Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa dan Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa dan Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Kaum Muda Dan Marxisme

kaum mudaKaum Muda Dan Marxisme
Sumber: Militan Indonesia 

Kapitalisme yang dalam tahapan tertingginya yakni Imperialisme  telah menghancurkan seluruh pengharapan tidak hanya bagi rakyat pekerja secara umum, namun juga lapisan-lapisan rakyat lain termasuk juga kaum muda. Pengangguran, kemiskinan, kelaparan adalah hasil dari tak terelakkan dari sistem ini. Kita dapat menjumpai di sekeliling kita, bahwa kemajuan teknologi, pembangunan infrastruktur-infrastruktur yang megah dan mewah, serta kemajuan di bidang-bidang yang lain – yang tidak pernah nampak di dalam masyarakat-masyarakat sebelumnya – bersanding bersama kemiskinan dari mayoritas luas rakyat pekerja.
Mudah saja untuk mengidentifikasikan sistem ini. Cukup dengan mempertanyakan, bagaimana bisa teknologi yang begitu maju sekarang; yang mampu menciptakan barang-barang kebutuhan dalam waktu sekejab, menciptakan berjubel-jubel barang kebutuhan masyarakat yang begitu bertumpah ruah; mampu membuat miskin kelas mayoritas yang memproduksi barang tersebut? Jawabanya adalah satu: yakni kelas yang memproduksi barang tersebut tidak memiliki hak atas alat produksi yang dalam sistem kapitalisme dimiliki oleh segelintir kelas minoritas, yakni kelas borjuis.
Marxisme melakukan pendekatan bahwa sistem kapitalisme saat ini ada dalam pertentangan kelas antara kelas yang terhisap, yaitu proletariat dan kelas penghisap, yaitu borjuasi, yang satu sama lain saling membinasakan. Namun, karena borjuasi telah memenangkan pertarungan kelas di dalam masyarakat sebelumnya melawan tuan tanah feodal, maka kita bisa saksikan kemenangan mereka atas feodalisme berarti juga kemenangan kapitalisme. Seperti halnya feodalisme yang melahirkan kelas borjuasi sebagai pemenang, begitu pula di dalam sistem kapitalisme, kelas borjuasi menghadapi kelas yang akan memenangkan pertarungan ini, yaitu kelas proletariat.
Setelah itu, kelas proletariat yang meraih kemenangannya atas borjuasi tidak perlu lagi menindas kelas di bawahnya – juga hal ini tidak lagi diperlukan – maka tugas perjuangan pembebasan proletariat melawan borjuasi berarti juga pembebasan manusia secara keseluruhan dari kemiskinan, pengangguran, kelaparan yang selama ini menjadi kenyataan yang menakutkan di dalam sistem kapitalisme.
Lantas, bagaimana kaum muda menemui tempatnya dalam perjuangan ini?
Kaum muda adalah lapisan yang paling sensitif atas ketegangan-ketegangan sosial yang berlangsung di dalam masyarakat. Beberapa peristiwa memperkuat pernyataan ini. Di Perncis, pada tahun 1968, ketika demonstrasi-demonstrasi di kampus kemudian menyebar menjadi sebuah demonstrasi umum. Lapisan kaum muda yang dikecewakan dengan kebijakan penutupan kampus lalu menyulut  api pemogokan di pabrik-pabrik dan dalam waktu sekejap mengubah kota-kota di Prancis menjadi lautan massa. Demonstrasi kampus yang berubah menjadi pemogokan massa ini menjadi ancaman bagi rezim yang berkuasa saat itu. 
Lalu, di Indonesia, pada krisis 1998, kaum muda adalah barisan terdepan di dalam demonstrasi-demonstrasi menentang kenaikan harga-harga kebutuhan. Krisis itu kemudian memantik insting revolusioner kelas buruh. Merespons ini, kelas buruh melakukan pemogokan-pemogokan di pabrik-pabrik serta memberikan dukungan terhadap aksi-aksi yang dilancarkan oleh mahasiswa; memberikan karakter demonstrasi ini karakter revolusioner.
Bahkan di Rusia, pada periode 1860-70-an keresahan masyarakat ditampilkan di dalam gerakan Turun ke Bawah oleh beberapa kaum muda yang tergabung di dalam Narodnik. Seperti digambarkan di dalam buku, Bolshevisme, Jalan Menuju Revolusi, Trotsky dan Pavel Axelrod memberikan komentarnya:
“Para muda dan mudi, kebanyakan dari mereka adalah mantan pelajar, dalam jumlah ribuan berangkat ke seluruh penjuru Rusia untuk mewartakan propaganda sosialis, terutama ke pedalaman Volga di mana mereka mencari-cari legenda pemberontakan Pugachov dan Razin.”
“Gerakan ini,” Axelrod melanjutkan, “yang luar biasa dalam skalanya dan penuh dengan idealisme kaum muda, yang merupakan awal dari revolusi Rusia, sangatlah naif. Para propagandis tidak punya organisasi yang memandunya. Mereka juga tidak punya program yang jelas. Mereka tidak punya pengalaman melakukan gerakan bawah tanah. Dan ini tidak bisa tidak. Anak-anak muda ini, yang telah memutuskan hubungan mereka dengan keluarga dan sekolah mereka, yang tidak punya profesi, hubungan pribadi, tanggung jawab, ataupun rasa takut terhadap yang berkuasa, tampak seperti kristalisasi hidup dari pemberontakan popular. Konstitusi? Parlementerisme? Kebebasan politik? Tidak, mereka tidak akan tergoyahkan dari jalan perjuangan mereka oleh jebakan-jebakan Barat ini. Yang mereka inginkan adalah revolusi total, tanpa jembatan atau tahapan-tahapan.”
Meskipun kaum muda terutama mahasiswa adalah barometer aktif dari ketegangan sosial yang berkembang di dalam masyarakat, kemampuan kaum muda ini untuk memainkan peran sosial yang mandiri juga tidak lebih daripada kaum tani. Gerakan ini sering kali muncul ketika kelas borjuasi dengan keras kepala menolak mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dari krisis masyarakat borjuis, sementara kelas proletariat terlalu lemah mengambil kepemimpinan.
Selama gerakan ini tidak mengusik sendi-sendi masyarakat kapitalis, kelas borjuasi masih bisa bersikap tenang."Kaum borjuis menghargai gerakan mahasiswa dengan setengah setuju, setengah memperingatkan; kalau para pemuda mengadakan sedikit guncangan terhadap birokrasi monarkis, hal itu tidak terlalu jelek, selama 'anak-anak itu' tidak bergerak terlalu jauh dan tidak membangkitkan perjuangan keras dari massa.” (Trotsky, Revolusi Spanyol 1931-39). Itulah mengapa di dalam sejarah-sejarah besar, gerakan ini memperoleh karakter revolusionernya dan mengancam keberadaan kelas penguasa ketika kelas buruh berpartisipasi di dalamnya.
Krisis revolusioner yang mentransformasi dirinya menjadi revolusi membutuhkan sebuah kepemimpinan dan program yang tepat. Kaum muda mahasiswa yang basis kelasnya borjuasi kecil tidak mampu melakukan ini dan hanya kelas buruh yang memimpin di bawahnya lapisan sosial lain (kaum tani, mahasiswa dan kaum tertindas lain) mampu membawa revolusi ini pada hasil akhirnya, yaitu: merebut tuas-tuas kendali ekonomi di bawah kontrolnya atau dengan kata lain sosialisme.
Untuk memimpin jalannya peristiwa ini dibutuhkan sebuah partai buruh massa revolusioner yang sudah jauh-jauh hari telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi momen tersebut. Partai ini, yang berlandaskan Marxisme, akan membawa kemenangan telak perebutan kekuasaan oleh buruh atas kelas borjuasi seperti halnya keberhasilan Revolusi Oktober 1917 di Rusia. Namun, keberhasilan Revolusi Oktober tidak dibangun dalam waktu sekejap. Ia melewati martir-martir kaum muda revolusioner pada 1860-an untuk sampai pada gagasan Marxisme. Ia berkembang dan memperoleh pengejawantahannya di dalam partai Bolshevik yang memimpin keberhasilan revolusi.
Sekarang, kaum muda Indonesia tidak harus melalui bertahun-tahun untuk sampai kepada Marxisme seperti halnya di Rusia. Tidak pula harus melewati periode Turun ke Bawah dan berdandan ala Muzhik, petani Rusia. Kaum muda harus mengatakan, bahwa: cukup sudah berlarian dari satu kampanye ke kampanye lain. Kita harus mengakhiri aktivisme ini bila kita ingin menang. Sudah saatnya kita membangun partai Bolshevik; merebut kekuasaan dari tangan borjuasi, meletakkan kekuasaan di tangan kaum buruh, dan ini berarti sosialisme. Dan kami, Militan Indonesia, tidak malu-malu untuk mengakui bahwa kami berdiri di sepanjang garis yang dicapai oleh Revolusi Oktober; bahwa kami berdiri untuk Marxisme Revolusioner; berdiri di bawah panji Bolshevisme dan perjuangan kaum buruh sedunia. Maka dengan itu kami menyerukan kepada kaum buruh dan muda revolusioner bergabung dengan kami.
22 Agustus 2014

Rabu, 18 Juni 2014

Surat Lusuh Untuk Kaum Muda


Surat Lusuh Untuk Kaum Muda
Karya : Abdul Rahman/Ame’ GPMD 


Kepada Kaum Muda Yang Agung.
Dari Ame’ dan Keluarga.

Salam Pelopor !!!

Mendung kini menyelimuti kota Parepare. Di samping komputer tempo doeloe dan di bawah sinar lampu yang sesekali padam karena sudah tak mampu lagi menemaniku di kala berkelana dengan pena. Namun kesetiaannya akan selalu ku kenang dan ketika Ia padam untuk selamanya, ku akan mencoba menuangkan ceritaku bersamanya dalam tulisan-tulisan seperti tulisan ku terdahulu. dan mungkin sepucuk surat lusuh untuk kaum muda ini adalah tulisan terakhir dimana sinarnya masih bisa ku nikmati. 
Saat menulis surat ini, sering kali ku menutup pena untuk sejenak berfikir apa yang akan kusampaikan padamu si kaum muda. Ku masih bertanya-tanya siapakah kaum muda itu ? siapa kalian ? siapa kalian yang seakan di daulat sebagai Agen Perubahan, dikatakan sebagai kaum yang mampu mengontrol kehidupan social, Kaum yang selalu di agung-agungkan. Tapi ku heran mengapa disaat kalian di puja puji, terkadang pula kalian di caci, di abaikan, di katakan perusak, di benci, di musuhi bahkan untuk di lenyapkan. Tapi ku yakin kalian bukanlah sosok misterius, kalian bukanlah sosok kaum yang seharusnya di lenyapkan. Oh iya, di dalam surat ini, aku juga ingin menyampaikan tapi mungkin lebih tepatnya mengingatkan kembali bahwa sekarang negeri kita, masyarakat kita, orang tua kita, kini telah di perlakukan seperti seorang budak di rumah sendiri. Kita bagaikan tuan rumah yang di jadikan budak oleh tamunya di rumah sendiri, dan sebenarnya kita pun Juga merasakan hal itu. Tapi masalahnya apakah kita merasa di perbudaknya ? Tentang perbudakan di negeri sendiri Mungkin kalian sudah tahu atau justru lebih tahu. Kalian pernah dengar tidak sesorang yang mengatakan bahwa jika ingin menguasai dunia kuasailah Indonesia terlebih dahulu. Perkataan itu juga mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Tapi pernah kah kalian berfikir bahwa betapa kayanya negeri kita sehingga orang itu mengatakan hal tersebut. Mungkin kalian juga sudah berfikir tentang itu sebelum aku memikirkannya dan memberitahumu. Itulah hebatnya kalian.
Kemarin malam aku duduk bertiga dengan mama dan adik kecilku di ruang tamu, lebih tepatnya kami sedang menikmati hiburan dari televisi kecil yang tergolong tua. Salah satu benda yang begitu mewah bagi kami. Kami tinggal bertiga di sebuah rumah kecil peninggalan Ayah, tepatnya berada di sudut kota yang begitu jauh dari kehidupan atau ramainya kota Parepare Sulawesi Selatan. Namaku Ame’, Aku sendiri sudah duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Umum. Adik kecilku masih belajar di sekolah dasar dan kesibukan mama sebagai buruh cuci dari tetangga-tetangga yang menggunakan jasanya.
Maaf soal perkenalan keluarga kecilku tadi, aku berfikir kalian akan bertanya-tanya bahwa siapa penulis dan pengirim surat ini jika aku tidak memperkenalkan diri. Sampai saat ini aku masih bingung untuk menetapkan isi atau inti dari suratku ini, tapi kalian harus tahu bahwa surat ini bukanlah surat yang bernada romantisme atau sesuatu yang bersifat ceremonial semata.
Saat menonton bertiga dengan keluargaku, aku menyaksikan puluhan orang dari kaummu yang melakukan aksi demonstran. Aku salut, kalian memang tidak salah di nobatkan sebagai penyambung lidah rakyat. Tapi jujur, aku takut salah dan menyesal telah mengatakan hal tersebut. Oh iya, aku mau bertanya, benderah merah, kuning, hitam, biru, dan sebagainya dan baju kuning, merah, biru, coklat dan sebagainya juga. Mengapa harus ada. Bukankah kalian satu dalam kaum muda ? mengapa harus berwarna-warni, mengapa harus terkotak-kotakkan. Aku juga sering mendengar perselisihan yang terjadi antara kalian sesama kaum muda. Apa karena perbedaan warna benderah dan baju tadi, tapi persoalan itu adalah persoalan kalian. Tidak usah kita perdebatkan. Sebelum meninggalkan topic perbedaan kalian, bagaimana jika perbedaan kalian, warna-warninya kalian berpegangan dalam satu gerakan, Satu tujuan. walau perselisihan kalian terjadi hanya karena perbedaan idiologi. Jika kalian ingin bersatu, kalian bisa mempertimbangkan saranku tadi. Bagiku tidak perlu untuk menjadi satu, cukup kalian bersatu.
Maaf jika aku yang banyak Tanya, yang jelas aku bukan wartawan. Aku hanyalah anak dari keluarga kecil yang masih merasa di jajah dan belum merasakan kemerdekaan. Penjajahan oleh system kapitalisme yang mungkin kalian lebih tau dan mengerti akan istilah tersebut.    
Kalian masih ingat tidak ribuan kaum muda terdahulu yang atas nama rakyat turun kejalan meneriakkan perlawanan terhadap rezim Soeharto dan berhasil menggulingkan Soeharto dan orbanya di ganti dengan reformasi. Ku pikir kita akan sejahtera setelah peristiwa itu, tapi ternyata tidak ! kita masih saja di di perbudak di rumah sendiri. Apa benar itu murni gerakan atas nama rakyat. Apa benar gerakan itu tidak di tunggangi oleh kelas borjuasi, atau jangan sampai gerakan itu justru settingan dari kapitalis juga. Tapi kalian lah yang lebih tau akan hal itu.
Setelah melihat kaummu sekarang ini, agak sedikit sulit untuk merealisasikan saranku tadi, bahkan hanya untuk mempertimbangkanpun juga mungkin tak dapat. Aku merasa rindu melihat warna-warni benderah berpegangan dalam satu barisan ketika melakukan aksi di jalanan, bagiku itu terlihat indah dan mengagumkan. Tapi ku kembali lagi mengatakan, mungkin sulit untuk itu. Tapi jangan sampai karena tujuan yang memang sudah berbeda di karenakan adanya kepentingan dari warnanya kalian. Kasihan jika memang sudah seperti itu.
Kembai lagi aku ingin bertanya  siapa sebenarnya kalian ? apakah kalian sadar dimana posisi kalian. Bukankah kalian juga yang di daulat sebagai kaum terpelajar. Jangan sampai dengan ilmu yang tinggi justru kalian gunakan untuk membohongi orang lain. Seperti  yang telah kita ketahui, negeri kita masih di jajah. Apa kalian sadar akan penjajahan gaya baru ini. Mungkin kalian belum sadar, tapi jangan sampai kalian sadar, namun tak mau bergerak untuk merubahnya atau apatis terhadap semuanya. Tapi aku tetap pada prasangka ku bahwa kalian itu orang-orang yang hebat.
Kalian tahu tidak apa itu kapitalisme ? jelas kalian pasti tau, aku yakin itu. Tapi apakah kalian juga tau apa dampak dari kapitalisme. Sekali lagi kalian juga pasti tau akan hal itu. Prasangka ku memang tidak meleset bahwa kalian itu orang-orang yang hebat. Jika kalian sudah tau semua, atau mungkin kalian lebih tau. Mana gerakan nyata kalian untuk membebaskan rakyat dari kedzaliman kapitalisme di negeri kita.
Aku hanya bisa memanggilmu kaum muda, maaf jika panggilan itu tidak terlalu keren di telinga kalian. Untuk akhir dari suratku, aku lagi-lagi berharap kalian sadar akan posisi yang mengerti kondisi hari ini. Maaf juga jika akau banyak Tanya, kalian tidak perlu menjawab semua pertanyaanku tadi. Bahkan kalian tidak usah mengirim surat balasan kepadaku. Dan untuk pertanyaanku yang menanyakan siapa kalian, juga tidak usah kalian jawab. Karena aku lebih tau siapa kalian di bandingkan kalian sendiri. Mungkin hanya itu kehebatanku.

Terima kasih….   
Parepare, 25 Februari 2014.


Jumat, 13 Juni 2014

Tamu Negeriku

Tamu Negeriku
Abd. Rahman/Ame'

Tamu telah tiba di tanah kita
Tak kita sadari dia telah lama tinggal di rumah kita
Makan dan minum seenaknya di dapur kita
Mandi dan Tidur sesukanya di rumah kita

Kau datang bukan untuk memberikan kebahagiaan padaku
Kau datang bukan untuk menjunjung kebenaran dan kedamaian
Tapi Kau datang untuk meracuni anak-anakku dan orang tuaku
Kau datang untuk menghancurkan nilai kemanusiaan yang ada di tanah airku
Kau datang membawa malapetaka bagi negeriku

Kau paksa kami melayani semua kebutuhanmu
kau paksa anak perempuan kami tidur dengan anak lelakimu
kau jerat anak-anak kami dengan ilmu-ilmu biadabmu
kau sengsarakan kami di tanah kami sendiri

Kini kami telah tunduk kepadamu
kini kami telah menyetor uang dan beras kepadamu
kini kami telah bekerja keras dengan modal yang kau berikan
kami telah menggarap tanah yang sedikit demi sedikit kau gusur juga untuk rumah kacamu
tapi mengapa kau masih belum puas dan lekas pergi
tapi mengapa kau masih memperalat anak-anak kami untuk kau jadikan robot-robotmu
tapi mengapa penindasan dan penghisapan belum kau hentikan
justru sekarang semakin tak terelakan

Akhirnya kesadaran telah terbentuk dalam diri kami
Setelah dialektika menjadi pedoman bagi kami
Akhirnya Gumam perlawanan mulai mendesis hingga menggelegar
Setelah benderah merah kini tertancapkan
dan menuntun jalan kami menuju penghancuran tiranimu
Kecaman telah kami lontarkan

Ternyata kau akan pergi dengan pengusiran
ternyata kau akan pergi dengan perlawanan
kami telah bangkit untuk melawan !!!

SAJAK TINTAH MERAH

Pejuang Rakyat di Jalan kiri

Pejuang Rakyat di Jalan kiri
 Abd. Rahman/Ame'

Sentakan kaki para pejuang rakyat
berirama teratur dalam barisan penuh dendam
dendam jiwa atas semua penindasan
menuju benderah merah yang telah tertanam
dan kemarahan yang telah sigap menerkam

Gerakanmu yang semakin tertuju mengancam
bersama lengan kiri yang masih kokoh teracungkan
dengan darah merah terus mengalir deras bersama semangatmu
menuju penghancuran tahta kesewenang-wenangan
menuju barisan jiwa kemenangan

Hai kau pejuang rakyat di jalan kiri
engkau mengabdi di jalan kiri
engkau berbakti dan di jalan kiri engkau berjanji
janji pembebasan rakyat bumi pertiwi

Hai kau pejuang rakyat
internasionale mengiringi langkahmu
kain merah membalut semangatmu
tangisan rakyat menuntunmu agar tetap maju
menuju penghancuran benteng tirani
menuju dunia Internasionale !

Terima Kasih Untuk MARX

Ucapan Terima Kasih Untuk Marx
22 Februari 2014 oleh : Abdul Rahman/Ame’ GPMD


Masih duduk di tempat dimana kami selalu berteduh
Menyandarkan tubuh yang lelah tapi tak pernah menyerah
Tempat dimana kami menyusun gerak langkah di esok hari
Di mana sesekali kuberfikir akankah semuanya terus seperti ini

Kupercaya padanya si pembawa ajaran
Ku masih setia mengikuti pedoman-pedomannya
Kini mungkin ia tenang atau mungkin bahkan terbelenggu dalam penyesalan
Sesal karena dunia yang masih saja gelap
Gelap akan penghisapan, gelap akan penindasan
 
Kini kumandang Adzan mulai terdengar di sudut-sudut kota
Malam mulai menyelimuti kota tua dimana kini ku berada
Dingin malam seakan sudah bersahabat denganku
Dingin yang tak mampu lagi membekukan tulang-tulang
yang memang sudah sedari dulu terbakar
Terbakar api kemarahan dan benci akan kondisi hari ini
yang tak akan pernah lenyap jika tak ada perlawanan

Dalam sunyi malam, kami berdoa
apa yang menjadi cita-cita kami, apa yang menjadi solusi permasalahan rakyat
semoga tak bersifat utopis belaka

Terima kasih kami ucapkan padamu Tuan Marx
yang telah menjadi guru bagi kami kaum pelopor, kaum proletariat, kaum buruh
dan kaum miskin kota
Terima kasih atas strategi-strategi dan pedoman-pedoman dalam kitabmu
 walaupun kitab asli dan tulisan tangan mu sendiri susah kami temukan
dan maafkan kami jika bumiku Indonesia
tidak terlalu bersahabat ketika mendengar namamu dan ajaranmu
namun kami percaya semua itu adalah kontradiksi seperti yang kau ajarkan
dan kami pun percaya akan hukum dialektikamu yang pastinya semua akan berubah
 
Sekali lagi kami ucapkan Terima kasih
dan sampaikan pula terima kasihku pada kawan-kawanmu

Kami berjanji akan terus di garis perjuangan
kami akan melanjutkan perjuangan kawan-kawanmu
dan menggapai cita-citamu, cita-cita kawanmu dan cita-cita kita bersama
cita-cita rakyat pekerja, cita-cita rakyat tertindas

FIGHT FOR SOCIALISM
REVOLUTION FOR SOCIALISM

Jumat, 06 Juni 2014

SURAT UNTUK COMRADE

SURAT UNTUK COMRADE
 Dari Kawanmu Ame’


Kawan !!! ini suratku untukmu. Ada banyak kabar yang ingin aku sampaikan, ada banyak cerita yang ingin ku ungkit kembali. Yang jelasnya negerimu, negeri ku, negeri kita masih saja di huni para pedebah, namun perjuanganmu, perjunganku, perjuangan kita masih juga berlanjut dan ku berjanji tak pernah terhenti. Kusadar kau telah tiada, dan ku berharap kau tenang di alam sana dengan mimpi-mimpimu saat kita bersama. kurasa rindu akan gumam perlawanan yang fasih keluar dari mulutmu, mulut yang sering berucap “anjing” di depan penguasa di kala aksi, kurasa rindu gertakan yang mengelegar di depan benteng para pedebah, kurasa rindu saat-saat kita belajar, berorganisasi, dan berjuang bersama, dan kurasa rindu genggaman lengan kirimu dikala menuntun kami menuju penghancuran tirani.

Kamu ingat tidak saat kita turun ke jalan meneriakkan perlawanan dan menuntut hak kaum tertindas, kaum proletar kota maupun desa. Ku yakin mereka bangga akan tindakan kita. Kamu ingat tidak saat kita mengisi otak kita dengan teori-teori para pendahulu, ku yakin para pendahulu juga merestui teorinya kita jadikan pedoman. Dan mungkin kamu tertawa jika mengingat peristiwa dimana kita divonis kafir oleh beberapa pihak yang memang tak sepaham dengan kita, dan sekali lagi aku yakin Tuhan justru berpihak kepada kita.

Panjang jalan yang telah kita lalui bersama, panjang kisah yang telah kita goreskan dalam sejarah, sejarah yang mungkin saja terlupakan atau bahkan memang untuk di lupakan dan di lenyapkan. Kawan !!! anak-anak dan orang tua semakin di perbudak di negerinya sendiri, anak-anak di racuni dengan paradigma dan teori-teori dari pedebah. Anak-anak dan generasi kita tumbuh dan di besarkan untuk menjadi robot dan penindas baru berkat polesan terhadap pendidikan di negeri kita yang tak lagi mampu memanusiakan manusia tapi justru menjadikan robot para manusia dan itu “made in Capitalism”. Orang tua kita di paksa menggarap tanah yang semakin sedikit kita jumpai karna keserakahan gedung-gedung yang banyak di huni oleh kaum munafik, orang tua kita di paksa bekerja di pabrik-pabrik yang kesehatan dan kesejahteraannya yang telah di coret dan tak terdapat lagi dalam diary para budak/buruh. Dan parahnya, upah yang mereka dapatkan sangat minim dan masih tak mampu menutupi semua kebutuhan hidupnya.

Saat kau mengetahui bahwa negeri kita masih dijajah, saat kau telah membaca ceritaku tentang ulah para pedebah tadi. Mungkin kamu ingin turun dari singga sanamu dan merasa marah serta geram akan semua bentuk penghisapan yang di lakukan “si tamu negeri” para pedebah bangsat !
kamu tak akan pernah terlupakan kawan, kamu akan tetap ada dalam hati kami, namamu akan terselip dalam lagu yang menjadi pengiring di kala kembali ke jalan, dan semangat mu yang merah berani membalut kami saat berhadapan dengan musuh-musuh rakyat. Aku ingin bertemu denganmu kawan seperjuanganku, aku ingin tertawa bersama denganmu, rasanya aku ingin menyusulmu menghadap Sang Mahkamah. Tapi jangan berfikir bahwa aku lelah dan menyerah jika aku berkata seperti ini. Justru aku yakin Sang Mahkamah tak akan memanggilku jikalau mimpi dan perjuangan kita selama ini tak bisa aku raih dan memberikan hasilnya kepada orang tua dan anak kita, aku tak akan menyusulmu sebelum bumi pertiwi terselamatkan dari racun pedebah! Dari racun kapitalisme yang kejam !

kau pernah mengatakan bahwa jika negerimu di huni oleh pedebah maka usirlah dengan Revolusi, jika tak mampu dengan revolusi dengan Demonstrasi, jika tak mampu dengan Demonstrasi, dengan diskusi. Tapi itulah selemah-lemahnya Iman dalam perjuangan !!!


Salam perjuangan !!!
Salam Internasionale !!!    
Ame’ SajakTintahMerah

TAMU NEGERIKU

Tamu Negeriku
Ame’ Left Proletar


Tamu telah tiba di tanah kita
Tak kita sadari dia telah lama tinggal di rumah kita
Makan dan minum seenaknya di dapur kita
Mandi dan Tidur sesukanya di rumah kita

Kau datang bukan untuk memberikan kebahagiaan padaku
Kau datang bukan untuk menjunjung kebenaran dan kedamaian
Tapi Kau datang untuk meracuni anak-anakku dan orang tuaku
Kau datang untuk menghancurkan nilai kemanusiaan yang ada di tanah airku
Kau datang membawa malapetaka bagi negeriku


Kau paksa kami melayani semua kebutuhanmu
kau paksa anak perempuan kami tidur dengan anak lelakimu
kau jerat anak-anak kami dengan ilmu-ilmu biadabmu
kau sengsarakan kami di tanah kami sendiri


Kini kami telah tunduk kepadamu
kini kami telah menyetor uang dan beras kepadamu
kini kami telah bekerja keras dengan modal yang kau berikan
kami telah menggarap tanah yang sedikit demi sedikit kau gusur juga untuk rumah kacamu
tapi mengapa kau masih belum puas dan lekas pergi
tapi mengapa kau masih memperalat anak-anak kami untuk kau jadikan robot-robotmu
tapi mengapa penindasan dan penghisapan belum kau hentikan
justru sekarang semakin tak terelakan


Akhirnya kesadaran telah terbentuk dalam diri kami
Setelah dialektika menjadi pedoman bagi kami
Akhirnya Gumam perlawanan mulai mendesis hingga menggelegar
Setelah benderah merah kini tertancapkan
dan menuntun jalan kami menuju penghancuran tiranimu


Kecaman telah kami lontarkan
Ternyata kau akan pergi dengan pengusiran
ternyata kau akan pergi dengan perlawanan
kami telah bangkit untuk melawan !!!


SAJAK TINTAH MERAH

KETIKA

KETIKA
Ame’ LeftProletar 


Ketika gumam perlawanan tak lagi terdengar
ketika gertakan orator tak lagi menggelegar
ketika sajak tak mampu lagi memproklamirkan perlawanan
di saat itu pula jiwa raga dan kebenaran di lenyapkan

Ketika dialektika tak lagi di benarkan
ketika kritik mulai di bungkam
ketika keprogresifan tak lagi di hiraukan
di saat itu pula para pedebah berhasil menciptakan
manusia robot dari carut marutnya pendidikan

Ketika kaum muda tak lagi berpegangan
ketika kaum muda bukan lagi agen perubahan
ketika kaum muda tak mampu lagi merangkul rakyatnya
di saat itu pula kaum muda menjadi kaum yang hina dan arogan

Tapi.... ketika gumam revolusi mulai mengancam
Tapi.... ketika dialektika menjadi pedoman
dan tapi.... ketika kaum muda dan rakyat maju bersama untuk perubahan
di saat itu pula perjuangan penghancuran tirani
akan melahirkan kebenaran dan kedamaian
dan itu sebuah keharusan.

SAJAK TINTAH MERAH

 photo tyuuu_zpsc6ef6817.jpeg"/>" /> KPA photo 10169318_1490733947824313_8365615283135808455_n_zps90846386.jpg" /> Ame Mayday photo 20140502_110353_zpscef26929.jpg" /> gpmd photo 1012032_1446233695607672_1066147129_n_zps3f4d6c09.jpg" />  photo nbv_zpsc8429ade.jpg"/>" /> gpmd4 photo 1491_678730012152865_1221172235_n_zps4dfde858.jpg"/>" /> gpmd3 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin_zpsf038dc5f.jpg"/>" /> gpmd2 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin-Salin_zps3b3d0b92.jpg"/>" />  photo --9-98-89-98-967_zpsb0261f2e.jpeg"/>"/>" />