Tampilkan postingan dengan label Tintah Merah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tintah Merah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

CATATAN

CATATAN
Widji Tukul


Gerimis menderas tengah malam ini
dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
saat pergi
cuma pelukan
dan pipi kiri kananmu
kucium
tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak ada (seminggu sesudah itu
sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang
dari yang kalian harapkan!)
Dada mengepal perasaan
waktu itu
cuma berbisik beberapa patah kata
di depan pintu
kau lepas aku
meski matamu tak terima
karena waktu sempit
aku harus gesit
genap setengah tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
bergegasnya pukulan jantung
dan langkahku
karena penguasa fasis
yang gelap mata
Aku pasti pulang
mungkin tengah malam dini
mungkin subuh hari
Pasti
dan mungkin
tapi jangan
kautunggu
Aku pasti pulang dan pergi lagi
karena hak
telah dikoyak-koyak
tidak di kampus
tidak di pabrik
tidak di pengadilan
bahkan rumah pun
mereka masuki
muka kita sudah diinjak!
kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan
ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang
kalau mereka bertanya
"apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya
yang dirampas dan dicuri.

Aku Ingin Jadi Milik Kalian

Aku Ingin Jadi Milik Kalian 

Aku Ingin Jadi Milik Kalian
Aku ingin jadi lembaran koran
Menyelimuti kalian yang tidur di jalanan
Aku ingin jadi botol kering
Tempat kalian menampung keping demi keping
Aku ingin jadi sandal jepit
Mengalasi kaki melangkah di jalan raya dan gang sempit

Aku tak ingin menjadi penyelamat kalian
Aku tak ingin jadi bagian kaum dermawan
Aku hanya ingin jadi milik kalian
Aku hanya ingin bersama kalian

Aku ingin jadi dua atau tiga bilangan
Mengartikan kalian berhasil dalam ulangan atau ujian
Padahal kalian harus menyambi keluar masuk terminal jual gorengan
Aku ingin jadi sederetan huruf dan angka
Menyebutkan kalian dapat beasiswa
Karena prestasi yang kalian punya
dan menumbuhkan mimpi cita-cita
meski hanya sementara

Aku tak ingin menjadi penyelamat kalian
Aku tak ingin jadi bagian kaum dermawan
Aku hanya ingin jadi milik kalian
Aku hanya ingin bersama kalian

Aku ingin jadi arit, cangkul, dan mata bajak
Kalian pakai membuka lahan dan membuat alam liar jadi jinak
Aku ingin jadi kopi yang kalian hirup dengan enak
Sembari istirahat dari menggarap tanah untuk sejenak
Aku ingin jadi kretek yang kalian hisap dengan kompak
Saat kalian memikirkan Paidi yang terpaksa jadi tukang becak
Saat kalian merenungkan Denok yang jadi TKW untuk bayar hutang yang ia tunggak
Semua menjual tanahnya pada makelar, pada tuan tanah, yang tak pernah menggarap meskipun sepetak
Semua kehilangan tanah karena ancaman dan karena digertak
Dan bukan kepada kita pemerintah berpihak

Aku ingin jadi lembaran kertas tempat kalian membaca bahwa penggarap punya hak
Kalian pakai sebagai landasan berkumpul, bersatu, dan bergerak

Aku tak ingin menjadi penyelamat kalian
Aku tak ingin jadi bagian kaum dermawan
Aku hanya ingin jadi milik kalian
Aku hanya ingin bersama kalian

Dalam setiap kebangkitan
Dalam setiap kemunduran

Aku ingin jadi palu
Membantu memecah batu
Aku ingin jadi putih dan biru
Warna seragam dan kerahmu
Aku ingin jadi loker warna kelabu
Tempat kau menaruh barang bawaan dan memasang foto anakmu yang lucu-lucu
Aku ingin jadi check log di pintu
Engkau pasang tepat jam setengah tujuh
Aku ingin jadi lembaran slip tiap tanggal satu
yang selalu engkau tunggu-tunggu
dan kau terima dengan haru

Aku ingin jadi hari sabtu
Hari berkumpul dan membahas permasalahan terbaru
tentang lembur paksa, keamanan kerja, buruknya bahan baku
atau tentang mesin tua yang harusnya sudah diganti sejak dulu
atau tentang upah yang masih mengacu UMK lama yang tak lagi berlaku

Aku ingin jadi catatan keuangan yang akurat dan tak keliru
yang bisa kau minta saat majikan mengaku tidak mampu

Aku ingin jadi petisi yang penuh tanda tangan hingga seribu
untuk ajukan tuntutan serius pada suatu waktu

Aku ingin jadi koran dan selebaran yang menggebu-gebu
Penuh data, mengungkap fakta, serta menyeru-nyeru

Aku ingin jadi bilah-bilah bambu
Tempat panji perjuangan berkibar diterpa angin menderu
Di medan perjuangan, kaum buruh bersatu

Aku ingin jadi barikade logam dan kayu
Dalam mogok kerja yang sudah seminggu
Kalian sepenuhnya memilikiku

Aku tak ingin menjadi penyelamat kalian
Aku tak ingin jadi bagian kaum dermawan
Aku hanya ingin jadi milik kalian
Aku hanya ingin bersama kalian

Dalam setiap kekalahan
Dalam setiap kemenangan

Dua puluh dua lewat tiga puluh

Dua puluh dua lewat tiga puluh
 


Dua puluh dua lewat tiga puluh
Dua bocah perempuan duduk di pinggir jalan
Diam, kepala tertunduk, susah payah menahan kantuk
Dipangkunya kotak peminta sumbangan, tak lagi kuat bergerak hampiri pengendara satu-persatu

Dua puluh dua lewat tiga puluh
Delapan jam lagi anak-anak usia meeka haus berangkat ke sekolah namun di malam selarut ini mereka masih berada di jalanan
Dimana mereka tinggal dan bagaimana mereka pulang, tak seorang pun tahu
Dan baliho berwajah keluarga walikota kampanyekan kota ramah anak masih berdiri pongah di depan balaikota

Dua puluh dua lewat tiga puluh
Derajat celcius sudah di angka delapan belas
Dua bocah hanya berkaos tipis dan bercelana bekas
Demi Tuhan, diantara para pengendara berjaket ini masih ada yang bepikir mereka sekedar pedagang belas kasihan

Buruh dan Tani (Sajak Kaum Seperjuangan)


Buruh dan Tani (Sajak Kaum Seperjuangan)

Buruh dan Tani - Sajak Kaum Seperjuangan
Buruh dan Tani (Sajak Kaum Seperjuangan)
(i)
Dunia ini adalah hasil kerja keras buruh dan tani
Buruh yang produksi pupuk, salurkan benih, dan rakit traktor pembajak bumi
Sementara Tani yang garap tanah, tanam benih, rawat tanaman, dan panen hasil produksi
Hingga padi jadi nasi, gandum jadi roti, biji jadi kopi, dan semua yang awalnya benih jadi siap dikonsumsi,
Semua berkat jasa kaum buruh dan kaum tani yang besarnya jelas tak terhitung lagi

Kerja yang keras, jasa yang besar harusnya diganjar imbalan penuh kebaikan
Jadi bagaimana mungkin buruh tinggal di perkampungan kumuh dan tidur berhimpitan?
Bagaimana mungkin tani selalu bingung bayar hutang dan apa yang esok akan dimakan?

Ternyata yang bekerja paling keras bukan yang menikmati hasil terbesar
Ternyata yang menikmati hasil terbesar bukan yang bekerja paling keras

Pabrik-pabrik siapa yang punya
Pabrik-pabrik siapa yang kerja
Mesin-mesin siapa yang miliki
Mesin-mesin siapa yang buat beroperasi

Kalau cuma modal alasan pembenaran
modal tak buat mesin berputar kalau tak ada buruh yang mengerjakan
Kalau tak ada buruh yang mengerjakan, keuntungan tak bisa dihasilkan
Jadi siapa yang lebih berperan

Tanah-tanah, siapa yang kuasai
Tanah-tanah, siapa yang garap dan tanami
Lahan-lahan, siapa yang monopoli
Lahan-lahan, siapa yang buat panen terjadi

Kalau cuma sertifikat alasan pembenaran
Sertifikat tak bisa tumbuhkan tanaman
Tanaman tak bisa ditumbuhkan kalau tak ada yang mengerjakan
Kalau tak ada tani yang kerjakan panen tak bisa didatangkan
Jadi siapa yang lebih berperan

Buruh atau kaum majikan
Tani atau tuan tanah dan konglomerat perkebunan

Pekerja dan penggarap
atau
penindas dan penghisap

Kami
atau
Mereka

Dimana engkau berpihak?
(ii)
Dimana engkau berpihak?
di saat jasa yang besar malah dibalas penindasan yang sangat bar-bar
Saat buruh dihisap tenaganya sementara keuntungan yang mereka hasilkan tak dibayar
Saat tani dirampas tanahnya dan diberangus haknya, oleh tuan tanah dan konglomerat perkebunan-perkebunan besar
Saat buruh yang melawan kaum majikan mengirim pasukan preman yang siap menghajar
Saat tani yang melawan ada peluru dan popor yang dapat membuat rakyat terkapar

Beginilah bagaimana jasa yang besar tetap menyisakan perut yang lapar
Beginilah kerja yang keras malah diganjar pemiskinan yang mengakar

Dimana engkau berpihak?
Di kubu kaum majikan bersama pasukan preman, birokrat yang kenyang sogokan, dan aparat keamanan yang mengamankan penindasan
Di kubu kaum tuan tanah dan konglomerat perkebunan yang mengepung bersama lintah darat, tengkulak, dan bandit perkampungan
ataukah bersama kami yang melawan penindasan

Dimana engkau berpihak?
(iii)
Buruh dan tani kaum seperjuangan
Kaum yang membangun dunia dan memberi makan
Dunia tak butuh kaum yang berpangku tangan, parasit penimbun kekayaan
Buruh dan tani pihak pembebasan, pihak pembangun masyarakat tanpa penindasan

Buruh dan Tani (Sajak Kaum Seperjuangan)
(i)
Dunia ini adalah hasil kerja keras buruh dan tani
Buruh yang produksi pupuk, salurkan benih, dan rakit traktor pembajak bumi
Sementara Tani yang garap tanah, tanam benih, rawat tanaman, dan panen hasil produksi
Hingga padi jadi nasi, gandum jadi roti, biji jadi kopi, dan semua yang awalnya benih jadi siap dikonsumsi,
Semua berkat jasa kaum buruh dan kaum tani yang besarnya jelas tak terhitung lagi
Kerja yang keras, jasa yang besar harusnya diganjar imbalan penuh kebaikan
Jadi bagaimana mungkin buruh tinggal di perkampungan kumuh dan tidur berhimpitan?
Bagaimana mungkin tani selalu bingung bayar hutang dan apa yang esok akan dimakan?
Ternyata yang bekerja paling keras bukan yang menikmati hasil terbesar
Ternyata yang menikmati hasil terbesar bukan yang bekerja paling keras
Pabrik-pabrik siapa yang punya
Pabrik-pabrik siapa yang kerja
Mesin-mesin siapa yang miliki
Mesin-mesin siapa yang buat beroperasi
Kalau cuma modal jadi alasan pembenaran
modal tak buat mesin berputar kalau tak ada buruh yang mengerjakan
Kalau tak ada buruh yang mengerjakan, keuntungan tak bisa dihasilkan
Jadi siapa yang lebih berperan
Tanah-tanah, siapa yang kuasai
Tanah-tanah, siapa yang garap dan tanami
Lahan-lahan, siapa yang monopoli
Lahan-lahan, siapa yang buat panen terjadi
Kalau cuma sertifikat jadi alasan pembenaran
Sertifikat tak bisa tumbuhkan tanaman
Tanaman tak bisa ditumbuhkan kalau tak ada yang mengerjakan
Kalau tak ada tani yang kerjakan panen tak bisa didatangkan
Jadi siapa yang lebih berperan
Buruh atau kaum majikan
Tani atau tuan tanah dan konglomerat perkebunan
Pekerja dan penggarap
atau
penindas dan penghisap
Kami
atau
Mereka
Dimana engkau berpihak?
(ii)
Dimana engkau berpihak?
di saat jasa yang besar malah dibalas penindasan yang sangat bar-bar
Saat buruh dihisap tenaganya sementara keuntungan yang mereka hasilkan tak dibayar
Saat tani dirampas tanahnya dan diberangus haknya, oleh tuan tanah dan konglomerat perkebunan-perkebunan besar
Saat buruh yang melawan kaum majikan mengirim pasukan preman yang siap menghajar
Saat tani yang melawan ada peluru dan popor yang dapat membuat rakyat terkapar
Beginilah bagaimana jasa yang besar tetap menyisakan perut yang lapar
Beginilah kerja yang keras malah diganjar pemiskinan yang mengakar
Dimana engkau berpihak?
Di kubu kaum majikan bersama pasukan preman, birokrat yang kenyang sogokan, dan aparat keamanan yang mengamankan penindasan
Di kubu kaum tuan tanah dan konglomerat perkebunan yang mengepung bersama lintah darat, tengkulak, dan bandit perkampungan
ataukah bersama kami yang melawan penindasan
Dimana engkau berpihak?
(iii)
Buruh dan tani kaum seperjuangan
Kaum yang membangun dunia dan memberi makan
Dunia tak butuh kaum yang berpangku tangan, parasit penimbun kekayaan
Buruh dan tani pihak pembebasan, pihak pembangun masyarakat tanpa penindasan

Apa yang Tidak Kulihat Saat Melihat Habibie-Ainun

Apa yang Tidak Kulihat Saat Melihat Habibie-Ainun

Aku melihat film Habibie Ainun
dan tidak melihat korban pembangunan waduk kedung ombo
tidak melihat Marsinah diculik dan dibunuh
tidak melihat mahasiswa ditembaki
…tidak melihat apapun
kecuali cita-cita dan romantisme pejabat Orde Baru

Dari Mahabharata sampai Jalan Lain ke Venezuela

Dari Mahabharata sampai Jalan Lain ke Venezuela*


I
Mahabharata
Dari Yudhistira sampai Duryadana
Dari Pandawa sampai Kurawa
Semua tentang perebutan kuasa diantara kelas penguas
Memang ini romantik reaksioner ceritanya
Kelak kita akan tulis sendiri dengan darah dan tinta
Tentang pembangun peradaban dengan keringat, darah, dan airmata
Kelak kita akan tulis sendiri dengan darah dan tinta
Tentang pemberontakan kaum sudra dan paria
II
Satu kelas, satu masa depan
Satu bangsa dan satu rakyat
Tapi bangsa terbagi ke dalam banyak kelas
Yang berkuasa dan yang dikuasai
Yang menindas dan yang ditindas
Katakan tidak pada perang kecuali perang kelas
Katakan tidak pada kediktatoran kecuali kediktatoran proletariat
Satu kelas, kelas buruh (harus) berkuasa
Satu masa depan, masyarakat tanpa kelas
III
Gerigi
Bergerak dengan kecepatan 300 km/minggu
Sepertiga riwayat pekerja Jakarta habis di jalan raya
Celeng-celeng rakus bukan kepalang
Jadikan puncak kota sebagai sarang
Konsentrasi ekonomi dari
Konsentrasi ekonomi dari
Konsentrasi ekonomi
Aku berangkat
Aku kerja
Aku pulang
Konglomerat menang
Tapi akhir kejayaannya segera menjelang
IV
Api
Bunga api tumbuh dari angkara yang menjalar
Bersiram aksara mengurat akar
Musim perlawanan mekar
Hama-hama akan mati terkapar
Saat api pembebasan berkobar
V
Keniscayaan
Memang langit masih biru
Dan padi sudah menguning
Tapi darah selamanya merah
VI
Keteguhan
Hidup sekuat mungkin
Belajar sebaik mungkin
Peduli sebisa mungkin
Berjuang sekeras mungkin
Mungkin mayat kita jembatani pembebasan
VII
Jalan Lain ke Venezuela
Buruh dan tani disana telah ambil jalan:
Jalan pembebasan dan jalan perjuangan kelas
Kuasai produksi, kuasai pemerintahan,
Meskipun belum setengahnya apalagi sepenuhnya
Individu dan massa
Terbelah jadi dua
Reaksioner atau revolusioner
Tunduk, bangkit, berontak, berjuang, tumbang, terus berulang
Dari Chavez sang panglima sampai Maduro sang sopir bus
Seorang revolusioner telah mati!
Hidup revolusi!
*Pilihan Sajak Retno Saraswati. Dipublikasikan kembali dengan ijin pihak yang bersangkutan.

Senin, 30 Juni 2014

SUTI

Suti

Suti tidak kerja lagi
pucat ia duduk dekat amben-nya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah
tak ada biaya

Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah

Suti meludah
dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat

solo, 27 februari 88

BURUH-BURUH

BURUH-BURUH

di batas desa
pagi - pagi 
dijemput truk
dihitung seperti pesakitan
diangkut ke pabrik
begitu seterusnya

mesin terus berputar
pabrik harus berproduksi
pulang malam
badan loyo
nasi dingin

bagaimana kalau anak sakit
bagaimana obat
bagaimana dokter
bagaimana rumah sakit
bagaimana uang
bagaimana gaji
bagaimana pabrik? mogok?
pecat! mesin tak boleh berhenti
maka mengalirlah tenaga murah
mbak ayu kakang dari desa

disedot
sampai pucat
(solo, 4-86)

Teka Teki yang Ganjil

Teka Teki yang Ganjil (3)

Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara,
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar..
Masing-masing berbicara tentang keinginannya
ang sederhana dan masuk akal

Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur
di rumah kontraknya
Dan itu mengingatkan yang lain
bahwa mereka juga belum punya panci, kompor
gelas minum dan wajan penggoreng
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah
ingin membeli barang-barang itu
tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur
oleh keletihan kami,
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

Ternyata banyak di antara kami yang masih susah
menikmati teh hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur
letak tempat tidur dan gantungan pakaian

Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandisendiri
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen
dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun,
Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum
yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami
demi kedudukan mereka

Kami tertawa karena menyadari
Bertahun-tahun kami dikibuli
dan diperlakukan seperti kerbau

Akhirnya kami bertanya
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekalengcat,
padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh
untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal mereka tiap hari menghasilkan
berton-ton barang

Lalu salah seorang di antara kami berdiri
Memandang kami satu-persatu kemudian bertanya:
‘Adakah barang-barang yang kalian pakai
yang tidak dibikin oleh buruh?’
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati
barang-barang yang ada di sekitar kami:
neon, televisi, radio, baju, buku…

Sejak itu kami selalu merasa seperti
sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul
ketika kami berbicara tentang panci-kompor-
gelas minum-wajan penggoreng
Juga di saat kami menghitung upah kami
yang dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

Kami selalu heran dan bertanya-tanya
Kekuatan macam apakah yang telah menghisap
tenaga dan hasil kerja kami?

Kalangan, Solo, 21 September 93

Sehari Saja Kawan (2)

Sehari Saja Kawan (2)

Satu kawan bawa tiga kawan
Masing-masing nggandeng lima kawan
Sudah berapa kita punya kawan

Satukawan bawa tiga kawan
Masing-masing bawa lima kawan
Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

Kalau kita satu hati kawan
Satu tuntutan bersatu suara
Satu pabrik satu kekuatan
Kita tak mimpi kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati
Mogok dengan seratus poster
Tiga hari tiga malam
Kenapa tidak kawan

Kalau satu pabrik satu serikat buruh
Bersatu hati
Mogok bersama sepuluh daerah
Sehari saja kawan
Sehari saja kawan

Sehari saja kawan
Kalau kita yang berjuta-juta
Bersatu hati mogok
Maka kapas tetap terwujud kapas
Karena mesin pintal akan mati
Kapas akan tetap berwujud kapas
Tidak akan berwujud menjadi kain
Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

Juga jalan-jalan
Anak-anak tak pergi sekolah
Karena tak ada bis
Langit pun akan sunyi
Karena mesin pesawat terbang tak berputar
Karena lapangan terbang lumpuh mati

Sehari saja kawan
Kalau kita mogok kerja
Dan menyanyi dalam satu barisan
Sehari saja kawan
Kapitalis pasti kelabakan!!

(12-11-94)

Satu Mimpi Satu Barisan (1)

Satu Mimpi Satu Barisan (1)

di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariyah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang lantung cari kerjaan
bini hamil tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

dimana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung – solo – jakarta – tangerang
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan

satu mimpi
satu barisan

Bandung, 21 mei 92

Rabu, 18 Juni 2014

PEMUJAMU


PEMUJAMU
ABD. Rahman/Ame'

Masa semakin berubah karena waktu yang terus melaju
detik jam menjadi melodi tersendiri dalam kisahku
dan hidup menyisahkan ingatan yang hanya di isi olehmu

Tragis kisah percintaan pasangan yunani kuno memang tak serupa dengan kisahku
panjang cerita cinta dalam film Hollywood juga tak serupa dengan ceritaku
dan kisah kasih wayangan jawa yang selalu berakhir bahagia pun bukanlah mode kisahku….

Aku hanyalah daun kering yang ingin kembali hijau di ranting pohon
Aku bak si cebol memimpikan bulan seperti dalam goresan sastra terdahulu
Aku hanyalah pemujamu
merindumu dalam waktuku
mencintaimu dari jauhku
dan mendampingimu lewat mimpiku

Menatap mentari hingga kini tersenyum pada rembulan
Sejak sore dan kini menjelang pagi
dari awal bulan hingga akhir bulan 
Dari dulu hingga sekarang

Aku masih tetap sama….
Pemujamu dan pemujamu….

 

Surat Lusuh Untuk Kaum Muda


Surat Lusuh Untuk Kaum Muda
Karya : Abdul Rahman/Ame’ GPMD 


Kepada Kaum Muda Yang Agung.
Dari Ame’ dan Keluarga.

Salam Pelopor !!!

Mendung kini menyelimuti kota Parepare. Di samping komputer tempo doeloe dan di bawah sinar lampu yang sesekali padam karena sudah tak mampu lagi menemaniku di kala berkelana dengan pena. Namun kesetiaannya akan selalu ku kenang dan ketika Ia padam untuk selamanya, ku akan mencoba menuangkan ceritaku bersamanya dalam tulisan-tulisan seperti tulisan ku terdahulu. dan mungkin sepucuk surat lusuh untuk kaum muda ini adalah tulisan terakhir dimana sinarnya masih bisa ku nikmati. 
Saat menulis surat ini, sering kali ku menutup pena untuk sejenak berfikir apa yang akan kusampaikan padamu si kaum muda. Ku masih bertanya-tanya siapakah kaum muda itu ? siapa kalian ? siapa kalian yang seakan di daulat sebagai Agen Perubahan, dikatakan sebagai kaum yang mampu mengontrol kehidupan social, Kaum yang selalu di agung-agungkan. Tapi ku heran mengapa disaat kalian di puja puji, terkadang pula kalian di caci, di abaikan, di katakan perusak, di benci, di musuhi bahkan untuk di lenyapkan. Tapi ku yakin kalian bukanlah sosok misterius, kalian bukanlah sosok kaum yang seharusnya di lenyapkan. Oh iya, di dalam surat ini, aku juga ingin menyampaikan tapi mungkin lebih tepatnya mengingatkan kembali bahwa sekarang negeri kita, masyarakat kita, orang tua kita, kini telah di perlakukan seperti seorang budak di rumah sendiri. Kita bagaikan tuan rumah yang di jadikan budak oleh tamunya di rumah sendiri, dan sebenarnya kita pun Juga merasakan hal itu. Tapi masalahnya apakah kita merasa di perbudaknya ? Tentang perbudakan di negeri sendiri Mungkin kalian sudah tahu atau justru lebih tahu. Kalian pernah dengar tidak sesorang yang mengatakan bahwa jika ingin menguasai dunia kuasailah Indonesia terlebih dahulu. Perkataan itu juga mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kalian. Tapi pernah kah kalian berfikir bahwa betapa kayanya negeri kita sehingga orang itu mengatakan hal tersebut. Mungkin kalian juga sudah berfikir tentang itu sebelum aku memikirkannya dan memberitahumu. Itulah hebatnya kalian.
Kemarin malam aku duduk bertiga dengan mama dan adik kecilku di ruang tamu, lebih tepatnya kami sedang menikmati hiburan dari televisi kecil yang tergolong tua. Salah satu benda yang begitu mewah bagi kami. Kami tinggal bertiga di sebuah rumah kecil peninggalan Ayah, tepatnya berada di sudut kota yang begitu jauh dari kehidupan atau ramainya kota Parepare Sulawesi Selatan. Namaku Ame’, Aku sendiri sudah duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Umum. Adik kecilku masih belajar di sekolah dasar dan kesibukan mama sebagai buruh cuci dari tetangga-tetangga yang menggunakan jasanya.
Maaf soal perkenalan keluarga kecilku tadi, aku berfikir kalian akan bertanya-tanya bahwa siapa penulis dan pengirim surat ini jika aku tidak memperkenalkan diri. Sampai saat ini aku masih bingung untuk menetapkan isi atau inti dari suratku ini, tapi kalian harus tahu bahwa surat ini bukanlah surat yang bernada romantisme atau sesuatu yang bersifat ceremonial semata.
Saat menonton bertiga dengan keluargaku, aku menyaksikan puluhan orang dari kaummu yang melakukan aksi demonstran. Aku salut, kalian memang tidak salah di nobatkan sebagai penyambung lidah rakyat. Tapi jujur, aku takut salah dan menyesal telah mengatakan hal tersebut. Oh iya, aku mau bertanya, benderah merah, kuning, hitam, biru, dan sebagainya dan baju kuning, merah, biru, coklat dan sebagainya juga. Mengapa harus ada. Bukankah kalian satu dalam kaum muda ? mengapa harus berwarna-warni, mengapa harus terkotak-kotakkan. Aku juga sering mendengar perselisihan yang terjadi antara kalian sesama kaum muda. Apa karena perbedaan warna benderah dan baju tadi, tapi persoalan itu adalah persoalan kalian. Tidak usah kita perdebatkan. Sebelum meninggalkan topic perbedaan kalian, bagaimana jika perbedaan kalian, warna-warninya kalian berpegangan dalam satu gerakan, Satu tujuan. walau perselisihan kalian terjadi hanya karena perbedaan idiologi. Jika kalian ingin bersatu, kalian bisa mempertimbangkan saranku tadi. Bagiku tidak perlu untuk menjadi satu, cukup kalian bersatu.
Maaf jika aku yang banyak Tanya, yang jelas aku bukan wartawan. Aku hanyalah anak dari keluarga kecil yang masih merasa di jajah dan belum merasakan kemerdekaan. Penjajahan oleh system kapitalisme yang mungkin kalian lebih tau dan mengerti akan istilah tersebut.    
Kalian masih ingat tidak ribuan kaum muda terdahulu yang atas nama rakyat turun kejalan meneriakkan perlawanan terhadap rezim Soeharto dan berhasil menggulingkan Soeharto dan orbanya di ganti dengan reformasi. Ku pikir kita akan sejahtera setelah peristiwa itu, tapi ternyata tidak ! kita masih saja di di perbudak di rumah sendiri. Apa benar itu murni gerakan atas nama rakyat. Apa benar gerakan itu tidak di tunggangi oleh kelas borjuasi, atau jangan sampai gerakan itu justru settingan dari kapitalis juga. Tapi kalian lah yang lebih tau akan hal itu.
Setelah melihat kaummu sekarang ini, agak sedikit sulit untuk merealisasikan saranku tadi, bahkan hanya untuk mempertimbangkanpun juga mungkin tak dapat. Aku merasa rindu melihat warna-warni benderah berpegangan dalam satu barisan ketika melakukan aksi di jalanan, bagiku itu terlihat indah dan mengagumkan. Tapi ku kembali lagi mengatakan, mungkin sulit untuk itu. Tapi jangan sampai karena tujuan yang memang sudah berbeda di karenakan adanya kepentingan dari warnanya kalian. Kasihan jika memang sudah seperti itu.
Kembai lagi aku ingin bertanya  siapa sebenarnya kalian ? apakah kalian sadar dimana posisi kalian. Bukankah kalian juga yang di daulat sebagai kaum terpelajar. Jangan sampai dengan ilmu yang tinggi justru kalian gunakan untuk membohongi orang lain. Seperti  yang telah kita ketahui, negeri kita masih di jajah. Apa kalian sadar akan penjajahan gaya baru ini. Mungkin kalian belum sadar, tapi jangan sampai kalian sadar, namun tak mau bergerak untuk merubahnya atau apatis terhadap semuanya. Tapi aku tetap pada prasangka ku bahwa kalian itu orang-orang yang hebat.
Kalian tahu tidak apa itu kapitalisme ? jelas kalian pasti tau, aku yakin itu. Tapi apakah kalian juga tau apa dampak dari kapitalisme. Sekali lagi kalian juga pasti tau akan hal itu. Prasangka ku memang tidak meleset bahwa kalian itu orang-orang yang hebat. Jika kalian sudah tau semua, atau mungkin kalian lebih tau. Mana gerakan nyata kalian untuk membebaskan rakyat dari kedzaliman kapitalisme di negeri kita.
Aku hanya bisa memanggilmu kaum muda, maaf jika panggilan itu tidak terlalu keren di telinga kalian. Untuk akhir dari suratku, aku lagi-lagi berharap kalian sadar akan posisi yang mengerti kondisi hari ini. Maaf juga jika akau banyak Tanya, kalian tidak perlu menjawab semua pertanyaanku tadi. Bahkan kalian tidak usah mengirim surat balasan kepadaku. Dan untuk pertanyaanku yang menanyakan siapa kalian, juga tidak usah kalian jawab. Karena aku lebih tau siapa kalian di bandingkan kalian sendiri. Mungkin hanya itu kehebatanku.

Terima kasih….   
Parepare, 25 Februari 2014.


Jumat, 13 Juni 2014

Tamu Negeriku

Tamu Negeriku
Abd. Rahman/Ame'

Tamu telah tiba di tanah kita
Tak kita sadari dia telah lama tinggal di rumah kita
Makan dan minum seenaknya di dapur kita
Mandi dan Tidur sesukanya di rumah kita

Kau datang bukan untuk memberikan kebahagiaan padaku
Kau datang bukan untuk menjunjung kebenaran dan kedamaian
Tapi Kau datang untuk meracuni anak-anakku dan orang tuaku
Kau datang untuk menghancurkan nilai kemanusiaan yang ada di tanah airku
Kau datang membawa malapetaka bagi negeriku

Kau paksa kami melayani semua kebutuhanmu
kau paksa anak perempuan kami tidur dengan anak lelakimu
kau jerat anak-anak kami dengan ilmu-ilmu biadabmu
kau sengsarakan kami di tanah kami sendiri

Kini kami telah tunduk kepadamu
kini kami telah menyetor uang dan beras kepadamu
kini kami telah bekerja keras dengan modal yang kau berikan
kami telah menggarap tanah yang sedikit demi sedikit kau gusur juga untuk rumah kacamu
tapi mengapa kau masih belum puas dan lekas pergi
tapi mengapa kau masih memperalat anak-anak kami untuk kau jadikan robot-robotmu
tapi mengapa penindasan dan penghisapan belum kau hentikan
justru sekarang semakin tak terelakan

Akhirnya kesadaran telah terbentuk dalam diri kami
Setelah dialektika menjadi pedoman bagi kami
Akhirnya Gumam perlawanan mulai mendesis hingga menggelegar
Setelah benderah merah kini tertancapkan
dan menuntun jalan kami menuju penghancuran tiranimu
Kecaman telah kami lontarkan

Ternyata kau akan pergi dengan pengusiran
ternyata kau akan pergi dengan perlawanan
kami telah bangkit untuk melawan !!!

SAJAK TINTAH MERAH

Pejuang Rakyat di Jalan kiri

Pejuang Rakyat di Jalan kiri
 Abd. Rahman/Ame'

Sentakan kaki para pejuang rakyat
berirama teratur dalam barisan penuh dendam
dendam jiwa atas semua penindasan
menuju benderah merah yang telah tertanam
dan kemarahan yang telah sigap menerkam

Gerakanmu yang semakin tertuju mengancam
bersama lengan kiri yang masih kokoh teracungkan
dengan darah merah terus mengalir deras bersama semangatmu
menuju penghancuran tahta kesewenang-wenangan
menuju barisan jiwa kemenangan

Hai kau pejuang rakyat di jalan kiri
engkau mengabdi di jalan kiri
engkau berbakti dan di jalan kiri engkau berjanji
janji pembebasan rakyat bumi pertiwi

Hai kau pejuang rakyat
internasionale mengiringi langkahmu
kain merah membalut semangatmu
tangisan rakyat menuntunmu agar tetap maju
menuju penghancuran benteng tirani
menuju dunia Internasionale !

 photo tyuuu_zpsc6ef6817.jpeg"/>" /> KPA photo 10169318_1490733947824313_8365615283135808455_n_zps90846386.jpg" /> Ame Mayday photo 20140502_110353_zpscef26929.jpg" /> gpmd photo 1012032_1446233695607672_1066147129_n_zps3f4d6c09.jpg" />  photo nbv_zpsc8429ade.jpg"/>" /> gpmd4 photo 1491_678730012152865_1221172235_n_zps4dfde858.jpg"/>" /> gpmd3 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin_zpsf038dc5f.jpg"/>" /> gpmd2 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin-Salin_zps3b3d0b92.jpg"/>" />  photo --9-98-89-98-967_zpsb0261f2e.jpeg"/>"/>" />