Rabu, 02 Juli 2014

Ada Apa Dengan Bunga ?



Ada Apa Dengan Bunga ?
(Spesial Buat Kawan Irfan/Lecet)
Cipt. Mammank


kawan bertanya ada apa dengan bunga
aku pun tak luput dari tanya mengapa
mereka memiliki ribuan tanya tentang bunga
yaa.... bunga telah di petik oleh salah satu kawan
 
semakin mekarlah sang bunga
siraman cinta telah memekarkan sang bunga
kawan dengan penuh kesungguhan berbangga
memetik dan akhirnya memiliki sang bunga adalah cita
karena ia dan kami tahu jikalau bunga adalah kesejatian cinta

mekarnya sang bunga pastinya di balik layu dan mati
begitulah singgungan sang pujangga kepadanya si kawan
yang seakan menjadi gila di taman bunga

hingga akhirnya....                                          
kawan kembali bertanya ada apa dengan bunga
sesaat merawat bunga bukan lah kebahagian yang di rasa
 
namun tanya, tanya dan tanya
di manakah bunga yang pernah ia petik
dimanakah bunga yang pernah ia miliki

kini ia layu oleh bunga yang mekar di sana



Coklat di Taman Kota

Coklat di Taman Kota


Sore itu di taman kota, Dimas dan Rani sedang berjalan pulang dari lelahnya mengadu nasib di tengah keramaian kota. Rani yang usianya baru lima tahun tampak lesu layaknya kain basah yang menjuntai, digendong oleh seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dari Rani. Entah siapa Dimas ini, yang jelas ia bukan kakak kandungnya.
Di tengah perjalanan, Rani melihat seorang pemuda yang sedang memakan cokelat. Pemuda yang yang duduk di bangku taman itu terlihat begitu menikmati cokelatnya.
“Kak, cokelat rasanya apa?” kata Rani.
“Cokelat itu rasanya manis, tapi bisa bikin gigi kita jadi sakit”, jawab Dimas mencoba menakut-nakuti Rani.
“tapi Kak, Rani mau cokelat”, kata Rani.
“iya nanti kakak beliin coklat buat Rani”, kata Dimas dengan wajah kesal.
“Kak, Rani mau coklat yang itu”, kata rani sambil menunjuk cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu.
“Rani, dengerin. Itu cokelat orang lain. Kita gak boleh minta-minta selagi kita masih bisa mencari uang untuk membelinya” kata Dimas mencoba menasehati Rani.
Rani merengek-rengek ingin cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu. Yah, memang cokelat yang sedang dimakan oleh pemuda itu bukan cokelat yang biasa ada di warung-warung pinggir jalan. Pantas saja jika membuat ngiler orang-orang yang melihatnya.
Dimas berusaha mengalihkan perhatian Rani. Tak kuat mendengar rengekan Rani, akhirnya Dimas menurunkan Rani dari gendongannya. Ia dudukkan Rani di bangku taman dekat pemuda itu duduk. Dimas mencoba menenangkan tangisan Rani.
“Sudah ya, jangan nangis lagi. Rani tunggu di sini, kakak mau beliin cokelat itu buat Rani”, kata Dimas sambil memberikan gitar kecilnya yang dipegangnya kepada Rani.
Dengan sedikit resah Dimas meninggalkan Rani. Ia berjalan menuju supermarket dekat taman. Sambil berjalan, ia mengeluarkan bungkus permen yang isinya uang receh hasil mengamen hari ini. Sungguh teriris hatinya ketika melihat semua uang recehnya. Tak cukup rasanya uang yang ia miliki jika harus ditukarkan dengan sebatang cokelat itu.
Ia berdiri di samping pintu kaca supermarket itu. Cukup lama dia berdiri di sana. Hingga ia melihat seorang ibu yang sedang kerepotan membawa barang belanjaannya.
“Boleh saya bantu bawa, Bu?” kata Dimas.
“Oh iya nak tolong bawakan ini ke mobil ibu yang di sana”, jawab ibu tersebut sambil menunjuk mobilnya.
Dimas sangat bersemangat membantu ibu itu. Namun saat hendak mengangkat belanjaan ibu tersebut, ia melihat sebatang cokelat yang dibungkus oleh kemasan yang sama dengan cokelat yang dimakan oleh pemuda tadi. Ia pun teringat lagi pada Rani.
“… tapi Bu, saya harus…”, kata Dimas terputus-putus.
“Ayo nak cepat, tolong bawa ke sini”, kata ibu tersebut dari dekat mobil.
Dimas pun membawa belanjaan itu menuju mobil ibu tersebut. Setelah semua barang belanjaan dimasukan ke dalam mobil, ibu tersebut mengeluarkan uang receh untuk upah Dimas. Namun, Dimas tidak langsung menerimanya. Ia malah ikut-ikutan mengeluarkan uang receh dari dalam bungkus permennya.
“Bu, saya tidak mau uang ibu. Boleh tidak saya minta cokelat yang ada di kantong belanjaan yang tadi saya bawa?” kata Dimas dengan memelas.
Ibu tersebut tersenyum dan mengambil cokelat itu dari kantong belanjaannya.
“Ini cokelatnya, tapi ingat selagi kamu bisa berusaha untuk mendapatkannya jangan kamu minta-minta ya. Dan satu lagi, ini tolong terima uang dari ibu, karena sedikit apapun pekerjaan seseorang tetap harus dibayar. Kamu paham, Nak?” kata ibu tersebut.
“i..iya Bu. Terima kasih” jawab Dimas.
Betapa malunya Dimas mendengar perkataan ibu itu. Kata-kata yang ia ucapkan pada Rani barusan, ternyata ia mendengarnya kembali dari ibu tersebut. Ya, mungkin cara yang Dimas lakukan itu salah. Tapi apalah daya, uangnya tidak akan cukup untuk mendapatkan cokelat itu. Meski ia harus berbohong pada Rani.
Cokelat yang diinginkan Rani, kini telah ada di tangan Dimas. Ia bergegas menghampiri Rani.
Setibanya di taman, alangkah kagetnya Dimas, apa yang ia lihat bukanlah yang ia inginkan. Rani yang sedang duduk merengek-rengek di bangku taman, kini ia tersenyum ceria dengan wajah yang belepotan oleh cokelat. Terdengar dari jauh Rani berteriak.
“kak Dimas, cokelatnya enak, rasa stroberi loh. Aku…” teriakan Rani menjadi pelan dan terputus-putus karena yang ia lihat adalah wajah kemarahan Dimas yang mulai menghampirinya, “… mau lagi”, sambung Rani.
Sesekali pandangan Dimas pada pemuda yang duduk di taman. Ia melihat pemuda itu tidak memegang cokelat lagi. Yang ada hanya bungkusnya tergeletak di bawah bangku yang sedang Rani duduki.
“Heuh… Rani kamu dengerin kakak gak sih, sudah kakak bilang jangan meminta-minta. Apalagi meminta makanan yang sedang dimakan orang lain”, kata Dimas dengan marahnya.
Rani menangis mendengar kata-kata itu. Dimas pun ikut menangis sambil membersihkan wajah Rani.
“Rani, maafin kakak. Kakak memang tidak sanggup memberikan kamu cokelat itu. Tapi kakak pasti bisa untuk mencari uang lagi supaya dapat membelinya” kata Dimas dengan suara yang rendah.
Rani tak dapat bekata-kata. Air matanya membasahi baju Dimas yang sedang digunakan untuk membersihkan cokelat di wajahnya. Sebenarnya Rani ingin mengatakan sesuatu pada Dimas. Namun ia takut Dimas marah lagi.
“Sudah jangan nangis lagi. Ini kakak bawain cokelat yang Rani mau” kata Dimas masih dengan suara yang rendah.
Rani pun diam dan menerima cokelat yang dibawa oleh Dimas. Dimas membuka bungkus cokelatnya dan menyuapi Rani dengan hati-hati agar tidak belepotan. Rani tersenyum.
“Kak, cobain makan cokelatnya, enak loh”, kata Rani sambil mendekatkan potongan cokelatnya ke wajah Dimas.
Dimas pun ikut memakan cokelat itu.
“Iya enak. Udah ah, kakak gak terlalu suka cokelat. Ini buat Rani aja” kata Dimas.
Inilah salah satu kebohongan yang selalu dilontarkan oleh orang yang menyayangi kita. Dimas pun demikian. Dalam hatinya, Dimas juga ingin memakan cokelat itu. Sambil menunggu Rani menghabiskan cokelatnya, Dimas membuka kembali uang recehnya di dalam bungkus permen. Dihitungnya satu persatu dengan tambahkan uang yang diberikan ibu tadi.
“Kak, kok uangnya masih banyak. Kakak beli cokelat ini pake apa?” kata Rani.
Dimas kembali merasa malu. Berat bagi Dimas untuk mengakuinya kalau ternyata cokelat itu hasil minta dari ibu tadi.
“Udah jangan banyak tanya. Ayo habiskan. Jangan lupa sampahnya dibuang ke tong sampah”, jawab Dimas.
“iya, Kak”, kata Rani.
Cokelat pun habis dan Rani harus membuangnya ke tong sampah yang berada di dekat bangku tempat duduk pemuda itu. Rani terdiam di depan tong sampah itu dan tidak langsung membuang bungkus cokelat yang ada di tangannya. Rupanya ia tidak lagi melihat sisa cokelat yang sebelumnya ada dalam tong sampah itu.
“Maaf kak, coklat yang aku makan itu dari tong sampah ini”, ucapnya dalam hati.
Rani pun kembali ke bangku tempat ia duduk dan mengambil bungkus cokelat yang ada di bawah bangku itu dan kini Rani membawa dua bungkus cokelat untuk dibuang ke tong sampah tersebut.
“Rani, ayo pulang,” ajak Dimas.

Cerpen Karangan: Yana Husnah Ruhyana
Facebook: Yana Husnah Ruhyana

Sepotong Malam Untuk Cinta dan Tuhan

Sepotong Malam Untuk Cinta dan Tuhan


Jika hidup ini adalah misteri. Dimana sudah diciptakan sedemikian rupa bahkan jauh-jauh hari sebelum kita ada. Dengan detil tanpa cela dan rancangan super sempurna yang bahkan tak mampu dilampaui akal dan otak manusia yang digadang-gadang telah berevolusi lebih cepat dari dari makhluk hidup lain. Aku menyebutnya dengan takdir. Bukan hanya manusia bahkan sebuah partikel pun punya takdirnya sendiri. Takdir yang misterius, tak bisa diterka-terka, tak sanggup dihitung-hitung apalagi hanya ditebak. Mungkin kaum atheis sedikit berbeda. Mereka menggangap kelahiran, kematian dan segala apapun yang terjadi hanyalah kebetulan semata. Tak ada urusan dengan segala hal yang tak dapat dicerna dengan logika. Seperti mereka menggangap dunia ini memang terjadi begitu saja. Mereka hanya bisa percaya pada apa yang bisa otak percaya. Urusan takdir, misteri ataupun penciptaan mungkin hanya diperuntukan untuk orang yang di dadanya masih ada secuil iman. Dan misteri hidup yang telah dirancang jauh-jauh hari itu tengah kujalani. Aku belum menemukan alasan mengapa tersudut di kontrakan sumpek ini. Tidur berdesak-desakan seperti kelelawar. Dengan cuaca Jakarta yang selalu panas membuatku seperti dimasukan dalam panci yang mendidih. Entah kenapa membuatku rindu rumah, homesick kah istilahnya?
Padahal baru dua bulan aku pindah ke Jakarta. Dengan cita-cita setinggi langit dan semangat meletup di dada kutinggalkan kampung halaman hanya bermodal ijazah SMA. Namun, Jakarta tetaplah Jakarta. Belas kasih bukanlah sifatnya. Aku bekerja seadanya, dari pagi sampai malam. Cukup dua bulan saja, hanya dua bulan Jakarta mampu merontokkan bintang mimpi di langit yang kurangkai sejak dulu. Menjatuhkan mimpiku sampai di titik nadir. Hingga akhirnya kini kutemukan diriku tersudut di kontrakan ini. Kontrakan dua lantai dimana lantai bawah menjadi multifungsi juga sebagai tempat parkir motor para penghuninya. Aku yang tinggal di lantai dua dan berdesak-desakan harus pintar-pintar mencari ruang sekedar untuk merebahkan tubuh. Entah kenapa, akhir-akhir ini seperti ada yang selalu menggangu tidurku. Seperti kali ini, aku terbangun dan menatap sekeliling semua masih terlelap. Sepertinya insomniaku makin parah. Kulihat masih pukul dua dinihari. Dengan alasan untuk mencari udara segar aku menuju ke lantai atas. Satu-satunya jalan menuju lantai atas adalah melalui sebuah tangga yang terbuat dari besi yang sudah sangat rapuh. Tiap kali kuinjak anak tangganya selalu berbunyi “kreek”. Yang kumaksud dengan lantai atas adalah sebuah tempat tanpa atap yang sekelilingnya dijaga oleh pembatas yang terbuat dari kawat. Tempat ini lebih sering digunakan untuk mencuci pakaian dan menjemurnya sekaligus. Udara malam Jakarta langsung menyambutku. Kuhirup pelan-pelan udara yang banyak mengandung racun. Bukan hanya polusi tapi juga keegoisan yang menyesakkan dada.
Kubagikan pandanganku ke sekitar. Lampu-lampu gedung yang tak pernah mati, mobil-mobil yang tak pernah berhenti dan masih banyak orang yang terjaga. Jakarta memang tak pernah tertidur. Tapi sejak pindah kesini pandanganku selalu tertarik pada sebuah apartemen mewah yang tepat di samping kontrakan ini. Menjadi semacam tempat perbandingan bagi kami. Tiap malam kami sering mencuri lihat dari jendela apartemen yang terbuka bagaimana cara penghuninya mengisi perut. Semuanya rapi, elegan dan mewah. Sebotol wine dan berbagai makanan asing yang tak pernah mampir di mulut kami selalu tersaji di meja makan. Semuanya berkelas dan penuh etika tidak seperti kami yang lebih mirip serigala saat mengisi perut. Maka seperti kutemukan sebuah paradoks. Dan, kami bagai venus yang dingin yang selalu menatap iri pada bumi yang hangat. Hingga suatu ketika ada salah satu teman yang menyeletuk “Tuhan tidak adil ya?”
Semuanya terdiam, entah karena setuju atau bingung. Sementara aku berada dalam kelompok orang yang bingung. Bukan dalam masalah substansi pertanyaanya tapi dalam masalah “Tuhan”nya. Namun aku bukanlah dalam golongan manusia yang tidak percaya pada keeksistensian Tuhan. Mental yang sejak dini dibentuk dengan agama seperti mengaji walau sering bolos, mengerjakan sholat walau lebih sering absen. Tetap membuatku percaya ada sesuatu yang mengatur segala kerumitan konstelasi-konstelasi seluruh galaksi ini. Namun sampai sekarang aku belum menemukan intisari dari pertanyaan “Apa itu Tuhan?”
Banyak yang bilang “Jika kita menemukan cinta maka kita akan menemukan Tuhan”
Aku kembali berpikir, lalu apa itu Tuhan? apa itu cinta?. Jadi saat kita menemukan salah satu maka kita akan mendapatkan keduanya sekaligus. Aku tidak berhenti berpikir. Apakah mungkin cinta dan Tuhan itu seperti mata koin? mereka bersifat tunggal, satu. Satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Mungkinkah mereka saling terikat dan mengikat? lalu seperti sebuah pepatah lama: satu jawaban akan memunculkan seribu pertanyaan. Pernyataan tentang cinta dan Tuhan apakah diperuntukan untuk semua golongan? termasuk kaum h*mos*ksual ataupun le*bian? apakah saat mereka menemukan “cinta” versi mereka mungkinkah mereka juga telah menemukan Tuhan?
Aku menghela nafas. Benang ini makin mengusut. Ketika ruang pertanyaan ini sedikit dimasuki cahaya jawaban hanya membuat kabut gelap makin pekat. Semua runyam dan rumit. Masalah Tuhan memang bukan masalh sederhana. Kita sedang membicarakan penggerak milyaran partikel di alam semesta ini. Otak manusia yang hanya seukuran batok kelapa itu mungkin masih butuh waktu panjang untuk menggapainya. Hati ini terasa makin berat ada sesuatu yang mengganjal disana. Refleks aku menatap ke langit. Mungkinkah dia bersemayam disana? Langit malam menatapku dengan angkuh. Puluhan bintang yang ia sebar sekenanya menjadi pelengkap kesombongannya. Sepertinya ia tak ingin membagi tahu rahasia Tuhan yang sudah jutaan tahun ia simpan rapat di lembar-lembar awannya. Entah mengapa, jika mengingat tentang Tuhan aku mengingat salah satu temanku. Label “teman” yang kuberikan padanya hanya karena salah satu temanku yang lain pernah mengenalkan aku padanya dan kami setidaknya pernah mengobrol. Dia adalah wanita karir yang sukses dengan usianya yang masih sangat muda. Pekerjaannya di salah satu perusahaan asuransi besar menuntutnya untuk selalu tampil prima sehingga kesan perfeksioin tergambar dalam tindakannya. Dan tiap kali aku ngobrol dengan Lestari begitu dia ingin disebut. Entah kenapa aku diserang gejala minder yang hebat. Auranya yang kuat selalu berhasil mengintimidasiku. Bagai dinosaurus dan semut. Dengan tahu diri aku selalu menjaga jarak dengannya takut bila dia pingsan mencium bau kemelaratan dariku. Segala tentang Lestari selalu menarik tapi hal yang paling menarik darinya adalah pilihannya untuk berpindah agama bukan hanya sekali tapi sudah empat kali. Pernah dengan memberanikan diri aku bertanya tentang hal itu.
“Lestari maaf sebelumnya. Menurut kamu Tuhan itu apa?” yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah mengapa dia bisa mudah saja berpindah haluan agama sampai empat kali.
“Ahh… apa yang bisa kubagikan padamu kawan” hatiku langsung mekar hanya karena dia menyebutku kawan.
“Hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Begitu banyak cinta, begitu banyak rahasia. Tak ada yang bisa kau berikan padanya selain rasa percaya. Keintiman itu bahkan melebihi hubungan Adam dan Hawa”
Aku terpana
“Jika kau bertanya padaku tentang apa itu Tuhan? Tuhan itu apa yang bisa kau lihat, apa yang bisa kau dengar, apa yang bisa kau yakini dan apa yang bisa kau rasa. Sebenarnya Tuhan itu berjalan bersama kita, melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar dan merasa apa yang kita rasa. Bahkan Tuhan itu lebih dekat daripada urat nadi. Tuhan itu mencakup segala sesuatu yang dapat terlihat maupun tidak. Apakah kau mengerti?”
Aku mengganguk saja walaupun kalimat-kalimat penuh makna itu terlalu sesak untuk bisa masuk semuanya di kantong intelejensiaku yang terbatas.
“Tapi ingat kawan, penjelasan bukanlah seperti pengalaman. Aku bisa berkata apa saja tapi jika kau tidak pernah mengalaminya sendiri jangan pernah percaya! Aku menjawab pertanyaanmu sesuai pengalamanku” mata lestari makin berbinar ketika menjelaskannya.
Aku tahu pengalaman apa yang telah ia lewati untuk menemui hakikat Tuhan. Walaupun sebenarnya aku juga mendengar kabar ini dari teman yang lain. Dia pernah berkunjung ke Bali, Aceh, Thailand bahkan juga Vatikan untuk menyelesuri berbagai agama. Untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Dia bukan manusia yang menerima begitu saja apa yang sudah “ditumpahkan” ketika lahir. Dia lebih memilih tersesat daripada menerima keadaan begitu saja. Aku makin tertarik dan penasaran.
“Jadi kamu percaya Tuhan itu ada?”
“Pertanyaan seperti itu hanya melecehkan keeksistensian Tuhan yang agung”
Ada sesuatu kekuatan misterius yang meletup-meletup ketika Lestari bicara. Aku tak tahu itu apa.
“Itu alasan kamu pindah agama?” kusuguhkan pertanyaan yang sejak tadi kuburamkan.
Keningnya tiba-tiba mengkerut. Mungkin pertanyaan itu tidak terlalu etis kutanyakan sebagai teman yang baru kenal.
“Maaf…” sergahku langsung
“Tak mengapa. Kau bukan orang pertama yang bertanya seperti itu” Lestari menarik nafas sebentar. Mengumpulkan jutaan bintang gemintang makna yang tersimpan di kepala dan hatinya.
“Seperti yang kubilang, hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Seperti aku. Kedekatan antar manusia dengan Tuhannya itu relatif, beda satu sama lain. Kau tidak bisa mengsamaratakan intensitas kedekatan tiap manusia dengan Tuhannya harus sama dengan tiap manusia lainnya. Bentuk kedekatan itu, keintiman, percaya, cinta dan pengabdian yang diberi label berbeda-beda tiap manusia tergantung bagaimana mereka mengintrepresentasikan dari intensitas itu adalah definisi agama bagiku”
Mendengarnya kepalaku mendadak pening.
“Dan juga agama adalah sebuah perjalanan bagiku. Saat kau lahir kau diberikan kaki untuk memulai perjalanan lalu karena perjalanannya masih jau kau menggunakan sepeda. Di tengah jalan ternyata ada sungai. Kau tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan sepeda kan? Akhirnya kau meletakan sepedamu untuk menggantinya dengan rakit atau perahu”
Aku sedikit paham maksud Lestari. Dia menganalogikan keputusannya untuk pindah agama sebagai perjalanan hidup yang tak mungkin bisa dihindari.
“Jika suatu saat nanti kau telah sampai di tujuan. Apakah mungkin kau melupakan mereka? Tidak kan? Mereka juga yang telah membantumu pelan-pelan untuk sampai di tujuan. Menemukan hakikat hidupmu”
Aku merasa ciut. Aura milik Lestari benar-benar mampu menenggelamkan apapun di sekelilingnya.
“Tapi ingat! Jangan pernah percaya kata-kataku jika kau tidak mengalaminya sendiri”
Aku mengganguk-angguk dengan cepat seperti burung beo. Lestari tetaplah Lestari. Selain cantik dia mungkin adalah wanita langka yang dilahirkan seribu tahun sekali. Lepas dari itu semua dia tetap wanita menarik dalam segala hal terutama kepribadiannya. Dan kudengar kini dia telah menjadi penganut agama Budha. Satu hal yang bisa kutarik kesimpulannya dari semua obrolanku dengan Lestari adalah: yang pasti dia lebih wangi dariku. Kurapatkan tubuh ini untuk bersandar di kawat-kawat pembatas lantai atas ini. Pagi masih enggan untuk datang. Langit Jakarta masih saja gelap seperti kepalaku yang disesaki berbagai pertanyaan. Andai saja ada Lestari disini. Aku ingin menanyakan sesuatu yang belum sempat kupertanyakan waktu itu
“Apa itu cinta?”
Imajinasiku kemudian bekerja. Pasti Lestari akan menjawabnya dengan letupan-letupan imajinasinya yang melimpah yang maknanya akan bertaburan seperti bintang yang harus kutangkap satu demi satu dengan cepat agar tidak ada makna yang terlewat lalu kumasukan dalam kantong intelejensia dan kenanganku. Lestari telah menjadi orang yang bijak di usianya yang masih muda. Namun pertanyaan tentang apa itu cinta dan Tuhan masih mengambang di kepalaku. Aku jadi teringat akan sesuatu yang banyak menjadi inspirasi film, buku, novel atau sinetron. Cinta beda agama. Entah betapa banyak hati manusia yang nelangsa akibat cinta beda agama, beda iman. Terlalu banyak pertentangan hanya untuk mempersatukan dua sejoli ini. Cintamu dan cintaku adalah sama namun Tuhanmu dan Tuhanku adalah beda. Kalimat itulah yang mengiris-iris hati para pelakunya. Di satu sisi mereka tidak ingin meninggalkan Tuhan dalam sisi yang lain mereka juga tidak ingin meninggalkan cinta. Mereka tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Mereka harus memilih salah satu. Ditinggalkan Tuhan atau ditinggalkan cinta. Kedua pilihan bagai simalakama. Maka kenyataan ini berbanding terbalik dengan analogi Tuhan dan cinta itu seperti koin. Ternyata mereka beda, mereka tidak satu. Merka seakan berdiri masing-masing. Kenyataan ini membuat lidahku terasa pahit. Ternyata cinta dan iman adalah beda rasa. Menganalogikakannya dengan suatu bentuk tunggal mungkinkah sebuah kesalahan?
Ternyata benar, dunia ini lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Satu jawaban hanya akan menarik berbagai benang gelap pertanyaan untuk muncul ke permukaan. Dunia bukan hanya diisi hitam dan putih tapi juga abu-abu yaitu sisi dimana semuanya masih buram, tidak jelas, tidak pasti dan kompleks. Tuhan dan cinta sepertinya berdiri di sisi itu. Aku yang selalu dipenuhi kluputan mencoba sedikit bijak. Bahwa segala sesuatu tidak pernah diciptakan mubazir. Bukan hanya sisi putih tapi dunia tetap juga membutuhkan sisi hitam dan abu-abu. Untuk menjaga kerasionalitasan manusia agar manusia tidak berhenti mencari karena kebenaran yang tunggal hanya milikNya. Agar manusia tidak hanya menjadi seonggok daging tanpa arti. Bukankah dengan memakan buah khuldi akhirnya Adam dan Hawa bisa membedakan mana baik dan buruk. Segala sesuatu saling bersangkut paut. Baik itu baik, buruk atau masih belum jelas. Segala sesuatunya memang diciptakan Tuhan begini adanya. Dengan segala kerumitannya, hitungannya dan tingkat kemisteriusan yang selalu dijaga oleh Tuhan agar manusia tahu betapa lemahnya mereka. Sehingga apapun yang manusia ubah, mereka capai dan mereka temukan tetap belum bisa menyingkap kabut milik cinta dan Tuhan. Hidup dan nasib memang fantastis dan sporadis. Menerima itu semua berarti kita juga menerima “ketidak jelasan” Tuhan. Menerima kenyataan cinta dan Tuhan adalah pertanyaan dengan pangkal tanpa ujung yang jelas.
Aku menghela nafas lagi. Membiarkan beban hidupku ikut lepas. Akhirnya aku mencoba larut dalam pasrah. Biarkan semua terjadi sesuai dengan kehendak Nya. Tak usah aku terburu-buru menyingkap misteri hidupku. Biarkan semua mengalir. Segala sesuatu yang belum waktunya hanya akan menimbulkan jawaban yang sembrono.
Perlahan suara adzan Subuh terdengar sayup-sayup membelai kota Jakarta. Ternyata aku sudah melamun berjam-jam untuk memikirkan arti cinta dan Tuhan. Dengan hasil kosong. Tapi entah kenapa aku merasa telah menemukan jawabannya. Jawaban itu hanya bisa dimengerti olh hati dan logika tidak pernah bisa ikut campur. Mataku menatap langit dan seakan juga sedang menatap mata Nya. Hatiku berbisik lirih “Terima kasih Tuhan”
Telah kuhabiskan sepotong malam untuk menemukan hakikat cinta dan Tuhan namun sepertinya waktu seumur hidup pun tidak akan cukup untuk menjabarkannya. Jadi kupersembahkan sepotong malam tadi untuk cinta dan Tuhan. Untuk mereka yang membuat hidup umat manusia jadi lebih berarti. Aku hanya bisa menarik sedikit benang kesimpulan. Jikalau cinta dan Tuhan memang menjaga keeksistensian dan keindahanya yang agung dalam nur yang disebut misteri.

Cerpen Karangan: R.A.P
Facebook: www.facebook.com/agung.c.sum

Idealis Sang Pendaki

Idealis Sang Pendaki

Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk dengan olahraganya masing-masing. Tapi kebanyakan mereka lari-lari kecil di lapangan hijau itu, termasuk cowok berkaos putih, bercelana trening biru itu. Keringatnya membasahi di sekujur tubuhnya, tetapi tampak tak lelah sedikit pun, bahkan wajahnya memancarkan aura semangat luar biasa di pagi hari ini, dan larinya pun semakin cepat, mengikuti waktu yang telah diatur pada jam tangannya.
“Aduhh, kakiku” terdengar rintihan gadis kecil karena terpeleset saat berlari bersama adiknya, dan tepat di belakang cowok itu. Dan cowok itu pun menoleh ke belakang.
“Hei dik, kamu kenapa, kamu baik-baik saja?” tanya cowok itu sedikit kaget, lalu ia pun mendekatinya memastikan apa yang terjadi. “lututku bang berdarah, tadi terpeleset” jawab gadis kecil itu, dan adiknya pun ikut menjawab, “Kakak sih bang, enggak hati-hati makanya terpeleset”.
“Ok, tenang-tenang, abang ada plester ko’, abang selalu bawa plester setiap olahraga.” sahut cowok itu sambil merogoh tas pinggangnya, cowok ini memang setiap olahraga selalu membawa plester, balsem, di dalam tas pinggangnya. “Tahan ya? enggak sakit ko’, Cuma sedikit sakitnya, biar enggak infeksi lukanya.” cowok itu menenangkan, lalu membersihkan lukanya dengan tisu dan menempelkan plester itu ke lutut gadis.
“Enggak sakit ko’ bang” sahut gadis itu, ia pun lalu bangkit dan berjalan sedikit tertatih mencari tempat duduk yang nyaman. “Mari abang bantu tuntun kamu dik, kita ke kursi itu saja” sambil menunjuk ke arah kursi yang tidak jauh dari mereka.
Mereka pun berkenalan, perkenalan mereka cepat akrab satu sama lainnya, dan sang adik yang selalu ikut berceloteh bercampur nyeleneh menambah gelak tawa mereka.
“Oh ya, terimakasih ya bang udah membantuku, jadi enggak enak merepotin.”, “enggak apa-apa lagi, santai saja dik!”, “abang sering olahraga di sini ya? Kelihatan enggak asing deh”, “enggak sering juga sih, ya seminggu terkadang dua kali abang olahraga di sini.
Oh ya, kamu kelas berapa dik? Dan adikmu?” tanya cowok itu sambil melirik adiknya. “Aku kelas dua SMA bang, dan adikku ini kelas dua SMP”, “Sebenarnya bang aku kelas tiga SMP lho, tapi karena telat masuk sekolah dasar jadi sekarang kelas dua SMP deh, hehe”, sahut adiknya yang selalu menyahut pembicaraan orang lain.
“Dan abang sendiri udah kuliah ya? Fakultas apa dan semester berapa bang?” tanya gadis itu sedikit penasaran. “Abang semester IV, dan ambil fakultas hukum” jawab cowok itu. “Oh, anak hukum ya? Asyik dong, kenapa ambil hukum bang?” gadis itu kembali bertanya.
“kenapa abang fakultas hukum ya? Hmm, alasannya sederhana sih, karena abang tidak suka hukum, awalnya sih, makanya abang ambil fakultas hukum, agar suka, lalu belajar dengan tekun, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk ke depannya ikut di barisan untuk menegakkan hukum yang benar, yang adil dan tak pandang bulu.” jawab cowok itu.
“Hihihi, panjang amat bang jawabannya, seperti gerbong kereta api”, ucap gadis itu sambil bercanda. “Lantas bang, menurut abang pribadi, bagaimana hukum yang semakin buruk akibat orang-orang hukum itu sendiri?” kembali pertanyaan dilontarkan dari gadis itu.
“Hmm, menurut abang orang-orang seperti itu bukan orang-orang hukum, tak layak sebutan itu untuk mereka, karena mereka itu yang sebenarnya penjahat hukum. Lagian abang juga masih mahasiswa, belum bisa banyak berbuat apa-apa untuk melawan mereka, hanya ikut berdemo saja ketika ada kasus-kasus hukum yang tidak adil, ikut mengkritik melalui tulisan-tulisan kepada mereka yang menyalahgunakan hukum. Dan tentunya abang lakukan bersama teman-teman kelas abang lainnya.
“Wah, aku terharu jadinya, abang idealis sekali”, gadis itu kagum mendengar jawaban dari cowok itu.
Matahari pun sinarnya mulai terik, lapangan hijau kini mulai sepi. Satu persatu para pecinta olahraga meninggalkan lapangan. Dan tiga anak manusia yang duduk di kursi itu pun bersiap-siap pulang. “Oh ya dik, kalau ada waktu kamu telpon ke nomor abang ya? ada yang mau abang bicarakan. Kamu suka mendaki gunung dik?” tanya cowok itu sambil memberikan no hpnya.
Di rumah sederhana dihiasi bermacam-macam bunga, dan ada juga berberapa pohon lumayan besar merindangi rumah ozy. Tiap sore si ozi mendapat tugas dari ibunya untuk menyiram tanaman-tanaman hias kesayangan ibunya. Si Ozi anak satu-satunya dari keluarga sederhana ini, tak heran jika hampir pekerjaan rumah ia bisa mengerjakannya, dari mulai menyapu, mengepel, bahkan masak sekalipun ia bisa mengerjakannya. Karena ia rajin membantu ibunya dan sangat patuh terhadap orangtuanya.
“Uchh, capek juga kali ini menyiram tanaman ibu, mana air keran macet-macet lagi, tapi untunglah akhirnya selesai juga, Hmm” walaupun sedikit capek aku harus tetap membantu ibu, kalau bukan aku lalu siapa lagi yang membantu ibu. “gumamku.
“Selesai menyiramnya?” tanya ibu sedikit teriak dari dalam rumah. “udah bu, baru aja selesai” jawabku sambil menggulung selang air. Setelah membereskan semua alat-alat menyiram tanaman, lalu aku masukkan di gudang belakang dapur.
Terdengar suara sms dari hpku yang ku letakkan di meja belajar kamarku, aku pun bergegas mengambil hpku, lalu aku buka pesannya, “oh, ternyata sms Wika, hmm, ternyata dia kangen juga denganku”
“Assalamualaikum Wr Wb bang.. Apa kabar? Lagi sibuk enggak bang?” isi pesan sms dari wika, gadis kecil yang manis, cantik, pintar dan penuh enerjik itu. teman baru Ozi, mereka saling mengenal ketika di lapangan hijau.
Aku pun langsung membalas sms dari Wika, “Waalaikum’salam WR WB dik, Alhamdulillah sehat. Kabarmu sendiri dik? Sehat? Abang enggak sibuk”, aku pun akhir-akhir ini terus memikirkannya, tetapi aku malu untuk smsnya duluan. Dan ternyata dia duluan yang sms aku, hmm.
“Alhamdulillah baik juga bang, oh ya bang, kemarin abang tanya aku suka atau enggak mendaki ya? Aku suka sekali loh bang, tapi aku belum pernah mendaki, dan aku ingin sekali” balas sms wika lagi.
“kamu serius dik? Yakin nih?” aku sedikit ragu dengan Wika, apa benar ia ingin mendaki ikut aku. “Iya loh bang, yakin, tapi enggak wika sendiri cewek kan bang?” balas sms wika lagi.
“Oh enggak dik, abang ada teman dua cowok dan satu cewek, pastinya mereka menyenangkan dik, kami semua mudah bersahabat”, jawabku melalui balasan sms untuknya. Aku sangat senang mendengar kabarnya mau ikut mendaki. Aku pun agak heran dengan diriku sendiri, kenapa belakangan ini aku selalu memikirkannya, teringat jelas garis senyumnya, tatapan matanya yang berbinar, semua menyatu di wajahnya yang rupawan. Rasa keingintahuaannya, manjanya saat ia lututnya terluka, sopan santunnya, ahh, sungguh membuatku tak mnegerti perasaan. Upps, jangan sampai, iya jangan sampai aku mencintainya, tak mungkin.
Suara sms hpku mengejutkanku saat aku sedang bermain dengan perasaanku. “Oh benar bang, ya udah bang, nanti aku kabari lagi. Aku mau minta izin sama ortuku dulu, kalau dapat izin, kita berangkat Sabtu depan ya bang?” balas sms wika, tampak wika sangat semangat ingin menapakkan kakinya di kerikil-kerikil pegunungan. Ia sudah tak sabar lagi menghirup udara segar alam bebas, disapa lembut oleh embun pagi di alam bebas.
“iya dek, abang tunggu kabar darimu, kalau benar jadi Sabtu depan kita berangkat, nanti kita sambung smsnya dik, udah mulai maghrib nih, Waalaikum’salam Wr Wb dik”, tak lama kemudian adzan magrib pun berkumandang dengan merdunya menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Ozi pun bergegas mandi, untuk melaksanakan sholat maghribnya, kali ini ia sholat di rumah, tak seperti biasanya yang selalu rajin ke mesjid. Mungkin karena tak sempat lagi ke Mesjid, makanya Ozi sholat di rumah saja.
“Ya Allah, ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu, Engkau yang membolak-balikkan hati ini, ya Allah bimbinglah hamba ke jalan lurusMu, jangan biarkan hambaMu ini lalai mengingatMu, ketika hambaMu mulai merasakan getaran cinta di dalam hati ini, jangan biarkan hambaMu ini diperbudak hawa nafsu, dan berikan yang terbaik untukku ya Allah, aamiin ya robbal alamiin.” doa Ozi setelah sholatnya.
Hari semakin gelap, bulan dan bintang mulai menghiasi angkasa, dan dingin pun mulai menyapa. Seperti biasa, Ozi menulis catatan hariannya. Ia suka sekali menulis dan membaca, sering kali mengurung diri di dalam kamar hanya untuk menulis. Ia tak seperti anak muda lainnya, ia menghabiskan waktu dengan hal-hal positip, dan ia dengan tegas menolak jika diajak teman-temannya untuk melakukan hal negatif, baginya waktu itu sangat berharga, tak salah jika ia tak membuang waktu hanya untuk melakuakn sesuatu yang negatif.
Terdengar suara sms hp Ozi, ia pun segera membukanya. “Assalamu’alaikum Wr Wb, bang aku dikasi izin sama ortuku, kebetulan ayah juga dulu waktu masih sekolah hobi mendaki gunung. Ketepatan deh, hheehe, makanya dapat izin gampang.”
Aku pun langsung membalas sms Wika, “Ok dik, Sabtu depan kita berangkat, nanti abang sms apa saja yeng perlu kamu bawa untuk perlengkapan mendaki gunung beserta logistiknya.”, “Ok bang sip” jawab wika. Aku pun memberitahukan kepada teman-temanku melalui sms untuk siap-siap sabtu depan naik.
Suasana kampus tidak seperti biasa, lebih ramai dan lebih sibuk dari hari sebelumnya, itu karena para siswa mengikuti ujian akhir semester. Bercelana keper hitam, berkemeja lengan panjang putih, seragam wajib bagi siswa untuk mengikuti ujian, dan jangan sesekali melanggarnya, kalau masih ingin berada di dalam kelas untuk mengikuti ujian. Para siswa sibuk dengan kegiatannya masing, ada yang sedang membaca di perpustakaan, membaca di kantin, membaca di bawah pohon bersama teman-teman yang lain, ada yang internetan di ruangan wifi, ada juga yang ngumpul-ngumpul seperti semut dan sesekali tertawa terbahak-bahak, suaranya pun sampai ke langit ke tujuh, luar biasa. Ada juga siswi yang cakep, yang berlangganan setiap jam istirahat merapikan makeupnya, ya dia adalah cewek yang tersorot oleh siswa-siswa genit, dan kalau ia lewat di depan siswa genit, para siswa genit beramai-ramai menyuitnya, cuittt… Cuitttt.. (Ya, seperti itulah kira-kira bunyinya).
Dan aku sedang berkumpul dengan teman-temanku di kantin untuk membicarakan pendakian Sabtu besok, setelah selesai ujian akhir semester. Mereka adalah: Dido, Ando dan satu lagi cewek, biasanya dia datang ke kampusku tapi kali ini dia enggak bisa datang. Dan Cuma dia yang beda kampus di antara kami, namanya Lena, dan dia juga yang paling cantik di antara kami. (ya iya lah cantik, Cuma dia sendiri cewek)
“Jadi gimana bang? Pasti kan kita naik sabtu depan? Tanyaku pada mereka, “kalau aku ok aja bang, gimana menurutmu bang Ando?” jawab Dido, dan bertanya kepada Ando, “Kalau itu kita yang atur, kalau aku oke aja” dengan semangatnya ando menjawab.
“Oh ya bang Ozi, siapa cewek yang abang bilang kemarin mau ikut?” tanya Dido penasaran padaku. “Oh cewek itu, kenalan baruku, waktu latihan kemarin di lapangan. Anaknya asyik loh, aku jamin deh kita semua akan klop. Hehe”. “baguslah bang kalau begitu, bertambah satu lagi teman mendaki kita, iya enggak bang Dido?” sahut Ando.
Teeettt… teeetttt… Suara bel tanda masuk kelas. “Udah bel bang, yuk masuk kelas bang! Biar cepat selesai ujian kita”, ajakku biar cepat bergegas, dan kami pun meninggalkan kantin menuju kelas.
Sampai di kelas ternyata pengawas ujian sudah masuk terlebih dahulu, dan soal ujian sudah diletakkan di setiap meja siswa. Dan kami pun duduk di kursi masing-masing, ketepatan kami bertiga duduk bersampingan, jadi bisa lebih mudah saling berbagi (m*ny*nt*k). Ujian dimulai, kami pun siap bertempur.
Satu jam kemudian, bel berbunyi sebagai tanda waktu ujan sudah habis. Selesai atau tidak, pengawas mulai mengumpulkan satu persatu lembar jawaban dari siswa. Kini pengawas tepat di depan mejaku, padahal satu soal lagi belum aku jawab. Huh, dengan tak rela aku serahkan lembar jawabanku kepada pengawas.
“Bang Dido, bang Ando, gimana selesai semua?” tanyaku pada mereka, “belum bang, satu soal lagi belum terisi”, jawab mereka bersamaan. “hahhaahhaahaa”, kami pun gelak tawa bersama menghebohkan ruangan kelas, semua siswa di ruangan kelas menoleh kepada kami dan serentak mereka berteriak “woiiii! berisik”, lalu kami pun keluar dengan segera, dan kami masih tertawa kecil.
“oh ya bang Ozi, si Lena udah abang kasi tau, sabtu depan kita berangkat?” tanya Dido padaku, kami sambil berjalan menuju persimpangan kampus, seperti biasa di simpang itu lah kami masing-masing memilih mobil kami (angkot).
“Udah bang, kemarin aku udah sms, dan jawabnya dia juga siap berangkat”, “mantaplah, jadi kita berlima ya kan bang?”, “iyalah kita berlima, ada lagi yang mau ikut emangnya?”, “Enggak ada sih bang, kita aja yang berangkat” sahut Ando, dan kami pun sampai di persimpangan kampus. “Baiklah bang, waktunya untuk berpisah, sampai jumpa besok”, “ok bang sipp” jawab mereka serentak, dan kami pun kembali ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah, rumahku tampak sepi sekali, mungkin orangtuaku lagi pergi keluar. Aku pun langsung masuk ke kamar, dan merebahkan badanku di kasur, badan dan pikiranku cukup lelah terkuras oleh ujian di kampus tadi. Dan tiba-tiba aku teringat wika, kalau aku lagi sendiri, lagi termenung, Bayangannya selalu menghampiriku, seolah-olah menyapaku untuk terus terhanyut oleh bayangannya. Sungguh, aku benar-benar sangat merindukannya.
“Apakah aku harus menelponnya, untuk menyatakan padanya bahwa saat ini aku benar-benar merindukannya?” tanyaku dalam hati.
Tidak, tidak, aku tidak boleh menyatakan rinduku padanya apalagi menyatakan cinta padanya. Biarlah semilir angin ini menyampaikan rinduku padanya, walaupun entah kapan disampaikan oleh angin, dan biarlah cinta ini aku simpan dengan baik di dalam hati, walaupun sesungguhnya aku tak kuasa untuk menolak cinta itu. Iya, iya aku harus bisa menguasai dan mengontrol diriku sendiri, lagi pula terlalu ego bagiku, jika suatu nanti pelajaran di sekolahnya terganggu karena aku. “Wika aku sayang kamu, dengan diamku inilah tanda cintaku untukkmu, dan belum saatnya aku ungkapkan”, aku terus bermain dengan perasaanku sendiri, sampai tidur pun menarikku masuk ke dalam mimpinya.
Hari yang dinantikan pun telah tiba, hari Sabtu, hari yang telah dijanjikan kesepakatan bersama oleh: Ozi, Wika, Dido, Ando, dan Lena, yang sedang memikul cariel di pundaknya masing-masing, yang berisikan peralatan, perlengkapan dan logistik untuk mendaki.
“Gimana teman-teman? Siap untuk berangkat? atau masih ada peralatan, atau perlengkapan, yang belum lengkap? Bang Dido, bang Ando, kak Lena, dan Wika, siap semua?”
“Siap bang Ozi, semua beres” serentak jawab Dido, Ando, dan Lena, Si Wika tak bersuara, ia hanya diam. “Hei dik, kamu kenapa? Malah diam.” tanyaku pada Wika. “Sarung tanganku bang tertinggal”, “Oh, ya udah, punya abang ada dua, nih simpan dulu, nanti pakai ya?” aku memberikan sarung tangan, yang baru aku ambil dari tas pinggang. “Terimakasih bang Ozi, hehhe” Sahut Wika tersenyum manis.
“upps, manisnya nih anak, kalau lagi senyum” gumamku dalam hati. “Ok bang, siap kita berangkat?” Dido mengagetkanku, mungkin ia sedikit tahu tentang peasaanku sama Wika, emang sih aku seringnya curhat sama Dido, jadi dia tahu benar tentang aku.
“Siap bang, siap” jawabku kaget. “Ok, kita berangkat!” Sahut Lena sambil melangkah duluan menuju mini bis. Tak lama kemudian mini bus ini pun bergerak dan mulai melaju, ku lihat mereka sudah mulai mengantuk, satu persatu mereka kulihat tertidur. Tetapi aku tak bisa tidur, aku hanya bisa menatap gadis kecil bidadari surga yang turun dari langit, rambutnya yang lurus memanjang sampai ke bahu, menambah anggun wajahnya, sesekali ia terbangun untuk merapikan poni rambutnya karena diterpa angin.
Dan akhirnya kami sampai di kota Berastagi, tetapi kami harus menyambung angkot lagi menuju gunung Sinabung, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke sana. Tak terasa, Danau Lauh Kawar pun sudah kulihat, airnya yang hijau, tenang dan dingin mengingatkanku beberapa tahun yang lalu ketika aku dan teman-teman menyeburkan diri mengecap berenang di danau itu.
“Welcome to Sinabung Mountain brothers and sisters, and welcome to Lauh Kawar lake brothers and sisters” teriak Dido sambil membentangkan tangannya. Dan Si Lena berlari kecil menuju ke tepian danau, lalu membasuh mukannya dengan air danau itu. “wah, segar kali oi, huhhh, dingin-dingin.” ucap Lena. Ando pun menyusul lena ke tepian danau, tampak sekali kerinduan yang tercurahkan dari wajah mereka.
“Subhanallah, keren sekali bang danaunya, dan gunung itu” kagum Wika saat melihat danau Lauh Kawar dan menunjuk ke arah gunung Sinabung, ia pun berjalan mendekatiku. “Iya dik, emang keren” sahutku, sambil menatap wajahnya.
Dan tiba-tiba saja ia menoleh menghadapku, ini membuatku tak karuan. “Serius amat, ngelihatin aku bang. Ada apa bang?” wika heran. “Oh, enggak dik, enggak apa-apa dik” jawabku gugup.
‘Oi abang-abang, kakak-kakak, mari dirikan tenda, udah mulai gelap nih hari” ajak Dido kepada kami, sambil mengeluarkan tenda dari carielnya. “Ok bang” Sahutku cepat.
Dan kami pun mendirikan tenda, satu tenda untuk para cowok, dan satu lagi tenda untuk para cewek. Lalu saling berinisiatif sendiri-sendiri melakukan sesuatu, Si Dido menyiapkan menu makanan untuk malam ini, ia mulai memasak nasi dibantu dengan Lena, Ando mencari kayu bakar, untuk api unggun nanti malam, dan Wika membantuku memasukkan barang-barang ke dalam tenda.
Hari pun semakin gelap, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, udaranya pun semakin dingin, si Wika mengambil jaket lalu memakainya, tampak si Wika mulai beradaptasi dengan alam.
“Oh ya dik, pernah nonton film ‘My Name Is Khan’ bintang utamanya Shahrukh Khan, Tau enggak adegan mana yang paling berkesan di film itu?” tanyaku, “Pernah bang aku nontonnya, tapi enggak tau bagian mana adegan yang paling berkesan. Emang dibagian mananya bang?” sahut Wika.
“Ingat benar abang adegan waktu si Khan mau sholat di daerah non Muslim, dan ada sepasang suami istri Muslim India juga, mengingatkannya untuk tidak sholat di sembarang tempat, apalagi di kawasan non Muslim, lalu Khan menjawab ‘Untuk melaksanakan sholat, bukan tergantung pada tempatnya, bukan juga tergantung pada orang-orang di sekitar itu, tetapi tergantung pada keyakinan’, kalimat ini dik, menguatkan abang saat mulai enggan untuk melaksanakan sholat, apalagi daerah seperti ini, udaranya dingin, bawaanya malas untuk sholat”.
“Ya ampun, segitunya bang?” respon Wika sambil menundukkan kepalanya. “ya udah, sholat jamaah dulu kita yuk?” ajakku. “aku enggak bawa mukena lho bang, gimana dong? “.
“bentar abang pinjam mukena dulu sama pendaki yang lain.” setelah mendapatkan mukena, kami pun bertiga sholat Maghrib berjamaah. Kecuali Dido dan Ando mereka non muslim, tetapi di antara kami keyakinan tidak dipermasalahkan dalam berteman, kami saling menjaga perasaan keyakinan teman kami masing-masing.
Beberapa jam kemudian, harum mie goreng ala chep Dido menusuk hidung kami, ditambah harum khas ikan sarden, menambah selera makan malam ini. “Waktunya makan! Mari-mari makan malam, yang jauh mendekat, yang dekat merapat” Lena menawarkan masakan chep Dido.
“makan-makan, udah laper nih,” sambut Ando, setelah menyalakan api unggun. “mantap beghh, buat lingkaran oi,” sahutku, dan wika duduk di sampingku. Kami pun makan dengan lahapnya, diterangi api unggun dan lampu sentir, malam yang cerah, bulan yang terang bertabur bintang menambah terangnya makan malam kami.
“Gimana enak enggak masakan mie goreng, dan ikan sardenku?” tanya Dido pada kami. “Enak bang Dido, tapi lebih enak lagi mie goreng kantin kampus lah. Haha:D” sahut Ando, “Yah itu mah, sayurnya lengkap, kalau ini apa adanya bang. Haha:D” jawab Dido sambil makan dengan lahapnya. “Lumayan enaklah bang, daripada enggak makan. haha” Sahut Lena sambil tertawa kecil,
“Kalau menurutku sih enak, walaupun sedikit asin ya. Tapi asinnya ini murni kan bang?” tanyaku pada Dido, “Iya murni lah, maksudmu bang Ozi, bercampur dengan keringat begitu?” jawab Dido, yang menghentikan suapan nasinya sebentar. Lalu kami pun tertawa terbahak-bahak “hahhahaahaha”.
“Eh, untuk dik wika tambuh ya? Jangan malu-malu, kalau malu-malu di sini kelaparan. Hehehe” tawar Ando sambil menyodorkan mie goreng yang ada di mangkuk. “iya dik, jangan malu-malu, soalnya kita harus makan yang cukup, agar energi kita terjaga, saat kita muai mendaki nanti” sahut Lena lagi. “Iya bang Ando, kak Lena” jawab Wika, lalu menambah nasi ke piringnya.
“jam berapa kita mulai mendakinya bang Ozi?” tanya Wika padaku, “Sekitar pukul 24:00″ jawabku. “ohh, berarti lama lagi dong, terus habis makan nih, kita mau ngapaen lagi bang?”, “Habis makan kita tidur sebentar, setelah pukul 24 kita bangun, dan siap-siap untuk mendaki” jawab Ando, “Dan jangan sampai ketiduran ya woi!” sahut Lena lagi. “pastikan alarm kita hidup” ucapku, sambil memasang alarm hpku. Setelah makan malam, kami pun masuk tenda untuk tidur, untuk menguatkan tenaga kami yang cukup melelahkan seharian tadi.
Beberapa jam kemudian, alarm hpku pun berdering sebagai tanda menunjukkan pukul 24:00. Aku pun tersentak bangun, lalu membangunkan yang lain, “Bangun-bangun woi! Bang Ando bang Dido bangun,”, “Udah pukul 24 ya bang?” tanya Dido, sambil mengucek matanya. “Iya, waktunya kita naik”.
“Haduh bang Ozi, masih ngantuk banget nih” sahut Ando, yang masih tidur juga. “Hoalah bang Ando, bangun dong! Aku juga mau bangunkan Wika dan Lena nih”, “Iya-iya” jawab Ando, yang akhirnya terpaksa bangun.
Aku pun keluar tenda, dan membangunkan wika dan Lena yang tendanya di samping tenda kami juga. “Kak Lena, bangun kak!”, “Iya bang Ozi, ini kami udah bangun.” sahut Lena dari dalam tenda, dan mereka pun keluar dari tenda. Aku sedikit kaget melihat wajah Wika, walaupun baru bangun tidur, wajahnya tetap cantik, enggak ada kusutnya sedikit pun, ya walaupun rambutnya yang panjang masih belum dirapikan, tetapi malam ini ia sungguh sangat cantik, sungguh mempesona.
“Ok teman-teman, kita siapkan barang-barang kita, kita bawa tenda satu untuk di puncak” ucap Dido, sambil membereskan perlengkapan yang akan dibawa ke puncak. Dan kami mulai membereskan perlengkapan kami masing-masing.
Lengkap sudah, perlengkapan di tubuh kami, mulai dari kaki sampai ujung kepala, bersepatu treck, berjacket tebal, bersarung tangan, bertopi yang ditambah headlight sebangai penerang, ditambah cariel di pundak kami masing-masing. Sebelum meninggalkan perkemahan, seperti biasa kami tak lupa untuk berdoa, agar pendakian kami diberikan yang terbaik oleh Tuhan.
“Baiklah, abang-abang, kakak-kakak, sebelum kita mulai pendakian ini, marilah kita meluangkan waktu kita sejenak, agar kirannya petualangan kita kali ini diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa, tundukkan kepala, dan doa dimulai menurut agama masing-masing!” ucapku untuk memimpun doa. Setelah berdoa kami pun berpelukan satu sama lainnya dan sama-sama mengucapkan sambil berteriak “Bersama kita mulai, bersama kita akhiri, huahhh” itulah motto kami.
setelah itu kami menuju posko pendaftaran, untuk mendaftarkan diri di posko itu. Setelah mendaftarkan diri, kami pun memulai pendakian kami dengan penuh semangat.
Kami pun mulai menyelusuri hutan kecil di kaki gunung Sinabung, dan mulai masuk di pintu rimba. “Untuk semua teman-teman, kita sudah memasuki pintu rimba, diharapkan untuk semua lebih fokus lagi, dan kalau ada yang capek bilang ya? Biar kita istirahat, dan jangan terlalu memaksakan diri, karena itu beresiko” Dido memberikan sedikit arahan dari depan. Dia yang memimpin menapak, yang ke dua Lena, setelah itu aku, wika di belakangku, dan Ando paling belakang menapak, jarak kami dua meter dari yang lainnya. “Sipp bang Dido” jawab kami serentak.
“Seram juga ya bang hutannya, mana dingin lagi, oh ya bang pendaki yang lain mana ya? Ko’ cuma kita aja.” ucap wika padaku, “hutan mana ada yang enggak seram dik, kalau enggak seram itu namanya taman, hehee. Pendaki yang lain mungkin di atas dik, mereka mendaki duluan.” sahutku sambil terus melangkahkan kaki di tanah yang lembab dan berair.
Kami terus melangkah, udara yang dingin pun kini kami rasakan menjadi panas, karena keringat yang terus bercucuran dari tubuh kami.
“Kalau panas, dibuka aja jaketnya dik Wika!” ujar Ando, sedikit memberikan arahan, “iya bang Ando” sahut Wika. Tak hanya Wika yang melepaskan jaketnya, kami pun semua melepaskan jaket kami masing-masing. Setelah berhenti untuk melepaskan jaket, kami pun kembali menapaki tanah yang lembab, tanah yang licin, yang dijalari akar-akar pohon yang membuat kami sesekali tersandung.
“Oya bang Ozi, di sini enggak ada binatang buas ya? Maksudnya seperti harimau, singa, atau ular besar?” tanya wika padaku, “sepertinya enggak ada deh dik, selama kami mendaki belum ada melihat binatang seperti itu, mendengar dari pendaki yang lain pun belum ada dik. Tapi kalau di gunung Leuser mungkin ada dik, karena abang pernah membaca beritanya.” Sahutku.
“Oh enggak ada ya bang. Gunung Leuser, suka banget lho bang gunung Leuser, pengen banget mendaki ke sana. Kabarnya gunung yang terindah di puncak Leuser ya bang? Diantara gunung-gunung pulau sumatera ini” tanya wika lagi, “Abang dengar pun seperti itu dik, tapi dik kalau kamu yakin ingin mendaki gunung Leuser, daki dulu gunung-gunung yang medannya tidak terlalu berbahaya. Mendaki gunung itu bertahap dik, enggak langsung tunjuk gunung ini, gunung itu, untuk didaki. Karena kita harus benar-benar siap mental, fisik, sedikit pengalaman, dan selalu belajar mengontrol diri, maksud abang menaklukkan diri sendiri.” jawabku, sekaligus memberikan keterangan untuk Wika.
“Iya dik benar kata bang Ozi, seperti yang dibilang Sir Edmund Hillary ‘bukan gunung yang ditaklukkan, tetapi diri sendiri yang ditaklukkan’.” sahut ando dari belakang. “Oh seperti itu ya bang, iya bang aku paham.” ujar Wika, sambil menganggukkan kepalanya.
Brakk, terdengar suara cukup keras dari depan, seperti suara menubruk. “Aduh woi, jidatku berdarah” rintih Dido. Lalu kami mengejar Dido, kami lihat jidat Dido berdarah cukup banyak karena terbentur batang pohon. Kami menjadi panik, tetapi bagaimanapun kami harus menghentikan darah yang terus mengucur dari jidat Dido.
“Ini bang ando kasi bethadine dulu, setelah itu diperban lukanya.” ujar Lena kepada Ando, sambil mengeluarkan kotak P3K dari carielnya. “iya-iya sini cepat” sahut ando sambil membersihkan darah dijidat Dido. Dan aku membantu Ando menangani luka dijidat Dido. Setelah kami bersihkan luka itu, lalu kami beri bethadine, dan setelah itu kami perban jidat Dido. Dan akhirnya, sukurlah darahnya sudah mulai berhenti.
“Kenapa bisa sampai nubruk batang pohon bang?” tanyaku pada Ando. “mataku kurang jelas memandang bang, apalagi malam.” jawab Dido sambil menegakkan kepalanya. “hoalah bang bang Dido, bang Dido. Enggak bilang dari awal, biar aku mimpin jalan.” sahutku.
“Jadi gimana nih bang Dido, lanjut pendakian kita?” tanya Ando, “pasti lanjutlah, emang ada apa?” jawab Dido tegas, sambil mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya ke atas. “Yakin bang Dido?” tanya Lena lagi. “Iya lho abang-abang, kakak-kakak, aku enggak apa-apa” sahut Dido, sambil berdiri membuktikan kepada kami bahwa ia baik-baik saja.
“baiklah bang Dido, kalau seperti itu.” sahutku. “Bang Dido ini cokelat, nah makan!” ujar wika pada Dido, yang baru aja diambil cokelat dari carielnya. Lalu Dido pun memakannya, dan membagikan kepada kami semua.
“Dik kamu tau, seseorang yang jatuh tersungkur, dengan cepatnya ia kembali tegak, lalu melangkah lagi? Itu karena impian dik. Sama halnya dengan pendakian kita ini dik, impian kita adalah kita harus sampai di puncak. Nah, walaupun abang udah luka jidat abang ini, itu tidak membuat semangat abang kendur dik, bahkan semangat abang malah menambah, seperti api yang disiram bensin” ujar Dido, sambil berdiri dan memakai carielnya.
“yuk jalan lagi” Dido memberikan arahan. “Uppsss, tunggu dulu bang Dido, biar aku yang mimpin jalan, kita ubah formasi kita. Aku yang pertama jalan, lalu Wika, berikutnya Bang Dido, berikutnya kak Lena, dan bang Ando tetap seperti semula.” ucapku.
Lalu kami pun melanjutkan pendakian kami. Berjalan di atas batang pepohonan yang tumbang, dan sesekali kami harus merayap di tanah yang lembab dan basah, karena jalan setapak itu terhalang oleh batang pohon yang kelihatan baru saja tumbang.
“Teman-teman semua, diharapkan lebih fokus lagi karena medannya cukup sulit, banyak pohon yang baru saja tumbang” ujarku, sedikit memberikan arahan untuk teman semua. “Oke bang Ozi.” jawab mereka serentak. “uhh, sial, senterku mendadak mati.” rintih Wika, sambil mengotak-ngatik senternya.
“Kenapa dik? Rusak ya? Coba bang lihat.” sahutku, lalu mengambil senternya dan aku coba periksa. “dik, bola lampunya rusak.” kamu pakai senter abang aja, biar abang pakai senter mancis.” sahutku lagi. “Biar aku yang mimpin jalan bang Ozi” sahut Ando dari belakang. “ok bang”. Lalu kami pun bertukar posisi, sekarang aku yang di belakang. Kami pun melanjutkan pendakian.
Kami kembali melanjutkan pendakian, lelah yang menyinggahi raga kami, tak kami hiraukan, karena impian kecil kami menggapai puncak. Kami terus menapaki jalan setapak itu, sampai kami berhenti saat gerimis mulai menetes di atas kelapa kami.
“Kita berhenti sejenak ya? Mulai dingin nih, kita ngeteh dulu gimana?” Ando menghentikan langkahnya, lalu mengeluarkan peralatan masak dari carielnya. “Setuju-setuju” sahut Lena kecil. “istirahat di sini saja, tanahnya cukup datar dan tidak terlalu basah” Dido mengarah tanah itu. Kami berhenti sejenak, untuk menghangatkan tubuh kami dengan membuat teh.
“Oh ya dik, kamu suka sama bang Ozi ya, dari titik matamu, dan garis senyum di wajahmu saat menatap bang Ozi itu beda sekali? Jangan boong deh!” bisik Lena ke telinga Wika. “Hm, gimana ya? Ada benarnya sih. Tapi..”, “Tapi apa dik?”, “Tapi mana mungkin kak, abang Ozi itu cowok yang baik, taat beribadah, mana mungkin merespon cewek seperti aku, sedangkan aku pakai jilbab aja enggak.” bisik Wika lagi. “Ah, hati enggak ada yang tau lho, apalagi bang Ozi, terlalu apik menyimpan perasaan.
“duarrrr, bicara apa kalian hah, nih minum tehnya, kongsi aja ya? enggak cukup cangkirnya” Dido mengagetkan mereka, sambil menepuk pundak Lena. “ihh, resek banget deh bang Dido. Tapi thaks tehnya, hehe” ucap lena sambil meminum teh hangat itu.
“mantap tehnya bang dido, bibirku pun tak lagi biru, benar enggak bang Ozi?” puji Ando, sembari menyodorkan secangkir teh itu padaku. “hmm, iya bang mantap.” pujiku lagi. “Haha, kalian bisa aja, kalian muji gini biar aku terus ya, masak dan buat teh?” sahut Dido. “Hehe, enggak lho bang, emang benar ko” aku tertawa kecil.
“Oh ya bang Ozi, lama lagi sampai ke puncak? Tanya wika, sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya, tampak ia sedang kedinginan. “Enggak dek, paling sekitar tiga jam, kalau kita enggak ada halangan, kenapa dik? Kamu letih?” sahutku, sambil melihat ke arah jam tanganku.
“Ah, enggak ko bang, cuma nanya aja, oh ya bang Ozi, ngomong-ngomong pacar abang suka naik gunung juga ya?” tanya wika penasaran. “Pacar? Hehe, pacar abang itu ya mereka bertiga ini” sambil menunjuk Dido, Ando dan Lena. “enggak ngerti Wika bang, maksudnya?” tanya wika lagi, dengan mengedepankan wajahnya lebih dekat. “haha, maksud abang dik, abang enggak pacaran, tetapi berteman, karena berteman lebih baik dari pacaran, bahkan jauh sekali kebaikannya. Ngerti, maksud abang?” jawabku, sambil tertawa kecil. “Oh, seperti itu” wika mulai mengerti.
Gerimis mulai reda, dan teh di cangkir pun sudah mengering. Kami pun membereskan peralatan kami untuk kembali menyelurusi menggapi puncak Sinabung. “Ayo kawan-kawan, kita kembali melangkah” Ujar Ando, yang memulai melangkah.
Mendaki terus, terus mendaki sampai medannya pun berganti, tanah yang lembab, sedikit berair, dijalari akar-akar pohon, dan sesekali merayap di bawah pohon yang tumbang, sudah kami lalui. Kini kami dihadapkan dengan medan bebatuan yang keras dan cadas, sebagai tanda sebentar lagi kami berada di puncak.
“Bentar lagi kita sampai, lebih hati-hati lagi, karena takutnya ada batu yang menggelinding” sedikit arahan Ando. “Ok bang” jawab kami serentak. Di medan bebatuan ini, kami tak lagi seperti berjalan tetapi sudah seperti memanjat, karena bukan lagi horizontal yang kami hadapi, tetapi sudah hampir vertikal. Kami pastikan batu yang kuat sebagai tumpuan kami, karena jika batu itu tidak kuat, itu bisa membuat kami beresiko fatal, dan menggelinding bagaikan batu.
“Sini tanganmu dik, biar abang bantu” Ando menjulurkan tangannya untuk Wika. “Iya bang” sahut Wika, nafasnya mulai terengah-engah. “Hati-hati ya dik!” sahutku dari belakang, “ok bang Ozi” Wika menoleh ke belakang sambil memainkan mata padaku yang sedikit tertutup oleh rambut panjangnya.
“Ya Allah, aku sangat menghawatirkannya, jaga keselamatannya, aku tidak mau ia terjadi apa-apa.” doaku dalam hati, dan sesekali aku melihat wajahnya yang kelihatan sedikit pucat. “Bang Ando kita berhenti sebentar, betisku keram” keluh Wika, sambil mengusuk betisnya. “ok, kita berhenti” Ando memberikan aba-aba. Lalu aku mempercepatkan diri untuk mendekati Wika, dengan sedikit cemas.
“Kenapa kamu dik?” tanyaku, sembari melepasakan carielku. “betisku keram bang Ozi.” jawab wika, yang terus mengusuk betisnya dengan balsem. “hm, ya udah kusuk aja terus dik” sahutku
“Kakak juga pernah seperti itu dik, waktu pertama kali mendaki. Iya kan bang Ozi?” ujar Lena, sambil membantu Wika memijit-mijit kakinya. “Iya dik, benar. Nanti hilang itu keramnya, kalau sudah dipijitin terus.”, “iya bang, kak” sahut Wika.
“Subhanallah, indahnya taburan bintang itu, dan lihat kerlap-kerlip lampu kota itu, tak pernah kubayangkan sebelumnya,” kagum wika dan menghentikan pijitan kakinya. “hah, baru sadar! Kamu dik.” tanyaku heran. “Hehe, iya bang dari tadi aku ketakutan terus, jadi aku enggak terlalu memandang terlalu jauh, aku hanya menatap batu-batu di depan mataku aja,”
“Nanti kalau kita udah di puncak, lebih indah lagi dik apa yang kita lihat. Karena jarak pandang kita tak terhalang. Semangat ya!” ujarku, seraya menepuk pelan pundak wika. “Ok deh, yuk lanjut lagi!” sahut Wika, dan ia kembali tegak.
Kami pun mulai melanjutkan pendakian yang sebentar lagi sampai di puncak. Semakin tinggi keberadaan kami, semakin dinginlah udaranya, dan semakin kencang pula angin yang menghadang kami.
Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai juga di puncak Sinabung. Perjuangan yang kami lakukan kini sudah dibayar dengan keindahan alam. Tampak dengan jelas sekali kerlap-kerlip lampu kota Medan, kerlap-kerlip lampu kota Berastagi. Bagaikan ribuan kunang-kunang yang beterbangan. Dan cahaya bulan cukup terang, ditambah dengan kerlipan bintang yang berserakan di lagit gelap sana, menambah keindahan alam yang tak mungkin bisa dilihat dari jendela kamar.
“Kita sudah sampai dik, selamat datang di puncak Sinabung!” ucap Ando, sambil membentangkan tangannya. Sudah kebiasaan Ando, dengan gayanya yang khas ia pun melepaskan baju, lalu menghisap rokoknya, setiap sampai di puncak.
“Ya Allah, Subhanallah, indah sekali ciptaaMu Tuhan. Tak pernah aku bayangkan seperti ini.” kagum Wika, saat ia merasakan keindahan yang luar biasa di atas puncak. “Indah ya dik? Itu makanya dik, abang selalu merindukan momen seperti ini, yang pastinya enggak akan abang dapatkan di kota sana.” ujarku sambil mendekati Wika.
“akhirnya kita sampai juga di puncak. Woiiiii!” teriak Dido. ” yess, aku akhirnya bisa kita tebus kerinduan ini.” sahut Lena.
Dan kami pun saling tos satu sama lain, lalu berpelukan bersama-sama sebagai tanda “semua itu karena kebersamaan kami”. Lalu kami mendirikan tenda, karena dinginnya luar biasa, sambil menunggu sinar mentari yang akan menghangatkan tubuh kami.
“Udah berdiri nih tendanya, sini woi masuk! Jadi patung es nanti kalian di luar sana” ajak Lena menyuruh kami masuk. “ok Len, yuk masuk dik, nanti kita lihat lagi dik, saat sang surya menyambut kita” ucapku, dan mengajak Wika masuk ke dalam tenda.
“tunggu-tunggu dulu, kita foto bareng dulu bang! Dengan background lampu kota Medan, bang Ando tolong ambilin foto kami dong” ujar Wika, sambil mengeluarkan kamera pocket di kantong kecil carielnya, dan ia pun memanggil Ando, “Ok bisa” sahut Ando cepat. Dan kami pun mengabadikan momen itu difoto.
Lalu kami masuk ke dalam tenda, menunggu sunrise seperti pendaki-pendaki lainnya. Untuk menghangatkan tubuh kami, Dido pun menyuguhkan teh dan beberapa potong roti tawar yang sudah diolesi selai untuk kami.
Waktu terus berlalu, momen yang dinantikan pun muncul. Sang surya sedikit malu tertutup awan tipis, Sinar orangenya yang kekuning-kuningan membelah kesepian di awan ufuk timur.
“Woi, lihat! Sunrise.” teriak Ando dari luar Tenda. “udah bangkitkah sang raja siang” sahut Lena. Kami pun segera keluar.
“oh my God, amazing” kagum Wika yang kesekian kalinya, ia pun duduk manis menatap kelembutan sinar raja siang. “cantik dik, mataharinya? Oh, ya boleh bang duduk?” aku pun duduk di samping Wika. “iya bang, cantik sekali. Tentu aja boleh, sini duduk bang.” sahut Wika, sambil menggeser duduknya.
Dido, Ando, Dan Lena, mereka mengambil foto bergantian berlatar belakang Sunrise. Dan aku duduk manis bersama gadis kecilku.
“Bang Ozi, Wika, senyum dong! Biar aku ambil foto kalian berdua” teriak Lena, sembari mengarahkan kameranya mengarah kami. “ok, sipp” jawab kami serentak”. Kami pun difoto oleh Lena, dengan senyum terbaik yang aku berikan.
“Oh ya bang, ada sesuatu untukmu, ini udah aku siapkan waktu kita mau berangkat. Tunggu bentar ya?”, “Apa itu dik?” , “lihat aja deh.” Wika pun masuk ke tenda untuk mengambil sesuatu.
“Buka bang kadonya!” ucap Wika, “apaan nih dik?” aku sedikit bingung, dan membuka kado itu. Oh, ternyata tas pinggang Eiger. Tas pinggang salah satu asesoris yang aku sukai.
“Hei dik, kamu kenapa tau abang suka tas pinggang?” tanyaku heran. “ada deh, mau tau aja. Hehe, tapi abang suka kan?”, “iya abang suka sekali, tapi kan ini mahal?”, “santai aja lagi bang” sahut Wika enteng.
Aku sungguh terkejut saat gadis kecil ini membuat suprise di puncak, sungguh tak bisa aku lupakan. Aku hanya diam, menatap bening matanya yang jeli, pipinya yang putih bak pualam, hidungnya yang tak terlalu mancung, dan bibirnya yang tipis, semua indah menyatu di wajahnya.
“bang Ozi, abang enggak ada yang mau diucapkan untukku, mengenai perasaan abang?” ucap Wika, dan menatap serius mataku. “a . a pa ya?” jawabku gugup. Aku mulai mengerti perasaan Wika terhadapku, tapi enggak mungkin aku ucapkan ‘I love U’, lalu nembak dia, terus jadian, dan akhirnya kami pacaran. Tidak, tidak mungkin itu terjadi. “ya Tuhan tolong hambaMu, tunjukkan jalan yang lurus” doaku dalam hati.
“Bang Ozi, tau enggak sebenarnya aku menunggu ucapan yang terindah dari mulutmu bang?”
“Dik, kamu masih terlalu muda untuk memahami cinta, di usia muda sepertimu, kamu akan kesulitan memahami cinta. Bukan berarti abang melarangmu untuk mencintai seseorang, walaupun itu termasuk diri abang. Dan abang mengerti benar, mencintai dan saling mencintai itu manusiawi sekali, cinta juga tak bisa ditolak ketika ia singgah di hati manusia. Tetapi dik, kamu juga bisa menyesuaikan dengan keadaanmu, karena cinta yang sesungguhnya tidak seperti yang kamu bayangkan, cinta itu bukan sekedar kata ‘I love U’, lalu jadian, setelah itu pacaran, bukan dik, bukan itu, jauh seperti yang kamu bayangkan. Cinta itu hanya dalam ikatan pernikahan dik” jelasku pada Wika.
“Aku mengerti bang, walaupun saat ini masih belum bisa aku terima.” sahut Wika dengan wajah sedih.
“ada yang lebih penting dari semua itu dik, yaitu pelajaranmu, karena pelajaranmu ini adalah masa depanmu, jadi bukan cowok masa depan itu. So, kalau mau sedih, sedih karena pelajaran bukan sedih karena cowok, hehe. Yuk gabung sama yang lain!” ujarku sambil berdiri.
“Wika, andai kamu tau sebenarnya hati ini, kamu mungkin tak sedih seperti ini” gumamku dalam hati.
“iya bang, yuk bareng mereka” sahut wika. Dan kami pun bergabung dengan yang lain, lalu kami mengabadikan momen-momen di puncak Sinabung dengan foto narsis kami. Aku lihat Wika kembali menggariskan senyum, bening matanya yang berkaca-kaca tadi pun telah hilang. Kini ia tertawa bersama teman-teman yang lain.
“Laper nih, masak mie yuk!” ajak Lena. “Kali ini yang masak jangan aku lagi ya?” sahut Dido, sambil berpose yang difoto oleh Ando.
“iya, tenang aja, aku yang masak ko’ sama Wika, iya kan dik?” sahut Lena. “siip kak” jawab Wika. Mereka pun mulai memasak mie.
Beberapa menit kemudian, mie yang dimasak Lena dan Wika akhirnya siap untuk disajikan. “Abang-abang, mari sini, udah masak nih mie” teriak Lena. “wah, cepat bener.” sahut kami, lalu kami pun menuju tenda. Segera kami lahap mie buatan Lena, karena perut sudah lapar.
Tiba-tiba hpku berbunyi, tanda sms masuk, lalu aku baca. “Ozi, kalau sudah selesai mendaki, langsung pulang ke rumah ya? Karena pernikahanmu dengan Zahra dipercepat. Ini semua karena memenuhi permintaan Ayah Zahra yang meninggal beberapa hari yang lalu. Dan keluarga zahra sekarang di rumah.”
“Innalillahi Wainna Ilaihi Roziun, Ayah Zahra meninggal.” ucapku sedih. Tanpa kusadari, hpku pun terlepas dari genggamanku. Lalu Wika membaca sms itu karena penasaran.
“Zahra siapa bang?” tanya wika penasaran. “Zahra itu saudara jauh abang, dan kami telah dijodohkan setahun yang lalu, oleh kedua orangtua kami.” jelasku.
Kembali mata wika berkaca-kaca, lalu air matanya pun mengambang di pipinya. “Jadi bang, kamu akan segera menikah dengannya?” tanya Wika sambil menangis. Dan lena pun mengelus-elus kepala Wika sembari berucap “sabar ya dik, kamu harus kuat!”, “Iya dik, kamu haru bisa” dukung Dido dan Ando.
“Abang juga enggak tau dik, bagaimana ke depannya. Semua abang serahkan pada Allah, abang hanya mengikuti skenario aja.” jawabku. Mendengar jawabanku, Wika pun keluar tenda, dan berlari ke tepi jurang. Lalu aku mengejarnya untuk membuatnya tenang.
“Dik, kamu harus paham, apapun terjadi dalam hidupmu, itu adalah yang terbaik untukmu. Tinggal saja, bagaimana kamu menghadapinya dan belajar dari kesalahan yang lalu.” jelasku sambil menghapus air matanya yang menetes di pipinya dengan tissu.
“tapi bang, apakah kita bisa berkomunikasi lagi? Kalau abang sudah menjadi suaminya” tanya Wika. “Ya tentu boleh dik, kak Zahra perempuan yang baik. Nanti abang kenalkan sama kamu.”
“Iya bang” ucap Wika dengan senyumnya yang terpaksa. “Nah, begitu dong, jadi anak yang baik ya” Ucapku sambil mengelus rambutnnya. “Iya bang, semoga aku kuat.”
Tak terasa, sinar matahari pun mulai memanas. Waktu menunjukkan pukul 10:30, kami pun harus kembali turun, karena kerinduan kami telah terbayarkan.
“Oi.. Bang Ozi, Wika, turun yuk!’ udah panas nih” teriak Lena dari tenda. “ok, sipp” jawabku.
“Oh ya bang, mungkinkah kita bisa mendaki bersama lagi?” tanya Wika. “Kenapa enggak. Ya bisa lah. Ya udah yuk kita siapkan barang-barang kita, biar kita turun.” jawabku senyum. “Oke deh bang” jawab Wika sambil memainkan matanya.
Cerpen Karangan: Asmara Dewo
Facebook: Kemauan Yang Lurus

Usaha Dan Kerja Kerasku

Usaha Dan Kerja Kerasku

Pada suatu pagi yang cerah dimana matahari tersenyum manis memancarkan sinarnya.. yang penuh keagungan. Hidup seorang anak yang bernama patrio dimana.. dia adalah anak sekolah yang masih duduk di sekolah dasar bina karya kelas dua..
Diawal kisahnya di pagi yang cerah ini, dia akan berangkat sekolah, tak lama, sesampainya di sekolah tak diduga bel pun sudah berbunyi suara teeeeet…!! Tanda pelajaran mau dimulai maka ia pun segera masuk ke kelas. Suasana kelas yang gaduh dan siswa banyak yang antusias karena dimana pelajaran pertama adalah pelajaran matematika yang mana pelajaran ini sangat asing bagi patrio, dia tak begitu jago dengan pelajaran tersebut… kecuali teman yang salah satunya yang bernama mitra dia sangat suka dengan pelajaran yang satu ini. akhirnya semua siswa pun mempersiapkan materi pertama yaitu dengan materi perkalian dan pembagian… Patrio pun berfikir.. “haduuuhhh bisa nggak ya aku nanti dengan pelajaran yang satu ini…”.
Akhirnya Ibu guru pun datang dan segera memulai pelajaran materi ini… Dan semua yang ada di fikiran patrio tadi pun terjawab.. bahwa benar patrio tidak bisa mengikuti pelajaran ini dengan baik kecuali anak-anak yang lain sangat enjoy dan rileks menikmati pelajaran ini..
Dan patrio pun hanya diam termenung.. sampai akhirnya di penghujung materi ini. suatu ketika… “Bagaimana anak-anak sudah paham?”, Tanya ibu guru..
“Sudah buu!!” Jawab siswa, kecuali patrio hanya diam dan merasa kebingungan, “yaa ampuun gimana ini aku kan belum paham betul dengan materi ini kalau aku Tanya nanti takut ditertawai teman-teman masa kayak gitu aja enggak bisa!” Pikir patrio, dan hari itu hari pertama patrio yang menjadi suatu pikiran baginya.
Hingga suatu malam tiba.. patrio pun mencoba memahaminya sendiri tetapi tetap saja enggak bisa.. pada akhirnya patrio pun menemui ibunya.. “Ibu apakah ibu bisa mengajariku tentang materi ini…?” Tanya patrio “coba ibu lihat, oooooo ini Materi tentang perkalian ini mudah nak… insyaallah ibu bisa nak!” Jawab ibu patrio… “alhamdulilah ibu aja bisa masa aku yang masih sekolah enggak bisa!!, seharusnya aku lebih bisa dari ibu..” Gumam patrio dalam hatinya..
Dan akhirnya ibu patrio menjelaskan dengan detail dan rinci.. bagaimana cara memperkalikan suatu bilangan, angka ratusan atau pun desimal.. tetapi ya ampuuun patrio heran dan bingung dia kira cara ibunya menjelaskan berbeda dengan penjelasan ibu gurunya tadi tapi sama persis enggak ada bedanya. “Di akhir penjelasan gimana nak.. paham belum?”, tanya ibu patrio.
“Belum Bu!” Jawab patrio “ya allah nak… Dari tadi apa yang kamu perhatikan…!!!” Dengan sedikit jengkel ibu patrio membentak patrio,
“ya allah mengapa aku masih saja tetep enggak bisa…!” pikir patrio dalam hatinya.
Akhirnya ibu patrio menjelaskan sekali lagi, kali ini ibu patrio menyuruh patrio memperhatikan dengan betul dan serius.. dan akhirnya ibu patrio selesai menjelaskan dan memberi patrio sepucuk soal dan patrio mengerjakan dengan bimbingan ibunya.. tiba-tiba patrio salah mengerjakan, diluar pikiran patrio, Ibu patrio berkata dan memarahinya “Dasar Bodoh.. dari seribu penjelasan ibu tadi… apa yang kamu peroleh.. kamu enggak dapat apa-apa dasar anak cengoh.. jadi anak jangan bodoh-bodoh!!!” kata-kata keji yang keluar dari mulut ibu patrio membuat patrio menangis! dan tidak bisa berkata apa-apa, “kenapa nangis segala apa yang kamu tangisi, ngerjain kayak gini aja kamu enggak bisa nangis”. Bentak ibu patrio. Dan patrio pun semakin menangis meneteskan air mata dalam hati patrio pun berkata.. “ya.. allah berikanlah hambamu kesabaran dan kemudahan, aku memang anak bodoh!!”
Sampai akhirnya patrio pun sadar dari kata-kata keji yang keluar dari mulut ibunya tersebut… untuk terus belajar terutama dam belajar berhitung matematika.. yang membuat patrio menjadi anak bodoh di mata ibunya…
Sampai ulangan semester satu tiba… ini merupakan kesempatan utama patrio untuk bisa berupaya dan bekerja keras untuk memperoleh nilai yang baik dan memuaskan.. akhirnya patrio belajar dengan tekun. Setelah dua minggu kemudian nila raport patrio pun keluar.. dan dia pun melihat nilainya yang ternyata.. ooh astaaggaaa!!! patrio pun terkejut ternyata upayanya tidak berhasil, nilainya pun jelek, sampai ibunya pun melihat nilai tersebut.. “Ya allah nilai apaan ini..” saat itu juga kembali ibu patrio.. memarahi patrio dan membentaknya.. sampai sempat mengeluarkan kata-kata keji.. dan menyakitkan lagi patrio pun menangis..
“Mengapa aku selalu mendapat nilai yang buruk dan jelek, ya allah.. apa lagi nilai matematika yang amat buruk yaitu 55. sangat rendah, oh tidak!! hancur hidupku..!” pikir patrio, akhirnya dari kesalahan tersebut patrio sadar dan dia terus berupaya dan beranji akan belajar terus tanpa kenal lelah, tak kenal bermain, sempat ada orang yang bilang “Hey jangan… terus-terusan belajar.. orang kok isinya Cuma belajar aja..!!!”
Patrio pun tak peduli.. sampai akhirnya kerja keras dan usaha patrio pun membuahkan hasil ketika semester dua.. dimana nilai matematika yang semula jelek berbuah menjadi 77 bahkan.. patrio mendapat juara dua yang semula “No juara” sungguh Luar biasaa… Dan tak lupa patrio bersyukur kepada tuhan dan berterima kasih kepada ibunya yang mengajarinya… sampai tak kenal lelah.
Semua ini berasal dari tekad patrio yang terus-menerus.. bekerja keras dan selalu berusaha. Serta selalu semangat. Tanpa itu hal bodoh bisa patrio raih…
Akhirnya hingga kelas enam sekolah dasar, Patrio selalu mendapat juara terkadang mendapat juara dua, tiga dan selalu mendapat nilai sempurna.

Cerpen Karangan: Aldi Masda
Facebook: aldikusuamasda[-at-]yahoo.co.id
nama: aldi masda kusuma
alamat: jl. sidomakmur babadan ponorogo

Selasa, 01 Juli 2014

CUKUP SATU SAJA

CUKUP SATU SAJA
Karya Kamal Ridho Al Khudry
Cukup Satu Saja
Kerang putih ini kugenggam lebih erat. Dingin yang dihasilkan ombak senja kali ini berhasil dikalahkan oleh kehangatan kerang yang aku genggam. Dengan mesra, pasir kuning khas pantai yang disapu ombak membisikkan sebuah mantera keajaiban yang mampu membuat hatiku merinding. Celanaku nyaris basah secara sempurna karena dicium buih pantai yang kian pasang. Untungnya, bajuku hanya tertetesi percikan muntah laut secara menyebar yang berguna untuk mengurangi aura kedinginan yang kian mencekam.

Mataku terpejam, seakan menolak cahaya senja yang kian merunduk tunduk kepada titah Sang Pengawal kehidupan. Kacamataku berembun, rambut basahku yang mulai mengering terlukai lagi oleh semprotan alami dan kemesraan air laut. Pikiranku melayang tak menentu, mencari sesuatu yang bisa membuatku tenang dan bahagia tanpa harus memedulikan sekitar. Ingatanku jatuh ke satu titik pencerahan yang membuat hidupku lebih bermakna.
Celanaku telah berganti kulit dari merah menjadi kecokelatan karena kotor. Kemeja putihku semakin kumal. Tak pantas disandingkan dengan orang lain yang mengenakan pakaian serba bersih tanpa campur tangan keringat dan polusi udara sebagai saksi atas perjuangan dalam kehidupan.

Aku tak memakai tas, sebagaimana orang lain yang mengenakan tas mahal dan bermerk hingga memamerkannya kepada teman sebangkunya atau teman sepermainan lainnya. Tas bututku hanyalah sekantung plastik merah jumbo yang berjasa telah menampung satu buku dan pinsilku, lengkap dengan karet gelang sebagai penghapusnya. Sebagai alas untuk menutupi sobekan plastik yang kian membesar, koran-koran yang hendak aku jual sedikit membantu agar perlengkapan belajar istimewaku tidak jatuh.

Jijik melihat keadaan fisik dan pakaian yang aku kenakan, tak ada satu orang pun teman sekelasku yang mau berabung dan menyapa diriku. Bahkan, setelah enam tahun aku bertahan untuk sekolah di sini pun, tak ada seorang guru yang mau bicara dan mengasihaniku. Aku memang tidak ingin dikasihani. Menurutku, orang yang dikasihani ialah orang yang malas dan tidak ada gunanya lagi di dunia ini. hanya saja, pikirku, tak ada seorang ‘manusia’ pun yang mau berempati melihat keadaanku. Tetapi, walau demikian aku masih patut bersyukur karena berkat nilai yang aku raih nyaris selalu sempurna, aku tetap bertahan dan bisa belajar layaknya anak-anak ‘sempurna’ lainnya.

Aku, orang yang tidak terkenal, namun semua orang mengenalku dengan kekumalan dan ketidakrapian diriku yang selalu merasa tidak betah jika harus berlama-lama berada di sekolah. Bukan hanya karena lingkungan sekitar yang selalu mengolok-olok diriku dengan cacian dan umpatan pedas, tetapi lebih karena pikiranku tidak tenang tentang nasib koran-koranku kelak jika tidak segera diedarkan di pasar demi mendapatkan satu dua orang ‘manusia’ baik yang mau membeli koran busukku.

Sering aku merenung, namun tetap tidak mengeluarkan keluhanku kepada Tuhan. Kupikir, walau bagaimana pun Tuhan tetap sayang kepadaku dengan memberikan kehidupan walau hanya sebatas seorang yatim piatu. Aku sendiri tidak mengenal kedua orang tuaku. Tak ada yang tahu orang tuaku. Menurut tetangga ‘komplek’ ku, aku ditemukan dalam keadaan menangis dan tergeletak begitu saja di tengah-tengah kerumunan perumahan megah tetanggaku. Tak ada yang tahu identitasku. Bahkan, tak ada yang sudi mengambilku sebagai seorang anak. Mereka hanya membiarkanku tertidur di tempat aku ditemukan dengan hanya memberikan pelayanan istimewa yang cukup mengganjal perutku, hingga kini. Mungkin itu sebabnya aku dinamakan Baladungsai.
“Dungsai!” begitu sapaan mesraku yang pertama kali diikrarkan guru kesenian suatu ketika, “Apa cita-citamu kelak?” lanjutnya. Sontak aku berdiri dengan pikiran yang masih dalam keadaan bingung.
“Dokter, Bu!” jawabku mantap. Seketika seisi ruangan ramai oleh tertawaan kawan-kawan sekelas. Mereka mengumpat dan meledekku. Entah berapa banyak umpatan dan ledekkan mereka yang aku dengar. Yang jelas, telingaku hampir robek mendengar semua hinaan yang ditujukan khusus kepadaku, si Anak Koran.
“Hai Dungsai, kamu tidak pantas menjadi seorang dokter. Lebih bijak kau pilih jalan pintas, menjadi pengusaha koran atau bunuh diri! Ahahaha…” sahut Gerhana, sang ketua kelas yang langsung disusul teriakkan dan komentar dari teman-teman lainnya. Guruku hanya tersenyum menutupi bibir tebalnya.
Kala itu, jika aku bisa ingin rasanya aku menangis sejadi-jadinya. Mengapa aku dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu? Mengapa aku dilahirkan di tengah-tengah komplek mewah dengan bangunan rumah dari Koran mentah? Ribuan pertanyaan lainnya terus aku lontarkan kepada pikiran kalutku. Namun, seketika teriakkan dan umpatan kawan-kawan sekelasku hilang bak disapu ombak saat seorang siswi melemparkan bukunya ke papan tulis dan berteriak, “Diam!”

Mata guruku melotot di balik kacamata bundarnya. Hidung peseknya dimekarkan seakan menahan marah. Alisnya di angkat dan bibir tebalnya manyun. Wajah hitamnya memerah dan sontak ia berdiri dan memukul meja sekeras ia mampu.
“Nomilae, apa yang kamu lakukan?” suaranya menggema memenuhi seisi kelas. Kawan-kawanku menunduk, tak sanggup melihat wajah guruku yang nyaris sama seperti ibu tiri Bawang Putih.
“Seharusnya saya yang bertanya, apa yang kawan-kawan lakukan? Mengapa mereka mentertawakan cita-cita sahabat kita? Tak ada salahnya, kan, bila Dungsai mempunyai cita-cita tinggi seperti kita?” entah Nomilae mendapat kekuatan dari mana untuk mengatakan hal seperti itu.
“Kita memang berhak mempunyai cita-cita tinggi. Tetapi, harus sesuai dengan kondisi sosial kita!” sergah guruku membantah argumen Nomilae.
“Tapi…”
“Cukup Nomilae!” guruku marah besar. Tak mau urusannya menjadi panjang, ia menyeretku untuk keluar meninggalkan kelas. Tanpa ampun!
“Hey Nomilae, tunggu! Aku masih ingin belajar,” aku mencoba menahan langkahku dari seretan Nomilae.
“Untuk apa kamu belajar jika lingkungan sekitar tidak mendukungmu? Bukankah selama ini kau telah belajar banyak hal tanpa guru?” Nomilae terus berjalan tanpa melirik ke arahku.
“Tidak. Aku sama sekali tidak belajar selain di sekolah,” Sanggahku.
“Lalu, mengapa kamu pintar? Mengapa cita-citamu ingin menjadi seorang dokter?”
“Aku hanya sering membaca koran sebelum akhirnya aku jual”
“Nah, itulah yang membuatmu bisa belajar tanpa seorang guru”
“Tidak, guruku mengajarkan aku membaca”
“Lalu, apakah guru yang mengajarkanmu makan? Apakah guru yang mengajarkanmu untuk terus hidup? Apa kamu hidup atas bantuan guru?”
“Tidak, aku dibantu oleh Tuhan”
“Itu dia, guru itu tidak ada bagimu. Kau orang yang sangat luar biasa yang mampu berinteraksi langsung dengan Tuhan. Jadi, kau tidak membutuhkan sekolah ini. pergilah, merantaulah, carilah orang yang mampu membawamu mengenal lebih dekat akan penyelamatmu. Kau akan mendapatkan apa yang kau cita-citakan jika kau pergi dari sini,” kata-kata terakhirnya membingungkanku.
Matahari sudah hampir tenggelam seutuhnya, langit merekah berwarna merah yang tersebar di lautan angkasa yang luas. Hanya sebentar aku melirik keadaan sekitar. Kacamataku yang berembun sudah mulai mengering, aku kembali terpejam dan meneruskan perjalanan hidupku demi mengetahui jati diriku yang sesungguhnya.

Perutku mulai terasa lapar, sudah seharian penuh aku merantau. Masih tetap memakai celana merah yang kecokelatan. Hanya saja, bajuku kini telah berganti menjadi kaos pemberian calon anggota dewan yang pasarkan secara gratis ke setiap penduduk desa. Termasuk aku. Mungkin, kaos tipis yang kebesaran inilah yang merupakan kaos istimewa dan paling berharga bagiku setelah kemeja putih kebanggaanku. Bukan karena bagusnya baju itu, melainkan karena memang hanya dua baju itulah yang aku punya.

Perutku sudah tidak bisa diajak untuk negosiasi lagi. Aku sudah sangat nelangsa membawa perut butut yang terus merintih meminta sumbangan amal kebaikan. Tetapi sungguh, tak ada satupun barang yang bisa aku makan. Bahkan, di bak-bak tempat sampah pun sudah tidak tersedia lagi makanan enak yang siap aku santap demi menebus amal kebaikan untuk perut bututku.

Seiring memuncaknya kemarahan perutku yang sudah tidak dapat menahan lapar, pikiran jahat rupanya mampu merasukiku dan menundukkan akal sehatku. Terbersit dipikiranku untuk menyopet makanan seorang perempuan tua yang baru saja keluar dari sebuah minimarket. Tanpa berpikir panjang, kegilaanku menjadi karena memang perutku terus memberontak dan memaksaku untuk melakukan hal gila itu.
Aku berlari dengan kecepatan tinggi menuju perempuan itu dan sengaja menabraknya. Selagi perempuan tua itu menggertu, kurampas plastik yang ia pegang dan kembali bangkit lalu berlari pergi meninggalkannya yang masih berusaha untuk berdiri. Menyadari barangnya ada yang hilang, tahulah ia bahwa aku yang mengambilnya. Segera saja ia berteriak sambil berlari mencoba mengejarku, “Maliiiiing!” teriaknya.

Sontak orang-orang yang dilewatinya kaget mendengar teriakan itu. Seakan dikomando, mereka berlari mengejar dan mencoba mengepungku. Aku ketakutan dan berusaha berlari sekencang yang aku bisa. Dalam hati aku berdoa kepada Tuhan supaya Dia menyelamatkanku. Sialnya, aku berlari ke arah perumahan penduduk. Semakin banyaklah orang yang mengejarku hingga membuatku semakin ketakutan. Aku terus berlari, namun kejaran orang-orang dewasa itu mampu mengalahkanku hingga aku tertangkap. Tanpa ampun aku dikeroyok habis-habisan. Bajuku koyak, wajahku memar hingga diriku tak sadarkan diri.

Kubuka mata dan melihat ke sekeliling, gelap. Dinginnya udara pantai merasuki diriku. Kali ini, genggamanku kepada kerang putih ini tak dapat menghilangkan keganasan malam dan dinginnya yang hampir memuncak. Namun, aku tak menyerah dan tetap duduk pada posisi semula. Kini, semua pakaianku basah secara sempurna. Rambutku seakan enggan kering dan basah oleh percikan ombak yang kian membanjiri tepi pantai. Kacamataku yang kering kembali dihiasi embun, semakin tebal. Kupejamkan kembali mataku di bawah langit malam ini dan tersadar saat seorang lelaki dengan suara lembut membangunkanku.
“De,” sapanya pelan sembari menggoyangkan tubuhku yang tengah tertidur di pojok ruangan yang gelap dan kotor. Aku terjaga dari tidurku, namun mataku masih enggan terbuka. Kupaksakan untuk membuka mata demi mengetahui siapa sosok lelaki yang menyapaku.
“Kamu kenapa bisa berada di tempat ini?” tanyanya sejurus kemudian setelah aku terbangun dan mencoba duduk. Sekujur badanku terasa sangat sakit jika digerakkan. Aku keheranan dan mengerutkan kening mendengar pertanyaan lelaki itu, “Dimana?” tanyaku kepadanya. Sedikit heran, baju kami sama. Berwarna biru tua dan kebesaran. Tak lupa, dengan jelas tertulis sebuah kata mengerikan yang dicetak tebal dan dengan huruf kapital, TAHANAN.
“Aku berada di penjara?” tanyaku heran. Lelaki itu mengangguk.
“Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?” nampaknya ia merasa lebih heran melihat seorang bocah masuk penjara.
“Aku menyopet!” kataku singkat, sedikit murung.
“Kau menyopet? Bagaimana bisa? Kau seorang bocah,” katanya seakan menghinaku.
“Ya, maka dari itu aku tertangkap”
“Mengapa kau memilih untuk menyopet?”
“Aku lapar. Aku tak punya uang untuk membeli makanan. Semua bak sampah tidak menyediakan makanan. Otakku kalah oleh desakkan perutku yang memberontak ingin makan”
“Kasian sekali kau. Memangnya Bapak dan Ibumu kemana?”
“Aku tak punya orang tua”
“Lalu kau terlahir dari siapa?”
“Kata orang, aku terlahir dari alam. Aku ditemukan begitu saja di antara kerumunan rumah penduduk”
“Namamu siapa, bocah?”
“Baladungsai. Panggil saja aku Dungsai”
“Aku Malik Amrullah”
Dialah orang kedua yang mau berinteraksi denganku setelah Nomilae. Orangnya baik, sopan, tampan pula. Ia adalah seorang dokter, katanya. Tetapi yang aku herankan ialah kenapa ia berada di penjara? Bukankah tempat dokter itu di Rumah Sakit atau Apotek? Namun dengan keras kepala, ia tak mau membuka diri kenapa ia bisa dipenjara.

Akhirnya, dari dialah aku belajar banyak hal tentang ilmu kedokteran. Walau hanya bermodalkan imajinasi, aku merasa cukup mahir melakukan praktik di umurku yang baru saja menginjak 12 tahun ini. Hingga akhirnya aku bertekad bahwa hanya Malik yang akan menjadi guruku. Benar apa kata Nomilae, aku tak butuh guru. Cukup satu saja yang aku jadikan guru sebagai pemilik kepribadianku.

Lantas, istana besi ini menjadi saksi bisu bahwa aku tengah berlayar di gurun kedokteran. Hingga kini, aku berkelana dan membuat jejak pelayaran sampai aku terbangun di malam kelam dengan kerang yang tak lagi kugenggam. Selamat menyelam, malam!

THE END

Cipanas, 21 Februari 2013. 21:12 WIB
Oleh: Ahmad Kamal Ridho Al-Khudry
PROFIL PENULIS
Pengarang dengan nama pena tak jauh dari nama aslinya, yaitu Kamal Ridho Al Khudry ini lahir di Cipanas pada tanggal 20 Juli 1995. Sekarang ia sedang fokus untuk menghadapi Ujian Nasional 2013. Doakan ya! Cerpen pertamanya: Kutebus Cintamu dengan Doa sudah terlebih dahulu diterbitkan. Katanya banyak yang suka, lho! Makasih untuk para penyuka cerpen aku yang berguna untuk membangun cerpen berikutnya. Nomor telepon bisa dihubungi di: 085814043364. Adapun facebook: Kevin Ridho ElKhudry. Selamat Membaca dan semoga terhibur ^_^

 photo tyuuu_zpsc6ef6817.jpeg"/>" /> KPA photo 10169318_1490733947824313_8365615283135808455_n_zps90846386.jpg" /> Ame Mayday photo 20140502_110353_zpscef26929.jpg" /> gpmd photo 1012032_1446233695607672_1066147129_n_zps3f4d6c09.jpg" />  photo nbv_zpsc8429ade.jpg"/>" /> gpmd4 photo 1491_678730012152865_1221172235_n_zps4dfde858.jpg"/>" /> gpmd3 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin_zpsf038dc5f.jpg"/>" /> gpmd2 photo 1491_678730012152865_1221172235_n-Salin-Salin_zps3b3d0b92.jpg"/>" />  photo --9-98-89-98-967_zpsb0261f2e.jpeg"/>"/>" />