teras rumahnya .
“ za “

Lo ngapain disitu , kenapa gak masuk
“gak papa kok , gw disini mau nungguin lo pulang “

Reza memegang punda via , dia menatap mata via penuh pertanyaan
“ Ada vi , “
“ Maksud lo apa “ Via berpura – pura heran
“ Ada apa dengan hubungan kita “

Via mulai menangis , dia merasa bersalah dengan sikapnya yang egois pada reza
“ Sory za “
Sory , kalau dulu gw pernah bilang kalau gw bakalan mencintai lo selamanya
Tapi , gw juga gak tau kenapa tiba-tiba perasaan gw kek gini

Perasaan gw sama seperti thermometer yang gak tau kapan berubahnya , gw berusaha cari tau tentang perasaan gw , apa yang terjadi dengan perubahan hati gw .
“ Maff , za “ Maff “

Via gak bisa lagi meneruskan kata-katanya
“ Its oke via , gak papa kok , lo gak salah , gw gak da hak buat ,marah karena itu adalah hati lo “
“gw gak papa vi , lebih baik lo jujur sekarang dari pada gw melihat lo selingkuh sama cowok lain “
“ tapi kita masih bisa temenan kan “ sahut via
“ tentu , selamanya akan menjadi teman vi , kecuali perasaan lo atau gw berubah lagi “

Via sadar dalam satu keadaan manusia tidak bisa mencintai buat selamanya , hati seseorang bisa berubah kapan pun dia mau .
Via tidak lagi berkata , dia mencintai seseorang selamanya , tapi kini dia hanya berkata
“ Untuk saat ini , atau untuk waktu yang tidak ditentukan aku akan mencintai kamu “ tapi untuk seterusnya hanya hati ku dan Tuhan yang tahu .

PROFIL PENULIS
Nama : Monica Sebentina
TTL : Delitua 20 juli 1992

SURAT AMPLOP BIRU

SURAT AMPLOP BIRU
Cerpen Karya Ria Margati

Entah ada apa dengan malam ini, mataku terus berdenyut-denyut disebelah kiri, mataku tak dapat terpejam ditengah larutnya malam, lamunanku tidak menentu, jantungku pun berdetak lebih cepat dari darah ku yang mengalir lebih deras, aku seperti sedang diatas awan yang melambung tinggi terbawa angin.
Aku mencoba memahami apa yang terjadi dimalam itu , setelah aku ikuti kata hatiku ternyata aku teringat seseorang yang jauh nan disana, jauh dari kelopak mata dialah Aiya, seseorang yang pernah singgah dihatiku dan telah pergi seperti debu diatas telapak tangan yang terhembus angin lalu terbang tidak tentu arah dan tidak tahu kemana arah itu .

Namaku adalah Arif seorang cowok yang selalu tersakiti dengan perasaan, sampai saat ini aku belum bisa melupakan bayangan itu, bayangan yang selalu hadir disetiap mimpiku, aku sangat membenci dia, tetapi entah mengapa semakin aku benci semakin dalam rasa sakit di hati ini.
Aku mencoba menghibur perasaanku dengan memutar MP3, tiba-tiba air mataku mentes dipipiku,” Dapatkah waktu kan memberi aku saat indah bersamamu mungkinkah aku kan mencintaimu disetiap hembus nafasmu.. sampai akhir hidupku” lagu dari The Titans itu yang membuat aku meneteskan air mataku untuk seseorang yang telah merusak hidupku.

6 bulan berlalu...
Aku sudah mulai terbiasa dengan kesendirianku dan sudah bisa melupakan seseorang, aku telah berjanji aku tidak akan pernah mengingat-mengingat tentang dia dan mendengarkan namanya dalam hidupku maupun dalam mimpiku.

Pukul 07.00 aku harus masuk sekolah, bersama motor tercinta yang selalu menemaniku kemanapun aku ingin perg dan kuparkirkan motorku diantara kumpulan sepeda dan motor yang berjejer dengan rapih. Berjalan didepan menuju pintu masuk kelas aku sudah melihat sahabatku. Rif, dia memanggilku, dia adalah Ozy sahabat terbaiku, yang selalu ada disaat aku butuhkan, selalu ada menemani hariku yang kesepian, aku dan Ozy selalu bersama-sama, aku menghampirinya. “Tumben kamu lebih awal datangnya dari pada aku Zy?”, panggilku, “tentu dong Rif, Ozy gitu”, ungkapnya. Kita pun masuk kelas menuju bangku dan mengikuti pelajaran seperti mana biasanya.

Pelajaran hari ini telah usai, aku dan Ozy keluar kelas menuju kantin. Kantin siang ini rasanya special karena hanya aku dan Ozy yang ada disana dengan banyak makanan yang enak dan lezat. Aku dan Ozy adalah siswa yang paling terkenal doyan makan dikantin tapi saat ini rasa napsu makanku terlihat berkurang, “aku makan dulu ya soalnya aku sudah laper banget nih, ga apa ya aku duluan?”, aku hanya tersenyum melihat Ozy.

Kami asyik mengobrol dikantin sampai makanan habis, tanpa melihat jam dan menunjukan pukul 14.00. Tiba-tiba Ozy menepuk bahuku, “Rif, aku lupa disuruh beli obat Asma untuk adikku, temani aku ya!” sembari tersenyum tanda mengiyakan.

Aku dan Ozy beranjak dari tempat duduk menuju parkir motor dan berangkat ke Poliklinik. Sembari duduk menunggu Ozy dipanggil untuk membayar karena ramai. Tiba-tiba aku ingin berjalan-jalan disekitar rumah sakit, disaat aku berjalan aku melihat seorang ibu yang sedang menangis dan coba mendekat ternyata Ibu Puji ibu kandung Aiya. Rasa penasaranku “Assalammualaikum, bu” pada ibu Aiya, “waalaikumsalam, Arif” tiba-tiba memelukku “ibu kenapa?” keheranan “Ai...ya, Aiya sakit” dengan terbata-bata “Aiya, sakit apa bu?”. Sambil mengantarku masuk ke ruang ACU, betapa terkejutnya aku melihat Aiya terbaring lemas dengan selang-selang penopang hidupnya, tiba-tiba ibu “Aiya, sakit Jantung mungkin umurnya tak lama lagi” sambil memegang bahuku. Malam itu aku menginap di rumah sakit menemani Ibu Aiya. 

Sebelum tidur kami membisik“Selamat Ulang Tahun Aiya”aku dan ibu tidur di samping Aiya, tiba-tiba tangan Aiya bergerak sebagai tanda bahwa dia sudah sadar tepat pukul 12 malam. Semua orang berkumpul melihat Aiya siuman dan memberikan sebuah kejutan untuknya sebagai hadiah Ulang Tahunnya ke-17, kemudian Aiya menyuruh ku mengambil amplop biru di lemari. Hanya 1 jam kami bersama dan belum sempat aku buka amplop itu, tiba-tiba Aiya pingsan dan dokter menyuruh kami semua keluar dari kamar dimana Aiya dirawat. Saat aku berdoa agar Aiya bisa sadar kembali terdengar bisikan“Selamat Ulang Tahun Arif”suaranya terdengar mirip dengan Aiya, karena Ultah Aiya 20 Juni berbeda 1 hari saja. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari kamar Aiya, maaf bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan telah berkehendak lain, ibu dan keluarga harus sabar ya ucap dokter itu kepada aku dan ibu Aiya juga suadaranya yang telah berkumpul, suara tangisan tak terbendung lagi, suasana berubah menjadi suasana kesedihan dan tangis di ruangan itu, aku pun tidak sanggup lagi untuk melihatnya walaupun untuk yang terakhir kalinya pada dia ditambah aku tidak kuasa melihat ibu Aiya yang telah jatuh pingsan.
Setelah 3 hari pemakaman Aiya, aku mencoba membuka amplop biru pemberian Aiya untuk ku, setalah aku membukanya dengan tetesan air mata mengalir dipipiku.Aku melihat kalung berbentuk hati dan sepucuk surat,
“Assalamualaikum
Arif, sebelumnya aku minta maaf padamu, karena aku telah meninggalkan kamu tanpa ada kabar dan penjelasan yang jelas, karena aku tidak ingin melihat seseorang yang aku sayang dan aku cintai harus bersedih dan meneteskan air matanya hanya karena penyakit ku ini, aku pergi agar kamu bisa melupakan aku dan mencari penggantiku kau juga boleh membenciku, karena itu lebih baik daripada aku melihatmu kasihan dengan ku. Karena aku ingin melihat mu bahagia bersama orang lain yang lebih sempurna dari pada aku dan kalung ini aku berikan untuk mu dan penggantiku untukmu.
Wassalammualaikum.
AIYA

Cinta dan kasih sayang yang tulus akan selalu berjalan beriringan,karena timbulnya cinta dan saling jujur diantara kita karena adanya rasa sayang dan takut kehilangan satu sama lain. Kehilangan orang yang kita cintai dan sayang itu memang terasa sangat meyakitkan tetapi kehilangan itulah yang akan membuat kita lebih tegar dan lebih mengerti akan perasaan kita sendiri.

“ Move on. It’s just a chapter in the past.
But don’t close the book, just turn the page.”

PROFIL PENULIS
Facebook Ria Margati Winx Club
Lahir Cilacap, 20 juni 1996
No. Urut : 1322
Tanggal Kirim : 19/04/2014 15:50:32

Rabu, 10 September 2014

Masih Ada cinta Di hatiku

Masih Ada cinta Di hatiku

Aku sudah terlalu tua untuk turun dijalanan. Tubuhku semakin lemah. Tulang dan lidahku kaku, bosan mencaci. Lambat laun, suaraku mulai serak. Tanganku tak lagi mampu lemparkan batu. Menggenggam bambu dan sebilah kayu. Menerjang pagar kawat berduri. Menjebol gerbang gerbang besi. Membongkar jajaran laskar berseragam hitam. 

Aku, tak kuat lagi. Berlari. Menyeret spanduk, tunggang langgan dikejar peluru senapan. Dan akhirnya ambruk. Mengerang. Meraung. Seperti babi tertembak. Di injak-injak. Tanpa harga diri. Diseret. Ditendang seperti binatang.***

Serupa hujan tadi sore, ingin kucurahkan mendung menggantung dimataku. Ketika hati nurani tak mampu berdiri sendiri, para orang tua mulai pikun. Bocah-bocah sariawan—menelan makna sebuah perjuangan. Pengorbanan tinggalkan kenangan yang dirayakan dengan pesta pesta. Tumpahan darah hanyalah kekacauan sejarah silam. Kelam dalam riwayat-riwayat—sekarat ditangan penguasa. Sebab sejarah adalah milik penguasa bersama citranya. 

Sungguh malang ingatan-ingatan—sebatas tangan megenggam pedang. Serupa kawanan iblis berbaris disuguh asap kemenyan. Kemana arah mata memandang, menyantap rakus. Buas dan haus, laksana serdadu—Buyar dari tangsi tangsi, selepas tunaikan tugas mulia dari mata kepala yang menggelinding kebawah dada. Mataku lelah menjadi saksi mengalirnya darah—beberapa tahun lalu. Bersama darah darah yang meresap kedalam retakan tanah—delapan windu—lamanya menjadi angker. Menorehkan sejarah panjang dalam catatan catatan yang mulai dilupakan. 

Kini biar kutempuhi jalan diam dijeruji hati. Tak lagi ahli strategi atau—tukang teriak di garda depan demonstran. Biarlah aku menjadi petani—yang masih tetap mencintai negeri ini. Dengan sepenuh hati.
Ambarawa, Oktober 2012


Senin, 08 September 2014

CINTA YANG NYATA

CINTA YANG NYATA
  Ame’ LeftRed
Tanya kini terjawab sudah
di kala bimbang mencoba untuk menyerbu sesuatu yang tak teraba
apa kah itulah cinta ?
Kenapa harus berlari jika itu yang nyata
dan kenapa harus menjawab jika itu bukanlah sebuah Tanya
dan nyata itupun tiba-tiba menghempas jiwa yang terluka
terombang-ambing dalam gelap kini telah benar tiada
namun sejenak ku berfikir
inikah rasa yang di maksudkan sang dewa cinta
Kaupun hadir dalam kisah yang telah usang
merubah luka menjadi sebuah cinta
kaupun hadir menutupi lubang-lubang
merubah cemburu jadi sebuah rindu
Aku masih belum mampu menafsirkan rasa yang kau beri
dan masih ragu dalam menimbang rasa ini
tapi jika benar
saat luka ini tiada
akan kah kau tetap setia
memuja dan bukan sebuah Tanya
karna ku tau kau lah cinta yang nyta

Minggu, 13 Juli 2014

Gelapku dan Cintamu



Gelapku dan Cintamu


Gelap tak hanya menguntai dari belakang
tapi.... kini ada dalam jiwa yang tenang
meraung-raung bak tikaman samuderai selatan
terperangkap hingga sunyinya kegelapan

Pujinya kini tak mampu lagi ku bendung
wahai cinta jangan ucap yang tak berkata

Jika benar tujuh september adalah cinta
tapi mengapa gelap tak urung menghilang
jika benar tujuh september adalah kasih
tapi mengapa sunyi masih saja terasa

Kini ku tau yang kau mau
kini ku dapat yang kau impikan
gelapku dan cintamu kini beradu dalam sukma
hingga salah satu darinya pergi dan tak kembali

Rabu, 02 Juli 2014

Ada Apa Dengan Bunga ?



Ada Apa Dengan Bunga ?
(Spesial Buat Kawan Irfan/Lecet)
Cipt. Mammank


kawan bertanya ada apa dengan bunga
aku pun tak luput dari tanya mengapa
mereka memiliki ribuan tanya tentang bunga
yaa.... bunga telah di petik oleh salah satu kawan
 
semakin mekarlah sang bunga
siraman cinta telah memekarkan sang bunga
kawan dengan penuh kesungguhan berbangga
memetik dan akhirnya memiliki sang bunga adalah cita
karena ia dan kami tahu jikalau bunga adalah kesejatian cinta

mekarnya sang bunga pastinya di balik layu dan mati
begitulah singgungan sang pujangga kepadanya si kawan
yang seakan menjadi gila di taman bunga

hingga akhirnya....                                          
kawan kembali bertanya ada apa dengan bunga
sesaat merawat bunga bukan lah kebahagian yang di rasa
 
namun tanya, tanya dan tanya
di manakah bunga yang pernah ia petik
dimanakah bunga yang pernah ia miliki

kini ia layu oleh bunga yang mekar di sana



Coklat di Taman Kota

Coklat di Taman Kota


Sore itu di taman kota, Dimas dan Rani sedang berjalan pulang dari lelahnya mengadu nasib di tengah keramaian kota. Rani yang usianya baru lima tahun tampak lesu layaknya kain basah yang menjuntai, digendong oleh seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Rani. Entah siapa Dimas ini, yang jelas ia bukan kakak kandungnya.
Di tengah perjalanan, Rani melihat seorang pemuda yang sedang memakan cokelat. Pemuda yang yang duduk di bangku taman itu terlihat begitu menikmati cokelatnya.
“Kak, cokelat rasanya apa?” kata Rani.
“Cokelat itu rasanya manis, tapi bisa bikin gigi kita jadi sakit”, jawab Dimas mencoba menakut-nakuti Rani.
“tapi Kak, Rani mau cokelat”, kata Rani.
“iya nanti kakak beliin coklat buat Rani”, kata Dimas dengan wajah kesal.
“Kak, Rani mau coklat yang itu”, kata rani sambil menunjuk cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu.
“Rani, dengerin. Itu cokelat orang lain. Kita gak boleh minta-minta selagi kita masih bisa mencari uang untuk membelinya” kata Dimas mencoba menasehati Rani.
Rani merengek-rengek ingin cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu. Yah, memang cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu bukan cokelat yang biasa ada di warung-warung pinggir jalan. Pantas saja jika membuat ngiler orang-orang yang melihatnya.
Dimas berusaha mengalihkan perhatian Rani. Tak kuat mendengar rengekan Rani, akhirnya Dimas menurunkan Rani dari gendongannya. Ia dudukkan Rani di bangku taman dekat pemuda itu duduk. Dimas mencoba menenangkan tangisan Rani.
“Sudah ya, jangan nangis lagi. Rani tunggu di sini, kakak mau beliin cokelat itu buat Rani”, kata Dimas sambil memberikan gitar kecilnya yang dipegangnya kepada Rani.
Dengan sedikit resah Dimas meninggalkan Rani. Ia berjalan menuju supermarket dekat taman. Sambil berjalan, ia mengeluarkan bungkus permen yang isinya uang receh hasil mengamen hari ini. Sungguh teriris hatinya ketika melihat semua uang recehnya. Tak cukup rasanya uang yang ia miliki jika harus ditukarkan dengan sebatang cokelat itu.
Ia berdiri di samping pintu kaca supermarket itu. Cukup lama dia berdiri di sana. Hingga ia melihat seorang ibu yang sedang kerepotan membawa barang belanjaannya.
“Boleh saya bantu bawa, Bu?” kata Dimas.
“Oh iya nak tolong bawakan ini ke mobil ibu yang di sana”, jawab ibu tersebut sambil menunjuk mobilnya.
Dimas sangat bersemangat membantu ibu itu. Namun saat hendak mengangkat belanjaan ibu tersebut, ia melihat sebatang cokelat yang dibungkus oleh kemasan yang sama dengan cokelat yang dimakan oleh pemuda tadi. Ia pun teringat lagi pada Rani.
“… tapi Bu, saya harus…”, kata Dimas terputus-putus.
“Ayo nak cepat, tolong bawa ke sini”, kata ibu tersebut dari dekat mobil.
Dimas pun membawa belanjaan itu menuju mobil ibu tersebut. Setelah semua barang belanjaan dimasukan ke dalam mobil, ibu tersebut mengeluarkan uang receh untuk upah Dimas. Namun, Dimas tidak langsung menerimanya. Ia malah ikut-ikutan mengeluarkan uang receh dari dalam bungkus permennya.
“Bu, saya tidak mau uang ibu. Boleh tidak saya minta cokelat yang ada di kantong belanjaan yang tadi saya bawa?” kata Dimas dengan memelas.
Ibu tersebut tersenyum dan mengambil cokelat itu dari kantong belanjaannya.
“Ini cokelatnya, tapi ingat selagi kamu bisa berusaha untuk mendapatkannya jangan kamu minta-minta ya. Dan satu lagi, ini tolong terima uang dari ibu, karena sedikit apapun pekerjaan seseorang tetap harus dibayar. Kamu paham, Nak?” kata ibu tersebut.
“i..iya Bu. Terima kasih” jawab Dimas.
Betapa malunya Dimas mendengar perkataan ibu itu. Kata-kata yang ia ucapkan pada Rani barusan, ternyata ia mendengarnya kembali dari ibu tersebut. Ya, mungkin cara yang Dimas lakukan itu salah. Tapi apalah daya, uangnya tidak akan cukup untuk mendapatkan cokelat itu. Meski ia harus berbohong pada Rani.
Cokelat yang diinginkan Rani, kini telah ada di tangan Dimas. Ia bergegas menghampiri Rani.
Setibanya di taman, alangkah kagetnya Dimas, apa yang ia lihat bukanlah yang ia inginkan. Rani yang sedang duduk merengek-rengek di bangku taman, kini ia tersenyum ceria dengan wajah yang belepotan oleh cokelat. Terdengar dari jauh Rani berteriak.
“kak Dimas, cokelatnya enak, rasa stroberi loh. Aku…” teriakan Rani menjadi pelan dan terputus-putus karena yang ia lihat adalah wajah kemarahan Dimas yang mulai menghampirinya, “… mau lagi”, sambung Rani.
Sesekali pandangan Dimas pada pemuda yang duduk di taman. Ia melihat pemuda itu tidak memegang cokelat lagi. Yang ada hanya bungkusnya tergeletak di bawah bangku yang sedang Rani duduki.
“Heuh… Rani kamu dengerin kakak gak sih, sudah kakak bilang jangan meminta-minta. Apalagi meminta makanan yang sedang dimakan orang lain”, kata Dimas dengan marahnya.
Rani menangis mendengar kata-kata itu. Dimas pun ikut menangis sambil membersihkan wajah Rani.
“Rani, maafin kakak. Kakak memang tidak sanggup memberikan kamu cokelat itu. Tapi kakak pasti bisa untuk mencari uang lagi supaya dapat membelinya” kata Dimas dengan suara yang rendah.
Rani tak dapat bekata-kata. Air matanya membasahi baju Dimas yang sedang digunakan untuk membersihkan cokelat di wajahnya. Sebenarnya Rani ingin mengatakan sesuatu pada Dimas. Namun ia takut Dimas marah lagi.
“Sudah jangan nangis lagi. Ini kakak bawain cokelat yang Rani mau” kata Dimas masih dengan suara yang rendah.
Rani pun diam dan menerima cokelat yang dibawa oleh Dimas. Dimas membuka bungkus cokelatnya dan menyuapi Rani dengan hati-hati agar tidak belepotan. Rani tersenyum.
“Kak, cobain makan cokelatnya, enak loh”, kata Rani sambil mendekatkan potongan cokelatnya ke wajah Dimas.
Dimas pun ikut memakan cokelat itu.
“Iya enak. Udah ah, kakak gak terlalu suka cokelat. Ini buat Rani aja” kata Dimas.
Inilah salah satu kebohongan yang selalu dilontarkan oleh orang yang menyayangi kita. Dimas pun demikian. Dalam hatinya, Dimas juga ingin memakan cokelat itu. Sambil menunggu Rani menghabiskan cokelatnya, Dimas membuka kembali uang recehnya di dalam bungkus permen. Dihitungnya satu persatu dengan tambahkan uang yang diberikan ibu tadi.
“Kak, kok uangnya masih banyak. Kakak beli cokelat ini pake apa?” kata Rani.
Dimas kembali merasa malu. Berat bagi Dimas untuk mengakuinya kalau ternyata cokelat itu hasil minta dari ibu tadi.
“Udah jangan banyak tanya. Ayo habiskan. Jangan lupa sampahnya dibuang ke tong sampah”, jawab Dimas.
“iya, Kak”, kata Rani.
Cokelat pun habis dan Rani harus membuangnya ke tong sampah yang berada di dekat bangku tempat duduk pemuda itu. Rani terdiam di depan tong sampah itu dan tidak langsung membuang bungkus cokelat yang ada di tangannya. Rupanya ia tidak lagi melihat sisa cokelat yang sebelumnya ada dalam tong sampah itu.
“Maaf kak, coklat yang aku makan itu dari tong sampah ini”, ucapnya dalam hati.
Rani pun kembali ke bangku tempat ia duduk dan mengambil bungkus cokelat yang ada di bawah bangku itu dan kini Rani membawa dua bungkus cokelat untuk dibuang ke tong sampah tersebut.
“Rani, ayo pulang,” ajak Dimas.

Cerpen Karangan: Yana Husnah Ruhyana
Facebook: Yana Husnah Ruhyana

Sepotong Malam Untuk Cinta dan Tuhan

Sepotong Malam Untuk Cinta dan Tuhan


Jika hidup ini adalah misteri. Dimana sudah diciptakan sedemikian rupa bahkan jauh-jauh hari sebelum kita ada. Dengan detil tanpa cela dan rancangan super sempurna yang bahkan tak mampu dilampaui akal dan otak manusia yang digadang-gadang telah berevolusi lebih cepat dari dari makhluk hidup lain. Aku menyebutnya dengan takdir. Bukan hanya manusia bahkan sebuah partikel pun punya takdirnya sendiri. Takdir yang misterius, tak bisa diterka-terka, tak sanggup dihitung-hitung apalagi hanya ditebak. Mungkin kaum atheis sedikit berbeda. Mereka menggangap kelahiran, kematian dan segala apapun yang terjadi hanyalah kebetulan semata. Tak ada urusan dengan segala hal yang tak dapat dicerna dengan logika. Seperti mereka menggangap dunia ini memang terjadi begitu saja. Mereka hanya bisa percaya pada apa yang bisa otak percaya. Urusan takdir, misteri ataupun penciptaan mungkin hanya diperuntukan untuk orang yang di dadanya masih ada secuil iman. Dan misteri hidup yang telah dirancang jauh-jauh hari itu tengah kujalani. Aku belum menemukan alasan mengapa tersudut di kontrakan sumpek ini. Tidur berdesak-desakan seperti kelelawar. Dengan cuaca Jakarta yang selalu panas membuatku seperti dimasukan dalam panci yang mendidih. Entah kenapa membuatku rindu rumah, homesick kah istilahnya?
Padahal baru dua bulan aku pindah ke Jakarta. Dengan cita-cita setinggi langit dan semangat meletup di dada kutinggalkan kampung halaman hanya bermodal ijazah SMA. Namun, Jakarta tetaplah Jakarta. Belas kasih bukanlah sifatnya. Aku bekerja seadanya, dari pagi sampai malam. Cukup dua bulan saja, hanya dua bulan Jakarta mampu merontokkan bintang mimpi di langit yang kurangkai sejak dulu. Menjatuhkan mimpiku sampai di titik nadir. Hingga akhirnya kini kutemukan diriku tersudut di kontrakan ini. Kontrakan dua lantai dimana lantai bawah menjadi multifungsi juga sebagai tempat parkir motor para penghuninya. Aku yang tinggal di lantai dua dan berdesak-desakan harus pintar-pintar mencari ruang sekedar untuk merebahkan tubuh. Entah kenapa, akhir-akhir ini seperti ada yang selalu menggangu tidurku. Seperti kali ini, aku terbangun dan menatap sekeliling semua masih terlelap. Sepertinya insomniaku makin parah. Kulihat masih pukul dua dinihari. Dengan alasan untuk mencari udara segar aku menuju ke lantai atas. Satu-satunya jalan menuju lantai atas adalah melalui sebuah tangga yang terbuat dari besi yang sudah sangat rapuh. Tiap kali kuinjak anak tangganya selalu berbunyi “kreek”. Yang kumaksud dengan lantai atas adalah sebuah tempat tanpa atap yang sekelilingnya dijaga oleh pembatas yang terbuat dari kawat. Tempat ini lebih sering digunakan untuk mencuci pakaian dan menjemurnya sekaligus. Udara malam Jakarta langsung menyambutku. Kuhirup pelan-pelan udara yang banyak mengandung racun. Bukan hanya polusi tapi juga keegoisan yang menyesakkan dada.
Kubagikan pandanganku ke sekitar. Lampu-lampu gedung yang tak pernah mati, mobil-mobil yang tak pernah berhenti dan masih banyak orang yang terjaga. Jakarta memang tak pernah tertidur. Tapi sejak pindah kesini pandanganku selalu tertarik pada sebuah apartemen mewah yang tepat di samping kontrakan ini. Menjadi semacam tempat perbandingan bagi kami. Tiap malam kami sering mencuri lihat dari jendela apartemen yang terbuka bagaimana cara penghuninya mengisi perut. Semuanya rapi, elegan dan mewah. Sebotol wine dan berbagai makanan asing yang tak pernah mampir di mulut kami selalu tersaji di meja makan. Semuanya berkelas dan penuh etika tidak seperti kami yang lebih mirip serigala saat mengisi perut. Maka seperti kutemukan sebuah paradoks. Dan, kami bagai venus yang dingin yang selalu menatap iri pada bumi yang hangat. Hingga suatu ketika ada salah satu teman yang menyeletuk “Tuhan tidak adil ya?”
Semuanya terdiam, entah karena setuju atau bingung. Sementara aku berada dalam kelompok orang yang bingung. Bukan dalam masalah substansi pertanyaanya tapi dalam masalah “Tuhan”nya. Namun aku bukanlah dalam golongan manusia yang tidak percaya pada keeksistensian Tuhan. Mental yang sejak dini dibentuk dengan agama seperti mengaji walau sering bolos, mengerjakan sholat walau lebih sering absen. Tetap membuatku percaya ada sesuatu yang mengatur segala kerumitan konstelasi-konstelasi seluruh galaksi ini. Namun sampai sekarang aku belum menemukan intisari dari pertanyaan “Apa itu Tuhan?”
Banyak yang bilang “Jika kita menemukan cinta maka kita akan menemukan Tuhan”
Aku kembali berpikir, lalu apa itu Tuhan? apa itu cinta?. Jadi saat kita menemukan salah satu maka kita akan mendapatkan keduanya sekaligus. Aku tidak berhenti berpikir. Apakah mungkin cinta dan Tuhan itu seperti mata koin? mereka bersifat tunggal, satu. Satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Mungkinkah mereka saling terikat dan mengikat? lalu seperti sebuah pepatah lama: satu jawaban akan memunculkan seribu pertanyaan. Pernyataan tentang cinta dan Tuhan apakah diperuntukan untuk semua golongan? termasuk kaum h*mos*ksual ataupun le*bian? apakah saat mereka menemukan “cinta” versi mereka mungkinkah mereka juga telah menemukan Tuhan?
Aku menghela nafas. Benang ini makin mengusut. Ketika ruang pertanyaan ini sedikit dimasuki cahaya jawaban hanya membuat kabut gelap makin pekat. Semua runyam dan rumit. Masalah Tuhan memang bukan masalh sederhana. Kita sedang membicarakan penggerak milyaran partikel di alam semesta ini. Otak manusia yang hanya seukuran batok kelapa itu mungkin masih butuh waktu panjang untuk menggapainya. Hati ini terasa makin berat ada sesuatu yang mengganjal disana. Refleks aku menatap ke langit. Mungkinkah dia bersemayam disana? Langit malam menatapku dengan angkuh. Puluhan bintang yang ia sebar sekenanya menjadi pelengkap kesombongannya. Sepertinya ia tak ingin membagi tahu rahasia Tuhan yang sudah jutaan tahun ia simpan rapat di lembar-lembar awannya. Entah mengapa, jika mengingat tentang Tuhan aku mengingat salah satu temanku. Label “teman” yang kuberikan padanya hanya karena salah satu temanku yang lain pernah mengenalkan aku padanya dan kami setidaknya pernah mengobrol. Dia adalah wanita karir yang sukses dengan usianya yang masih sangat muda. Pekerjaannya di salah satu perusahaan asuransi besar menuntutnya untuk selalu tampil prima sehingga kesan perfeksioin tergambar dalam tindakannya. Dan tiap kali aku ngobrol dengan Lestari begitu dia ingin disebut. Entah kenapa aku diserang gejala minder yang hebat. Auranya yang kuat selalu berhasil mengintimidasiku. Bagai dinosaurus dan semut. Dengan tahu diri aku selalu menjaga jarak dengannya takut bila dia pingsan mencium bau kemelaratan dariku. Segala tentang Lestari selalu menarik tapi hal yang paling menarik darinya adalah pilihannya untuk berpindah agama bukan hanya sekali tapi sudah empat kali. Pernah dengan memberanikan diri aku bertanya tentang hal itu.
“Lestari maaf sebelumnya. Menurut kamu Tuhan itu apa?” yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah mengapa dia bisa mudah saja berpindah haluan agama sampai empat kali.
“Ahh… apa yang bisa kubagikan padamu kawan” hatiku langsung mekar hanya karena dia menyebutku kawan.
“Hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Begitu banyak cinta, begitu banyak rahasia. Tak ada yang bisa kau berikan padanya selain rasa percaya. Keintiman itu bahkan melebihi hubungan Adam dan Hawa”
Aku terpana
“Jika kau bertanya padaku tentang apa itu Tuhan? Tuhan itu apa yang bisa kau lihat, apa yang bisa kau dengar, apa yang bisa kau yakini dan apa yang bisa kau rasa. Sebenarnya Tuhan itu berjalan bersama kita, melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar dan merasa apa yang kita rasa. Bahkan Tuhan itu lebih dekat daripada urat nadi. Tuhan itu mencakup segala sesuatu yang dapat terlihat maupun tidak. Apakah kau mengerti?”
Aku mengganguk saja walaupun kalimat-kalimat penuh makna itu terlalu sesak untuk bisa masuk semuanya di kantong intelejensiaku yang terbatas.
“Tapi ingat kawan, penjelasan bukanlah seperti pengalaman. Aku bisa berkata apa saja tapi jika kau tidak pernah mengalaminya sendiri jangan pernah percaya! Aku menjawab pertanyaanmu sesuai pengalamanku” mata lestari makin berbinar ketika menjelaskannya.
Aku tahu pengalaman apa yang telah ia lewati untuk menemui hakikat Tuhan. Walaupun sebenarnya aku juga mendengar kabar ini dari teman yang lain. Dia pernah berkunjung ke Bali, Aceh, Thailand bahkan juga Vatikan untuk menyelesuri berbagai agama. Untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Dia bukan manusia yang menerima begitu saja apa yang sudah “ditumpahkan” ketika lahir. Dia lebih memilih tersesat daripada menerima keadaan begitu saja. Aku makin tertarik dan penasaran.
“Jadi kamu percaya Tuhan itu ada?”
“Pertanyaan seperti itu hanya melecehkan keeksistensian Tuhan yang agung”
Ada sesuatu kekuatan misterius yang meletup-meletup ketika Lestari bicara. Aku tak tahu itu apa.
“Itu alasan kamu pindah agama?” kusuguhkan pertanyaan yang sejak tadi kuburamkan.
Keningnya tiba-tiba mengkerut. Mungkin pertanyaan itu tidak terlalu etis kutanyakan sebagai teman yang baru kenal.
“Maaf…” sergahku langsung
“Tak mengapa. Kau bukan orang pertama yang bertanya seperti itu” Lestari menarik nafas sebentar. Mengumpulkan jutaan bintang gemintang makna yang tersimpan di kepala dan hatinya.
“Seperti yang kubilang, hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Seperti aku. Kedekatan antar manusia dengan Tuhannya itu relatif, beda satu sama lain. Kau tidak bisa mengsamaratakan intensitas kedekatan tiap manusia dengan Tuhannya harus sama dengan tiap manusia lainnya. Bentuk kedekatan itu, keintiman, percaya, cinta dan pengabdian yang diberi label berbeda-beda tiap manusia tergantung bagaimana mereka mengintrepresentasikan dari intensitas itu adalah definisi agama bagiku”
Mendengarnya kepalaku mendadak pening.
“Dan juga agama adalah sebuah perjalanan bagiku. Saat kau lahir kau diberikan kaki untuk memulai perjalanan lalu karena perjalanannya masih jau kau menggunakan sepeda. Di tengah jalan ternyata ada sungai. Kau tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan sepeda kan? Akhirnya kau meletakan sepedamu untuk menggantinya dengan rakit atau perahu”
Aku sedikit paham maksud Lestari. Dia menganalogikan keputusannya untuk pindah agama sebagai perjalanan hidup yang tak mungkin bisa dihindari.
“Jika suatu saat nanti kau telah sampai di tujuan. Apakah mungkin kau melupakan mereka? Tidak kan? Mereka juga yang telah membantumu pelan-pelan untuk sampai di tujuan. Menemukan hakikat hidupmu”
Aku merasa ciut. Aura milik Lestari benar-benar mampu menenggelamkan apapun di sekelilingnya.
“Tapi ingat! Jangan pernah percaya kata-kataku jika kau tidak mengalaminya sendiri”
Aku mengganguk-angguk dengan cepat seperti burung beo. Lestari tetaplah Lestari. Selain cantik dia mungkin adalah wanita langka yang dilahirkan seribu tahun sekali. Lepas dari itu semua dia tetap wanita menarik dalam segala hal terutama kepribadiannya. Dan kudengar kini dia telah menjadi penganut agama Budha. Satu hal yang bisa kutarik kesimpulannya dari semua obrolanku dengan Lestari adalah: yang pasti dia lebih wangi dariku. Kurapatkan tubuh ini untuk bersandar di kawat-kawat pembatas lantai atas ini. Pagi masih enggan untuk datang. Langit Jakarta masih saja gelap seperti kepalaku yang disesaki berbagai pertanyaan. Andai saja ada Lestari disini. Aku ingin menanyakan sesuatu yang belum sempat kupertanyakan waktu itu
“Apa itu cinta?”
Imajinasiku kemudian bekerja. Pasti Lestari akan menjawabnya dengan letupan-letupan imajinasinya yang melimpah yang maknanya akan bertaburan seperti bintang yang harus kutangkap satu demi satu dengan cepat agar tidak ada makna yang terlewat lalu kumasukan dalam kantong intelejensia dan kenanganku. Lestari telah menjadi orang yang bijak di usianya yang masih muda. Namun pertanyaan tentang apa itu cinta dan Tuhan masih mengambang di kepalaku. Aku jadi teringat akan sesuatu yang banyak menjadi inspirasi film, buku, novel atau sinetron. Cinta beda agama. Entah betapa banyak hati manusia yang nelangsa akibat cinta beda agama, beda iman. Terlalu banyak pertentangan hanya untuk mempersatukan dua sejoli ini. Cintamu dan cintaku adalah sama namun Tuhanmu dan Tuhanku adalah beda. Kalimat itulah yang mengiris-iris hati para pelakunya. Di satu sisi mereka tidak ingin meninggalkan Tuhan dalam sisi yang lain mereka juga tidak ingin meninggalkan cinta. Mereka tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Mereka harus memilih salah satu. Ditinggalkan Tuhan atau ditinggalkan cinta. Kedua pilihan bagai simalakama. Maka kenyataan ini berbanding terbalik dengan analogi Tuhan dan cinta itu seperti koin. Ternyata mereka beda, mereka tidak satu. Merka seakan berdiri masing-masing. Kenyataan ini membuat lidahku terasa pahit. Ternyata cinta dan iman adalah beda rasa. Menganalogikakannya dengan suatu bentuk tunggal mungkinkah sebuah kesalahan?
Ternyata benar, dunia ini lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Satu jawaban hanya akan menarik berbagai benang gelap pertanyaan untuk muncul ke permukaan. Dunia bukan hanya diisi hitam dan putih tapi juga abu-abu yaitu sisi dimana semuanya masih buram, tidak jelas, tidak pasti dan kompleks. Tuhan dan cinta sepertinya berdiri di sisi itu. Aku yang selalu dipenuhi kluputan mencoba sedikit bijak. Bahwa segala sesuatu tidak pernah diciptakan mubazir. Bukan hanya sisi putih tapi dunia tetap juga membutuhkan sisi hitam dan abu-abu. Untuk menjaga kerasionalitasan manusia agar manusia tidak berhenti mencari karena kebenaran yang tunggal hanya milikNya. Agar manusia tidak hanya menjadi seonggok daging tanpa arti. Bukankah dengan memakan buah khuldi akhirnya Adam dan Hawa bisa membedakan mana baik dan buruk. Segala sesuatu saling bersangkut paut. Baik itu baik, buruk atau masih belum jelas. Segala sesuatunya memang diciptakan Tuhan begini adanya. Dengan segala kerumitannya, hitungannya dan tingkat kemisteriusan yang selalu dijaga oleh Tuhan agar manusia tahu betapa lemahnya mereka. Sehingga apapun yang manusia ubah, mereka capai dan mereka temukan tetap belum bisa menyingkap kabut milik cinta dan Tuhan. Hidup dan nasib memang fantastis dan sporadis. Menerima itu semua berarti kita juga menerima “ketidak jelasan” Tuhan. Menerima kenyataan cinta dan Tuhan adalah pertanyaan dengan pangkal tanpa ujung yang jelas.
Aku menghela nafas lagi. Membiarkan beban hidupku ikut lepas. Akhirnya aku mencoba larut dalam pasrah. Biarkan semua terjadi sesuai dengan kehendak Nya. Tak usah aku terburu-buru menyingkap misteri hidupku. Biarkan semua mengalir. Segala sesuatu yang belum waktunya hanya akan menimbulkan jawaban yang sembrono.
Perlahan suara adzan Subuh terdengar sayup-sayup membelai kota Jakarta. Ternyata aku sudah melamun berjam-jam untuk memikirkan arti cinta dan Tuhan. Dengan hasil kosong. Tapi entah kenapa aku merasa telah menemukan jawabannya. Jawaban itu hanya bisa dimengerti olh hati dan logika tidak pernah bisa ikut campur. Mataku menatap langit dan seakan juga sedang menatap mata Nya. Hatiku berbisik lirih “Terima kasih Tuhan”
Telah kuhabiskan sepotong malam untuk menemukan hakikat cinta dan Tuhan namun sepertinya waktu seumur hidup pun tidak akan cukup untuk menjabarkannya. Jadi kupersembahkan sepotong malam tadi untuk cinta dan Tuhan. Untuk mereka yang membuat hidup umat manusia jadi lebih berarti. Aku hanya bisa menarik sedikit benang kesimpulan. Jikalau cinta dan Tuhan memang menjaga keeksistensian dan keindahanya yang agung dalam nur yang disebut misteri.

Cerpen Karangan: R.A.P
Facebook: www.facebook.com/agung.c.sum

Selasa, 01 Juli 2014

Seminggu Saja



Seminggu Saja
(serpihan kata dari PKD PMII Polewali Mandar)
Cipt. Ame’

Hari itu menjadi sulit terlupakan bagiku
dan ku harap juga bagimu
Hari pertama ku lalui dengan hanya menaruh tatapan lirih padamu
memandangimu dari sudutku
menatapmu dengan penuh harap namun ragu
sekali lagi hanya memandangimu dari jauhku

Hari ke dua sampai hari ke tiga
aku mencoba untuk mengenal dirimu
ribuan tanya menyerbu hati yang malu-malu
bertanya bak orang yang kebingungan
kebingungan mencari kesejatianmu

Tiba di hari ke empat
tanya dan kesahku tentangmu telah ku dapat
namun untuk lebih dekat itu belum sempat

Dan di hari ke lima
senyum kini mulai terpancar dari paras yang polos ini
seakan bunga mekar di sekeliling pengkelana
telah ku temui saat bersamamu

Dan kemudian bahagia dan kerinduan mulai tak terbaca
saat di mana ku tau hari ke enam dan ke tujuh adalah hari terakhir bersamamu
waktu itu telah menjadi goresan sejarah dan menjadi bagian dari diary hidupku

Rinduku kini mengalir dalam sajak mahabbah
Ar-Rahman dan Ar-Rahim telah ku temui darimu
walau hanya seminggu saja.....

Polewali 29/juni/2014


 photo tyuuu_zpsc6ef6817.jpeg"/>" /> KPA photo 10169318_1490733947824313_8365615283135808455_n_zps90846386.jpg" /> Ame Mayday photo 20140502_110353_zpscef26929.jpg" /> gpmd photo 1012032_1446233695607672_1066147129_n_zps3f4d6c09.jpg" />  photo nbv_zpsc8429ade.jpg"/>" /> gpmd4 photo 1491_678730012152865_1221172235_n_zps4dfde858.jpg"/>" /> gpmd3 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin_zpsf038dc5f.jpg"/>" /> gpmd2 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin-Salin_zps3b3d0b92.jpg"/>" />  photo --9-98-89-98-967_zpsb0261f2e.jpeg"/>"/>" />